Oleh Nuslih Jamiat
- Dosen Telkom University
- Center of Excellence for SHE(Halal), Telkom University
WAJO, Sulawesi Selatan — Di Lapangan Merdeka Sengkang, ribuan pengunjung memadati puluhan stan yang dipenuhi produk-produk unik. Ada kerajinan tangan dari limbah kayu yang disulap menjadi kaligrafi indah, tas anyaman dari bahan daur ulang, hingga produk pangan olahan seperti keripik dan kopi organik. Semua dipajang rapi dengan label yang mencantumkan nama pesantren pembuatnya. Ini bukan pasar biasa—ini adalah Expo Kemandirian Pesantren 2025, sebuah ajang di mana santri dari berbagai provinsi membuktikan bahwa tangan mereka bukan hanya mahir membaca kitab kuning, tetapi juga menciptakan karya bernilai ekonomi.
“Santri tidak hanya mengaji, tetapi membawa cahaya peradaban,” ujar Ismail Cawidu, Staff Khusus Menteri Agama, dalam konferensi pers Road To Hari Santri 2025. Pernyataan ini bukan retorika kosong. Expo yang digelar pada 2-7 Oktober 2025 ini menampilkan lebih dari 50 stan produk karya santri dari berbagai pesantren di Indonesia, membuktikan bahwa pesantren telah bertransformasi dari sekadar pusat pendidikan agama menjadi hub kreativitas dan kewirausahaan.
Dari Objek Bantuan Menjadi Subjek Pembangunan
Selama puluhan tahun, pesantren sering dipandang sebagai objek bantuan—lembaga yang membutuhkan subsidi dan sumbangan untuk bertahan. Namun paradigma ini kini berubah drastis. “Pesantren kini bukan lagi objek bantuan, melainkan subjek pembangunan ekonomi. Santri siap menjadi pelaku usaha kreatif yang berdaya saing,” tegas Basnang Said, Direktur Pesantren Kementerian Agama.
Pernyataan ini diperkuat dengan data konkret. Melalui program One Pesantren One Product (OPOP), ribuan pesantren di Jawa Barat telah berhasil mengembangkan produk unggulan mereka. Program yang mendapat penghargaan inovasi pelayanan publik dari Kemenpan-RB pada tahun 2020 ini telah membina pesantren hingga produk mereka dipamerkan di tingkat internasional, termasuk di Turki.
Expo Kemandirian Pesantren 2025 menampilkan beragam produk, mulai dari pangan, kerajinan tangan, hingga inovasi berbasis teknologi. Ketua DWP UP Ditjen Pendidikan Islam, Kiptiyah Suyitno, melaporkan bahwa expo tidak hanya melibatkan pesantren penerima bantuan, tetapi juga UMKM dan organisasi di Sulawesi Selatan. “Kita percaya bahwa kemandirian pesantren bukan hanya sebatas pada kemampuan mencetak generasi yang alim dalam ilmu agama, tetapi juga generasi yang tangguh, kreatif, dan berdaya saing di tengah dinamika global.”
Kisah Sukses: Rohmat dan Kemandirian Pesantren Banyuwangi
Di Banyuwangi, Jawa Timur, seorang santri bernama Rohmat telah membuktikan bahwa kerajinan tangan bukan sekadar hobi, tetapi bisa menjadi sumber penghidupan yang layak. Berawal dari keprihatinan melihat santri yang terlalu bergantung pada kiriman orang tua, Rohmat berinisiatif untuk mengajarkan keterampilan kerajinan kepada sesama santri.
“Padahal saya menilai, jika sosok santri ini menjadi pelaku usaha, maka akan banyak memiliki keunggulan tambahan lain. Semisal sosok santri ini dikenal dengan ketekunan, kejujuran, konsekuensi, keluhuran akhlak, sampai komitmen yang kuat. Sangat disayangkan jika mereka tidak pernah diajarkan dalam berwirausaha,” ujar Rohmat.
Langkah awal dimulai dengan berkolaborasi dengan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Banyuwangi. Rohmat mengadakan pelatihan kerajinan di Pesantren Sunan Kalijaga, pesantrennya sendiri, sebagai langkah awal. Kemudian berkembang ke Pesantren Sunan Gunung Jati dan Pesantren Raudlatul Alfiyah.
Tantangan muncul ketika banyak peserta yang setelah dilatih tidak menghasilkan output signifikan. Sebagai solusi, Rohmat bertindak sebagai fasilitator dengan menyediakan bahan baku, membantu proses produksi, hingga memasarkan produk melalui jaringan bisnisnya. “Saya yang menjadi fasilitator santri dalam penyediaan bahan baku, proses produksi, sampai pemasaran di beberapa kolega bisnisku. Karena kebetulan saya menjabat sebagai pengurus beberapa perkumpulan para pengusaha kerajinan yang ada di Banyuwangi,” ujar wakil ketua Perkumpulan Asosiasi Kerajinan Artistik Banyuwangi (Pakarwangi).
Hasilnya luar biasa. Hanya dengan modal satu karung limbah kayu seharga Rp25 ribu, Rohmat mampu menghasilkan keuntungan jutaan rupiah dan ratusan produk kerajinan seperti gantungan kunci, kaligrafi, asbak, dan berbagai model kerajinan lainnya. Produknya dipasarkan melalui outlet di Banyuwangi, marketplace online seperti banyuwangi-mal.com, dan bahkan menerima pesanan dari luar daerah seperti Jakarta, Lumajang, hingga Bali.
Kini, pesantren-pesantren yang ia fasilitasi mampu berdikari. Ada yang memiliki mesin produksi kerajinan sendiri. Yang terpenting, santri-santri sekarang sudah tidak lagi dimanjakan dari kiriman orang tua mereka masing-masing. Mereka belajar mandiri, produktif, dan memiliki skill yang bisa digunakan setelah lulus dari pesantren.
Produk Santri yang Menginspirasi
Beragamnya produk yang dihasilkan santri menunjukkan kreativitas tanpa batas. Berikut beberapa kategori produk unggulan yang berhasil dikembangkan pesantren di Indonesia:
1. Kerajinan Tangan
Santri di berbagai pesantren menghasilkan kerajinan tangan dari berbagai bahan, mulai dari limbah kayu, bambu, hingga kain perca. Produk-produk seperti tas anyaman, kaligrafi, dompet rajut, hiasan dinding, dan souvenir khas Islam menjadi primadona. Kerajinan tangan ini tidak hanya menarik dari sisi estetika, tetapi juga mengandung nilai ramah lingkungan karena memanfaatkan bahan daur ulang.
2. Produk Pangan Olahan
Pesantren juga aktif dalam mengembangkan produk pangan olahan seperti keripik, kacang, roti, hingga kopi organik. Pesantren An Nur 2 Al Murtadlo di Malang, misalnya, telah berhasil memproduksi Kapiten Kopi yang mampu menembus pasar ekspor ke Malaysia. Sementara itu, santri di Pondok Pesantren PPI AMF berhasil mengembangkan Teh Putri Malu, inovasi herbal yang diklaim mampu membantu mencegah insomnia dan meningkatkan kualitas tidur.
3. Produk Fashion dan Tekstil
Banyak pesantren yang mengembangkan produk fashion Islami seperti mukena, sarung, peci, gamis, dan hijab. Produk-produk ini tidak hanya memenuhi kebutuhan internal santri, tetapi juga dijual ke masyarakat umum. Beberapa pesantren bahkan telah mengembangkan brand fashion sendiri dengan desain yang modern namun tetap syar’i.
4. Pertanian dan Peternakan
Pesantren Al-Ittifaq di Ciwidey sudah terkenal dengan produk pertanian hortikulturenya yang dijual ke supermarket nasional. Sementara itu, banyak pesantren lain yang mengembangkan budidaya tanaman hidroponik, jamur tiram, atau produk peternakan seperti telur ayam kampung dan susu kambing etawa.
5. Teknologi Tepat Guna
Beberapa pesantren juga mulai mengembangkan inovasi berbasis teknologi seperti aplikasi digital untuk manajemen pesantren, konten edukatif Islam dalam bentuk e-book dan video, serta produk teknologi sederhana yang memudahkan kehidupan sehari-hari.
Program OPOP: Kunci Sukses Kemandirian Pesantren
Program One Pesantren One Product (OPOP) yang digagas oleh pemerintah provinsi Jawa Barat telah menjadi model sukses dalam memberdayakan pesantren secara ekonomi. Melalui program ini, setiap pesantren dibina untuk mengembangkan satu produk unggulan, entah itu pertanian, kuliner, atau kerajinan.
“OPOP mendapat penghargaan inovasi pelayanan publik dalam pemberdayaan masyarakat yang ditetapkan oleh Kemenpan-RB pada tahun 2020,” kata Tutus Iskarima, tokoh yang terlibat dalam program OPOP. Program ini telah sukses membina ribuan pesantren di Jawa Barat, dan beberapa pesantren binaan bahkan mengikuti pameran tingkat internasional di Turki.
Kunci kesuksesan OPOP terletak pada pendampingan yang intensif dan berkelanjutan. Pesantren tidak hanya diberi pelatihan teknis tentang cara membuat produk, tetapi juga dibimbing dalam aspek manajemen usaha, branding, packaging, dan pemasaran. Selain itu, ada upaya untuk menghubungkan produk pesantren dengan pasar yang lebih luas melalui pameran, marketplace online, dan kerjasama dengan retailer.
Pesantren Daarut Tauhid: Model Bisnis Berkelanjutan
Di Bandung, Pondok Pesantren Daarut Tauhid menjalankan Koperasi Pesantren (Kopontren) dengan basis syariah dan profesionalisme. CEO Kopontren Daarut Tauhid, Peri Risnandar, mengungkapkan bahwa usaha koperasi tersebut menjadi bentuk model bisnis berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat.
Menurut Wawan Dewanto dari SBM-ITB, pesantren sangat menunjang isu keberlanjutan (sustainability) karena mampu memberikan kontribusi dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kontribusi ekonomi pesantren terlihat dari peningkatan taraf hidup masyarakat melalui wirausaha, pengurangan pengangguran dari sisi sosial, serta upaya menjaga lingkungan dengan mengurangi limbah.
Daarut Tauhid adalah contoh nyata bagaimana pesantren bisa menjalankan bisnis secara profesional sambil tetap menjaga nilai-nilai Islam. Kopontren mereka tidak hanya melayani kebutuhan santri, tetapi juga masyarakat sekitar, menciptakan ekosistem ekonomi yang saling menguntungkan.
Tantangan dan Solusi
Meski banyak kisah sukses, pesantren masih menghadapi berbagai tantangan dalam mengembangkan produk kerajinan dan usaha ekonomi:
Tantangan Pertama: Kualitas dan Standarisasi – Produk pesantren sering kali masih bersifat tradisional dengan kualitas yang tidak konsisten. Untuk bersaing di pasar modern, diperlukan standarisasi produksi dan quality control yang ketat. Solusi: Kerjasama dengan perguruan tinggi dan lembaga riset untuk transfer teknologi dan pelatihan tentang standar operasional prosedur (SOP).
Tantangan Kedua: Pemasaran dan Branding – Banyak produk pesantren yang berkualitas bagus tetapi tidak dikenal pasar karena lemahnya marketing dan branding. Solusi: Digitalisasi dan branding produk melalui media sosial dan e-commerce. Pesantren perlu memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan produk mereka ke pasar yang lebih luas.
Tantangan Ketiga: Permodalan – Mengembangkan usaha memerlukan investasi yang tidak sedikit, mulai dari mesin produksi hingga kemasan. Solusi: Lembaga keuangan syariah seperti BMT dan koperasi syariah perlu lebih aktif memberikan pembiayaan khusus untuk pesantren entrepreneur. Program inkubasi bisnis dari pemerintah juga perlu diperkuat.
Tantangan Keempat: Kontinuitas Produksi – Ketika santri lulus, sering kali produksi terganggu karena regenerasi tidak berjalan baik. Solusi: Membangun sistem manajemen yang tidak bergantung pada individu tertentu, melainkan pada sistem dan prosedur yang jelas. Pelatihan berkelanjutan untuk santri baru harus menjadi bagian dari kurikulum pesantren.
Santri, Kreator Ekonomi Masa Depan
Transformasi pesantren dari lembaga pendidikan tradisional menjadi hub kreativitas dan kewirausahaan adalah sebuah revolusi yang sedang terjadi. Expo Kemandirian Pesantren 2025 dengan 50 lebih stan produk karya santri adalah bukti nyata bahwa tangan santri mampu menciptakan nilai ekonomi yang signifikan.
Kisah Rohmat di Banyuwangi, kesuksesan program OPOP di Jawa Barat, dan model bisnis berkelanjutan Pesantren Daarut Tauhid menunjukkan bahwa ketika diberi pelatihan, pendampingan, dan akses pasar yang tepat, santri bisa menjadi entrepreneur sukses yang tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada ekonomi masyarakat sekitar.
Pesantren Award yang diberikan kepada pesantren-pesantren yang berhasil menciptakan unit usaha berkelanjutan dan berdampak sosial-ekonomi adalah bentuk apresiasi nyata dari pemerintah. Ini juga menjadi motivasi bagi pesantren lain untuk terus berinovasi dan mengembangkan produk unggulan mereka.
Di tahun 2026 dan seterusnya, kita akan menyaksikan semakin banyak produk kerajinan dan inovasi yang lahir dari tangan-tangan kreatif santri. Mereka bukan hanya penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga kreator ekonomi masa depan yang akan membawa Indonesia menuju peradaban yang lebih maju dan sejahtera.
Dari limbah kayu yang disulap menjadi kaligrafi, dari daun putri malu menjadi teh herbal, dari kitab kuning hingga produk bernilai ekonomi tinggi—inilah wajah baru santri Indonesia. Santri yang tidak hanya mengaji, tetapi juga berkarya. Santri yang tidak hanya berdoa, tetapi juga berusaha. Santri yang siap membawa cahaya peradaban dari pesantren untuk Indonesia, dan dari Indonesia untuk dunia.***