Search
Close this search box.

USWAH: Kesabaran Nabi Ayub dalam Menghadapi Ujian Hidup yang Berat (1)

Ilustrasi./dok./net.

Bagikan :

VISI.NEWS – Allah berfirma yang artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan dengan suatu ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali’.” (QS Al-Baqarah 155-156).

Dunia, tempat bagi manusia menjalani berbagai macam ujian dan cobaan dari Allah SWT. Sebagai orang yang beriman kepada-Nya, kita diperintahkan untuk senantiasa bersabar dan bertawakal selama menjalani ujian-ujian tersebut karena dengan kesabaran dan tawakal seluruh ujian atau cobaan dan musibah tersebut bisa dilalui dengan baik, membawa kebaikan, dan keberkahan.

Pada dasarnya Allah telah memberi ujian dan cobaan di setiap hambaNya sesuai porsinya masing-masing. Ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah di tiap manusia berbeda-beda.

Manusia harus berani menghadapi kesulitan dan tetap tabah dalam menghadapi cobaan dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai. Orang yang bersabar mencerminkan nilai keimanan yang kuat.

Kedudukan sabar dalam iman bagaikan kepala pada jasad dan tidak ada keimanan tanpa sabar sebagaimana jasad tidak akan berfungsi tanpa kepala.

Kesabaran tidaklah muncul dengan sendirinya, tetapi ia harus diusahakan dan dibiasakan agar menjadi sifat utama diri. Di sinilah dibutuhkan pengorbanan melawan keinginan hati dan perjuangan menahan nafsu diri.

Sementara itu, tawakal merupakan pelengkap sejati sifat sabar. Tawakal merupakan kerja hati memasrahkan seluruh ujian dan cobaan kepada kehendak-Nya.

Tawakal berkaitan erat dengan keridaan kita menjadikan Allah sebagai pelindung dalam kehidupan. Kehadiran tawakal dalam diri akan menghadirkan kemudahan mengatasi persoalan. Karena kita benar-benar mengharap pertolongan dan kemudahan hanya dari Allah SWT.

Baca Juga :  Candaan Prabowo ke Jumhur Warnai Peresmian Museum Marsinah

Tersebutlah sebuah cerita kisah Nabi, yaitu Nabi Ayub. Nabi Ayub merupakan seseorang yang sangat kaya. Nabi Ayub memiliki hewan ternak, budak, dan juga tanah. Nabi Ayub juga dikaruniai seorang istri dan anak-anak yang baik dan salelah.

Namun, pada suatu ketika, atas izin Allah kawanan iblis menghancurkan dan meluluhlantakkan kekayaan Nabi Ayub. Hewan-hewan ternak mati satu per satu sehingga habis tak tersisa, kemudian disusul ladang-ladang dan kebun-kebun tanamannya yang rusak menjadi kering dan rumah yang terbakar habis dilalap api.

Dalam waktu yang sangat singkat Nabi Ayub yang kaya-raya tiba-tiba menjadi miskin tidak memiliki apa pun selain hatinya yang penuh iman dan takwa serta jiwanya yang sabar dan tawakal.

Ujian demi ujian terus menimpanya. Dimulai dari anak-anaknya yang meninggal, hartanya habis tak bersisa, ternaknya binasa, sampai ia sendiri terkena penyakit yang sangat sulit disembuhkan.

Seluruh badannya digerogoti, kecuali lisan yang ia gunakan untuk berzikir. Hari-hari berlalu, kerabat dan sanak saudara mulai meninggalkan Nabi Ayub. Tinggalah seorang istri setia yang menemani dan mengurus semua keperluan Nabi Ayub.

Penyakit Nabi Ayub semakin lama semakin parah. Sekalipun demikian, Nabi Ayub tetap tabah dan menerimanya sebagai cobaan dari Allah SWT. Keimanannya kepada Allah SWT tidak berkurang sedikit pun, justru beliau semakin rajin beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Penyakit Nabi Ayub sangat parah sehingga ia hanya dapat berbaring. Semakin lama kondisinya semakin memburuk. Penyakit ini ia derita sudah 18 tahun.

Selama beliau sakit, seluruh penduduk di sekitarnya mengasingkan dirinya. Hanya istrinya yang mengurus segala keperluan Nabi Ayub. Namun, iblis selalu menghasut istri Nabi Ayub yang bernama Rahmah.(bersambung)/@fen/sumber:mgt.unida.gontor.ac.id

Baca Berita Menarik Lainnya :