VISI | Ma’unah: Karomah, Ujian Bagi Para Aulia dan Kita

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga 

PARA AULIA, atau wali-wali Allah, mereka itu adalah manusia istimewa yang sudah mencapai maqom spiritual terbaik dari kalangan manusia biasa umumnya.

Hal ini karena mereka bisa memaksa nafsunya, untuk berada di bawah telapak kakinya, hingga injakan itu, membuat ia bisa lolos dari godaan iblis, setan, dan sebangsa jin, yang selalu mencari celah untuk meruntuhkan iman kita, dari pintu masuk mereka lewat celah mengakali nafsu manusia.

Basyiroh atau dibukanya tirai pintu hijab ke gaiban, yang ada pada manusia sebagai sekat
indrawi, terhadap alam gaib, hanya bisa dirasakan manusia tertentu yang taqwa, juhud, dan memiliki ke istiqomahan laku lampah baik.

Tirai kegaiban merupakan sesuatu yang umum, pemisah alam nyata indrawi, dengan alam asral berlapis lapis sekat, yang Allah terapkan sebagai pemisahnya untuk manusia biasa.

Adapun agar bisa memasuki ke gaibanNya, hanya manusia yang memang pilihananNya lah yang Allah tarik dengan kecintaanNya untuk bisa sampai di sana.

Yaa, maka manusia seperti itulah yang menjadi manusia terberkahi, istimewa, dan beruntung.

Karena Allah mengenalkan asma dan dzatnya, untuk manusia itu kenali, dengan catatan, akan langgeng, baik ma’unah atau karomah tersebut, jika si manusia itu, bisa membawa dirinya, lisannya, hatinya, untuk selalu husnudzon, berbaik sangka dengan semua sesamanya, apalagi kepada Allah.

Karena jika tidak…
Semua kegaiban, berupa ma’unah, atau karomah, akan Allah ambil kembali.

Dan Dia hilangkan dari diri kita semuanya, tak tersisa, hingga kita jadi manusia biasa kembali…jadi manusia normal.

Mengapa terjadi ?
Sebab kitanya telah abai, lengah, dan kembali membesarkan nafsu dasar manusia di diri kita, hingga ujian Allah itu tak kita sadari.

Baca Juga :  Media OutReach Newswire Meluncurkan Jaringan Distribusi Siaran Pers AS

Yang pada akhirnya, semua ke istimewaan yang kita telah Allah berikan, Dia cabut membali.

Ternyata tak mudah memegang amanah ke istimewaan dari pemberian Allah tersebut.

Itu sulit menjadi kekal.
Itu sulit menjadi bekal.

Untuk diingat, bisa jadi Allah beri titipan keistimewaan sementara itu, hanya untuk memperkenakanNya (introduction) saja, tak lebih untuk membuat kita berpikir, bahwa kegaiban pun menjadi urusanNya, selain mengurus alam nyata, dunia seisinya yang kita ketahui.

Ternyata, rengkuhan Allah, tidak kesembarangan orang yang Dia kehendaki, dan juga tidak kesetiap ahli agama, para kiai, atau ajengan, Allah membagikan keistimewaan itu.

Sebab, karunia Allah terbesar itu bisa manusia dapatkan, hingga Ia memberi kemampuan ma’unah, atau karomah, tentunya, dengan terlebih dahulu mengalami ujian, masuk pada proses pengodogan dan penyucian dirinya.

Siapapun manusia yang teruji, maka akan Allah berkahi dan beri petunjukNya.

Tentunya Allah akan menguji seseorang itu, dari ujian sikap mental karakternya dari mulai ia balita, sebelum aqil balig.
Perhatikan cerita para salihin, yang pada akhirnya menjadi wali.

Atau si orang tersebut, baik kita, maupun orang lain, ia menjalankan amaliah spiritualnya, dari mulai aqil baligh, dan berlangsung sampai puluhan tahun baru, baru Allah bukakan pintu kegaibanNya.

Namun selain itu, bisa lebih cepat juga prosesnya misalkan, kita merasakan Allah sedang menunjukan ke Maha KuasaanNya.

Sehingga bisa jadi karena itu, ada balutan rasa kasih sayang Allah untuk kita, hingga ia tarik ruh, bathiniah kita agar bisa bersamaNya, untuk selalu bersamaNya.

Maka tak aneh bila Ia menjadikan, mata kita sebagai penglihatanNya, telinga kita sebagai pendengaranNya, dan lisan kita sebagai pengantar kata dariNya, lalu, pikiran kitapun menjadi tranmisi pemikiranNya. Subhanaalloh.

Semua keluarbiasaan, atau khorikulil adat itu, atau di luar adat kebiasaan, bisa terjadi dan itu dilakukan manusia biasa karena atas seizinNya.

Baca Juga :  Hukuman Doni Salmanan Dipeberat Jadi 8 Tahun Penjara dan Asetnya Disita oleh Negara, Ini Isi Lengkap Surat Putusan Pengadilannya

Jika sudah seperti ini, Allah liputi diri kita dengan keberkahan karuniaNya, dan semua akan kaget.

Sebab, ucapan kita telah menjadi ucapanNya, yang kita sendiripun kaget, bengong, terperanjat.

Masa kita yang bodoh ini, tiba-tiba, bisa bicara di luar keilmuan kita, kepahaman kita, bicaranya berbobot dan penuh hikmah yang mengetarkan hati, hingga langsung kena menancap di relung paling dalam hati pendengarnya.

Ingat, itu sesunguhnya bukan diri kita yang bicara, dan kita merasakannya sendiri, lidah ko jadi lancar, bicara sangat dalam dan langsung menyentuh hati pendengar, hingga kita yang bodoh ini, seakan jadi pintar, jadi ahli, jadi hebat dalam seketika…dan itulah kemaha besarannya, yang telah memberi kita ma’unah atau karomah.

Insyaallah Allah akan terus menilai diri kita.
Setiap hari dalam kehidupan kita, diri kita diuji.

Maka selalulah berbaik sangka dari kita kepada sang pemilik alam ini.

Mari temukan kesejatian diri kita.
Berkiprahlah hebat buat umat dan warnailah dengan kebermanfaatan diri kita.

Berkiprahlah dengan kiprah luar biasa yang akan dicatat oleh sejarah dengan apa yang bisa kita lakukan.

Dan itu tentunya akan jadi bagian yang bisa jadi kebanggaan anak cucu, turunan kita ke depannya.

Namun jangan sampai terbalik..
Moyang, atau karuhun kita telah melakukan kiprah besar dan luar biasa bagi umat saat ia masih hidup, hingga Allah karuniakan mereka kedudukan mulia menjadi para kesatriaNya sebagai wali, aulianya Allah.

Tapi kini, anak cucunya hanya jadi pendongeng dari kehebatan para leluhurnya saja, tidak mau berperih malah bermewah-mewah dan mengumbar nafsu lewat lisannya, dengan banyak mencaci.

Sesungguhnya kelas wali itu sangat apik dalam menjaga hati dan lisan, tidak akan sompral dengan ucapannya dan prasangkanya.
Dan kelas pendongeng bukan tujuan yang kita cari.

Baca Juga :  Pasar Banjaran Sudah Sesuai RPJMD, Ini Lima Tuntutan Pedagang

Kita harus bisa melakukan hal-hal yang luarbiasa melebihi para buyut-buyut kita, yang hidup di masa lalu, hingga bisa Allah percaya kembali diri kita ini, untuk jadi para penerus dari para wali-wali besar di tatar tanah Jawa, dan Pasundan, insyaallah.

Alhamdulillah.

  • Bambang Melga Suprayogi, M.Sn., Penulis Nakal, Ketua LTN NU Kab. Bandung

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Cara Mempercepat Proses Pengambilan Bagasi Setelah Penerbangan

Sab Jun 22 , 2024
Silahkan bagikanVISI.NEWS | BANDUNG – Setelah penerbangan panjang, penumpang seringkali harus menunggu cukup lama hingga bagasi muncul di conveyor tempat pengambilan. Namun, ada beberapa cara agar bagasi Anda keluar lebih cepat: 1. Check-in Terakhir: Jika memungkinkan, lakukan check-in selambat mungkin. Koper yang check-in terakhir akan dimasukkan ke dalam pesawat terakhir […]