Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis Transformasi Indonesia
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Ketegangan geopolitik meningkat. Konflik bersenjata di berbagai kawasan menimbulkan kecemasan global. Ambisi negara-negara besar saling bertabrakan, dan rakyatlah yang paling sering menjadi korban.
Di dalam negeri, kegelisahan juga terasa. Bukan karena perang terbuka, melainkan karena luka yang pelan namun dalam: ketidakpercayaan publik, kebijakan yang terasa jauh dari rakyat, serta pemimpin yang seolah semakin nyaman dalam lingkar kekuasaan.
Di sinilah satu kata menjadi penting untuk direnungkan: ambisi. Ambisi pada dasarnya tidak salah. Tanpa ambisi, tidak ada kemajuan. Tanpa keinginan kuat, tidak ada perubahan. Tetapi ambisi yang tidak diimbangi kebijaksanaan akan berubah menjadi kerakusan. Dan kerakusan, jika dibiarkan, akan melumpuhkan nurani.
Ambisi kekuasaan sering kali berawal dari niat baik. Ingin membangun. Ingin memperbaiki. Ingin membawa perubahan. Namun ketika kursi sudah diduduki terlalu lama, ketika pujian lebih sering terdengar daripada kritik, seseorang bisa mengalami penyakit yang sunyi: lupa akan batas. Lupa bahwa usia terus berjalan. Lupa bahwa energi tidak selamanya prima. Lupa bahwa kepemimpinan bukan hak milik, melainkan amanah sementara.
Ketika mata, telinga, dan hati tertutup terhadap realitas, maka yang tersisa hanyalah lingkaran kecil yang saling menguatkan ilusi. Rakyat yang mencibir dianggap tidak mengerti. Kritik dianggap gangguan. Aspirasi dianggap ancaman. Padahal dalam kepemimpinan yang sehat, suara berbeda adalah alarm keselamatan, bukan sirene perlawanan.
Ironisnya, negeri ini tidak kekurangan anak muda cerdas. Di berbagai bidang teknologi, pendidikan, kewirausahaan, sosial—muncul generasi yang brilian, inovatif, dan visioner. Mereka memahami zaman digital. Mereka berpikir global. Mereka terbiasa bekerja cepat dan adaptif. Yang mereka butuhkan bukan sekadar pujian, tetapi kesempatan. Namun kesempatan sering kali tertutup oleh ambisi yang enggan memberi ruang. Panggung kekuasaan dipertahankan, bahkan ketika usia dan stamina sudah tidak lagi optimal. Seolah-olah tanpa posisi itu, hidup kehilangan makna.
Padahal estafet kepemimpinan adalah hukum alam. Yang muda suatu saat akan menggantikan yang tua. Yang tua, pada waktunya, harus bersedia melepas. Melepas bukan berarti kalah. Melepas adalah tanda kedewasaan.
Dalam budaya kita, ada satu kata indah: logowo. Menerima dengan lapang dada. Ikhlas melepas ketika saatnya tiba. Tidak memaksakan diri ketika tenaga mulai terbatas. Logowo bukan kelemahan. Ia adalah puncak kebijaksanaan. Seorang pemimpin sejati tidak diukur dari berapa lama ia berkuasa, tetapi dari bagaimana ia menyiapkan penerus. Ia sadar bahwa masa depan bangsa tidak boleh bergantung pada satu nama atau satu generasi saja. Ambisi yang mulia adalah ambisi membangun sistem yang kuat, bukan mempertahankan kursi selama mungkin.
Pendidikan dan Kesadaran Estafet
Sebagai guru dan praktisi pendidikan, penulis percaya bahwa kepemimpinan bukan hanya soal politik, tetapi soal karakter. Di ruang kelas, kita mengajarkan pentingnya kolaborasi, regenerasi, dan kerja tim. Mengapa nilai itu tidak diterapkan dalam kepemimpinan nasional?
Setiap generasi memiliki tantangannya sendiri. Generasi tua membawa pengalaman dan kebijaksanaan. Generasi muda membawa energi dan inovasi. Keduanya harus berjalan bersama dalam masa transisi yang sehat. Namun jika generasi tua enggan memberi ruang, maka potensi generasi muda akan terhambat. Frustrasi tumbuh. Kepercayaan memudar. Dan negeri kehilangan momentum.
Ada satu pertanyaan mendasar yang sering terlupakan dalam pusaran kekuasaan: apa yang sedang kita kumpulkan? Harta? Pengaruh? Atau kebaikan?
Secara alamiah, setiap manusia menuju akhir kehidupannya. Kekuasaan tidak akan dibawa. Jabatan tidak akan ikut. Yang tersisa hanyalah jejak apakah ia membawa manfaat atau justru meninggalkan luka. Bagi generasi tua, ini adalah momen refleksi. Ambisi boleh ada, tetapi harus diukur dengan kekuatan dan kesadaran. Jangan sampai ambisi justru mengikis makna hidup. Sementara generasi muda masih memiliki perjalanan panjang. Mereka memerlukan ruang untuk belajar memimpin, membuat kesalahan, memperbaiki diri, dan tumbuh.
Mari kita merenung. Mengingatkan bahwa kekuasaan adalah alat, bukan tujuan. Bahwa ambisi harus selalu dibersihkan dengan niat yang lurus. Negeri ini membutuhkan penyegaran. Bukan sekadar perubahan wajah, tetapi perubahan cara berpikir. Pemimpin yang memberi ruang regenerasi menunjukkan keberanian moral. Ia percaya bahwa bangsa ini lebih besar dari dirinya.
Ambisi yang sehat adalah ambisi yang tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur. Ambisi yang mulia adalah ambisi yang tidak takut berbagi panggung. Sudah saatnya generasi tua memberikan estafet dengan ikhlas. Bukan karena terpaksa, tetapi karena sadar bahwa keberlanjutan bangsa lebih penting daripada gengsi pribadi.
Kepemimpinan adalah perjalanan, bukan kepemilikan. Ia harus berpindah tangan agar tetap segar. Agar tetap relevan. Agar tetap hidup. Jika hari ini dunia terasa tidak baik-baik saja, mungkin salah satu jawabannya adalah keberanian untuk memperbarui kepemimpinan. Memberi ruang bagi yang muda, tanpa mengabaikan kebijaksanaan yang tua.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengelola ambisinya bukan untuk mempertahankan kekuasaan, tetapi untuk memastikan masa depan yang lebih adil, lebih segar, dan lebih bermartabat.*