Oleh Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
“BERBOHONGLAH sebelum dilarang!” Kalimat yang seolah mengajak orang untuk berdusta. Padahal justru sebaliknya. Ia adalah bentuk satire sindiran pahit terhadap keadaan negeri yang semakin hari terasa semakin jauh dari kejujuran.
Hari ini, kita seperti sedang hidup di zaman yang terbalik. Yang jujur dianggap mengganggu. Yang kritis dianggap ancaman. Yang mengingatkan malah disingkirkan. Sementara mereka yang pandai memainkan kata-kata, memoles janji, dan membungkus kepentingan dengan retorika justru berdiri paling depan.
Setiap musim pemilihan, rakyat selalu disuguhi harapan. Pidato mengalir indah. Janji ditata rapi. Rakyat diyakinkan bahwa perubahan akan datang. Kemiskinan akan diatasi. Pendidikan akan diperbaiki. Guru akan disejahterakan. Keadilan akan ditegakkan. Semua terdengar sangat meyakinkan. Namun anehnya, setelah kursi kekuasaan berhasil diraih, banyak janji itu perlahan menguap. Yang dulu lantang membela rakyat, tiba-tiba sibuk membela kekuasaan. Yang dulu terlihat sederhana, berubah akrab dengan kemewahan. Yang dulu mengaku mendengar suara rakyat, kini justru alergi terhadap kritik.
Ada satu hal yang semakin langka di negeri ini: rasa malu. Dulu, seseorang yang ketahuan berbohong akan merasa malu. Kini? Berbohong seolah menjadi bagian dari strategi. Data bisa dipoles. Fakta bisa dibelokkan. Narasi bisa dimainkan. Dan yang lebih menyedihkan, semua itu dilakukan secara terbuka, seakan rakyat tidak mampu berpikir. Padahal rakyat melihat. Rakyat mendengar. Rakyat hanya sering kali lelah untuk bersuara.
Hari ini, kejujuran terasa seperti barang langka. Ia tidak lagi menjadi standar utama dalam memilih pemimpin. Bahkan sering kali justru dianggap penghambat. Orang jujur dianggap terlalu lurus. Terlalu idealis. Sulit diajak “bekerja sama.” Maka jangan heran jika banyak posisi strategis akhirnya diisi bukan oleh mereka yang paling jujur, tetapi oleh mereka yang paling pandai menyesuaikan diri dengan kepentingan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika generasi muda mulai kehilangan ruang untuk berpikir bebas. Anak-anak muda yang: kritis, cerdas, berani berbicara, justru dicurigai. Mereka dianggap mengganggu stabilitas. Mereka dijungkirbalikkan. Mereka diintimidasi. Padahal sejarah bangsa ini menunjukkan bahwa perubahan selalu lahir dari keberanian anak muda. Namun tampaknya, sebagian pemimpin lebih nyaman dengan generasi yang diam daripada generasi yang berpikir.
Pendidikan yang Dipaksa Bodoh
Dan di sinilah tragedi terbesar itu terjadi: pendidikan perlahan dipaksa kehilangan daya kritisnya. Guru dijanjikan kesejahteraan. Gaji layak di atas UMR didengungkan. Namun realitas di lapangan masih jauh dari harapan.
Sementara itu, program demi program terus bermunculan. Sebagian besar terlihat megah di permukaan, tetapi miskin arah. Yang lebih ironis lagi, ada sekolah-sekolah yang justru kehilangan fungsinya. Bangunan pendidikan berubah menjadi koperasi atau fungsi lain yang jauh dari ruh pendidikan itu sendiri. Seolah-olah yang penting adalah: perut kenyang
bukan, kepala yang tercerahkann. Padahal bangsa besar tidak dibangun hanya dengan makanan. Bangsa besar dibangun dengan: ilmu karakter ndan keberanian berpikir
Tahun 2045 terus digaungkan sebagai momentum Indonesia Emas. Namun pertanyaannya: emas untuk siapa? Jika pendidikan terus diabaikan. Jika guru terus dipinggirkan. Jika kejujuran terus ditekan. Jika kecerdasan dianggap ancamah, maka jangan salahkan jika yang lahir bukan generasi emas. Melainkan generasi cemas. Generasi yang: takut berbicara, takut berbeda, takut jujur, dan akhirnya kehilangan keberanian untuk berpikir merdeka
Yang paling menyedihkan dari semua ini adalah kesan bahwa negara semakin sibuk dengan dunianya sendiri. Rakyat berbicara tentang kebutuhan hidup. Guru berbicara tentang pendidikan. Anak muda berbicara tentang masa depan. Namun kekuasaan sering kali sibuk dengan: pencitraan, kepentingan politik, dan strategi mempertahankan posisi. Akibatnya, hubungan antara rakyat dan pemimpin semakin jauh. Negara kehilangan kepekaan.
Dalam kondisi seperti ini, memperjuangkan kebenaran terasa seperti: menegakkan benang basah. Sulit, melelahkan, kadang membuat frustrasi. Namun bukan berarti harus berhenti. Karena jika semua orang memilih diam, maka kebohongan akan semakin nyaman berkuasa.
Tulisan ini hadir sebagai satire. “Berbohonglah sebelum dilarang!” Sebuah sindiran terhadap keadaan ketika kejujuran justru terasa asing. Namun justru karena keadaan semakin absurd, kita perlu menjaga akal sehat. Kita perlu tetap mengajarkan: kejujuran, keberanian, dan integritas terutama kepada generasi muda.
Harapan Itu Masih Ada
Meski negeri ini terasa semakin bising oleh kepentingan, harapan belum sepenuhnya hilang. Harapan itu masih ada: pada guru yang tetap mengajar dengan hati, pada anak muda yang tetap berani berpikir, serta pada masyarakat yang belum kehilangan nurani. Karena perubahan tidak selalu lahir dari kekuasaan. Kadang ia lahir dari ruang-ruang kecil: kelas sederhana, percakapan jujur, dan keberanian menjaga nilai
Bahaya terbesar sebuah bangsa bukan hanya korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan. Bahaya terbesar adalah ketika kebohongan mulai dianggap biasa. Ketika masyarakat terbiasa dibohongi. Ketika janji tidak lagi dipercaya. Ketika kejujuran dianggap mustahil. Karena di titik itulah sebuah bangsa perlahan kehilangan jiwanya.
Maka sebelum semuanya benar-benar terlambat, mungkin kita perlu kembali mengingat hal sederhana: bahwa negara tidak akan hancur karena terlalu banyak orang jujur. Negara justru runtuh ketika kebohongan dipelihara, kejujuran dibungkam, dan pendidikan dibiarkan kehilangan arah.
Dan jika suatu hari nanti kejujuran benar-benar menjadi barang langka, maka satire ini tidak lagi terdengar lucu. Karena saat itu, kita benar-benar sedang hidup di negeri yang: mengizinkan kebohongan dan mencurigai kebenaran.