Search
Close this search box.

VISI | Dewi Sartika, Guru dan Pahlawan : Lumbung Karakter Bangsa

Bagikan :

Oleh A. Rusdiana

  • Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung
  • Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat
  • Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur.
  • Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung
  • Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan 

SETIAP akhir tahun, bangsa ini seakan diajak menengok ke dalam cermin sejarahnya. Ada rangkaian momentum yang tidak berdiri sendiri, tetapi saling terhubung membentuk satu narasi besar tentang siapa kita dan ke mana arah masa depan Indonesia. Dari Hari Pahlawan (10 November), Hari Guru Nasional (29 November), Hari Lahir Dewi Sartika (4 Desember), hingga filosofi pendidikan Sunda cageur–bageur–bener–pinter–singer, dan terakhir Visi Pembangunan Jawa Barat melalui konsep Gapura Panca Waluya—kelimanya mengalir dalam satu garis lurus: penguatan karakter bangsa melalui pendidikan yang berakar pada nilai-nilai luhur dan semangat perjuangan.

Pertama, Hari Pahlawan: Tanggal 10 November tidak hanya mengingatkan kita pada pertempuran heroik di Surabaya, tetapi pada nilai-nilai perjuangan yang kini menjadi “energi masa depan”. Tema “Pahlawanku Teladanku: Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan” dan “Semangat Pahlawan, Energi Indonesia Maju” secara tegas mengundang masyarakat, terutama generasi muda, untuk tidak berhenti pada seremoni. Pesannya jelas: keberanian harus diterjemahkan dalam kerja nyata, ketangguhan harus berubah menjadi kontribusi, dan pengorbanan harus melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi bangsa.

Kedua, Hari Guru Nasional: Dua tema yang diusung “Guru Hebat, Indonesia Kuat” dan “Merawat Semesta Dengan Cinta” melengkapi makna Hari Pahlawan. Para guru adalah pahlawan dalam sunyinya kelas, yang menyalakan cahaya akal sekaligus menyiapkan peradaban. Pahlawan mengorbankan jiwa raga untuk kemerdekaan; guru mengorbankan waktu dan energi untuk mencerdaskan. Keduanya tidak terpisah. Guru adalah penerus estafet perjuangan para pahlawan melalui pendidikan.

Baca Juga :  Hari Jadi ke-385, Kang DS Tegaskan Transformasi dari Desa ke Daya Saing Global

Ketiga, Hari Lahir Dewi Sartika – Pahlawan dan Guru Bangsa: Tanggal 4 Desember menjadi pengingat bahwa dari tanah Pasundan lahir sosok yang menyatukan dua peran sekaligus: pejuang dan pendidik. Dewi Sartika menghadirkan “kemerdekaan akal” pada masa ketika perempuan bahkan tidak dianggap perlu untuk sekolah. Dengan mendirikan Sakola Istri pada 1904, beliau menolak kebodohan sebagai takdir. Kutipan legendarisnya“Hanya dengan pendidikan kita akan tumbuh menjadi suatu bangsa” bukan sekadar kata indah, tetapi filosofi perjuangan.

Lebih dari itu, gagasan “Kautamaan Istri” membuktikan kecerdasan beliau membaca masa depan. Bagi Dewi Sartika, perempuan adalah manajer kehidupan: pengelola ekonomi keluarga, penjaga kesehatan mental, dan guru pertama bagi generasi penerus. Konsep ini selaras dengan peran modern perempuan Indonesia hari ini, yang dituntut cakap, multitasking, dan berkarakter kuat.

Keempat, Filosofi Sunda: Cageur–Bageur–Bener–Pinter–Singer: Nilai-nilai ini bukan sekadar rangkaian kata, tetapi pedoman membentuk manusia paripurna. Cageur: sehat secara jasmani dan rohani. Bageur: baik akhlaknya. Bener: lurus dalam pikir dan tindak. Pinter: cerdas. Singer: cekatan dan mampu bertindak cepat.
Filosofi ini selaras dengan warisan Dewi Sartika dan menjadi pilar karakter masyarakat Jawa Barat. Moto ini merupakan ringkasan dari semangat Dewi Sartika dalam mendirikan sekolah perempuan pertamanya, Sekolah Istri (kemudian berganti nama menjadi Sekolah Kautamaan Istri), pada tahun 1904 di Bandung. Beliau ingin agar perempuan memiliki pengetahuan dan keterampilan agar dapat berkontribusi bagi keluarga dan masyarakat.

Kelima, Visi Pembangunan Jawa Barat-Gapura Panca Waluya: Inisiatif ini menghidupkan kembali semangat dasar pendidikan karakter Sunda. Gubernur Jawa Barat menegaskan bahwa generasi yang cageur-bageur-bener-pinter-singer adalah pondasi bagi Jabar Istimewa. Pendidikan karakter bukan sekadar pelajaran formal, tetapi proses pembentukan manusia yang siap menghadapi dunia, tanpa meninggalkan akar budaya. Pada titik ini, Dewi Sartika seperti hadir kembali dalam wajah pembangunan Jabar masa kini bahwa pendidikan adalah jalan menuju kemajuan.

Baca Juga :  Update! Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp16.000 per Gram

Benang Merah

Kelima momen tersebut pahlawan, guru, Dewi Sartika, nilai Sunda, dan visi pembangunan Jabar mengajarkan satu hal penting: karakter adalah inti dari bangsa yang ingin maju. Pahlawan memberi teladan keberanian, guru memberi arah intelektual, Dewi Sartika memberi fondasi literasi perempuan, nilai Sunda memberi kultur moral, sementara program pembangunan memberi ruang aktualisasi untuk generasi masa depan.

Momen-momen ini bukan rangkaian acak. Ia adalah kurikulum sejarah yang menegaskan bahwa bangsa hanya akan kuat jika setiap warganya memiliki kecerdasan, moralitas, dan keberanian untuk melanjutkan perjuangan.

Jika masa lalu memberikan teladan, maka masa kini menuntut kerja nyata. Dan masa depan Indonesia akan ditentukan oleh seberapa serius bangsa ini menghidupkan kembali semangat cageur-bageur-bener-pinter-singer dalam ruang keluarga, sekolah, komunitas, hingga pemerintahan.
Inilah warisan yang harus diteruskan: bangsa yang kuat dibangun oleh guru yang hebat, perempuan yang cakap, generasi yang berkarakter, dan rakyat yang meneruskan perjuangan para pahlawan dengan akal budi.***

Baca Berita Menarik Lainnya :