Search
Close this search box.

VISI | Sekolah Adab

Drajat

Bagikan :

Oleh Drajat

BELAKANGAN ini, negeri kita seperti kehilangan akal sehat kolektif. Satu demi satu peristiwa memalukan datang dari para elite yang konon katanya “terpelajar”. Gelar akademik mereka berderet, kekayaan melimpah ruah, tetapi perkataan dan perbuatannya menyayat nurani rakyat. Betapa mudah mereka menghina rakyat kecil, mencibir keturunan orang miskin, atau mengomentari tragedi kemanusiaan dengan enteng—tanpa empati, tanpa adab.

Ketika seseorang berkata bahwa “kalau orang tuanya miskin, anaknya pasti miskin juga”, atau menyebut tragedi kekerasan seksual yang dialami perempuan hanya sebagai “drama Korea tahun 1989”, kita dipaksa menyaksikan ironi bangsa yang besar ini. Ironi di mana kecerdasan dan kekuasaan tidak berjalan seiring dengan akhlak mulia. Sebuah ironi yang membuat kita harus bertanya: di mana letak adab dalam kehidupan bangsa ini?

Sejatinya, dalam khasanah peradaban Islam—yang turut membentuk akar kebudayaan Nusantara—adab selalu diposisikan lebih tinggi dari ilmu. Imam Malik pernah berkata kepada muridnya, Imam Syafi’i: “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.”

Bahkan dalam tradisi pendidikan pesantren, seorang santri tidak hanya diajari tafsir dan fiqh, tetapi juga bagaimana bersikap kepada guru, bagaimana duduk dalam majelis ilmu, dan bagaimana menghormati ilmu itu sendiri.
Adab bukan sekadar tata krama permukaan, tetapi refleksi dari kedalaman moral dan spiritual.

Adab adalah pagar kehidupan. Ia tidak hanya mengatur cara kita berpakaian atau berbicara, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan sesama, memperlakukan perbedaan, dan memosisikan diri dalam masyarakat.

Sayangnya, adab hari ini mulai sirna dari pendidikan kita. Sekolah dan perguruan tinggi terlalu sibuk mengejar nilai akademik, akreditasi, sertifikasi, dan ranking, tapi lupa membentuk manusia beradab.
Kita butuh lebih dari sekadar Sekolah Unggulan. Kita perlu membangun “Sekolah Adab”, yakni institusi pendidikan yang tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi benar-benar mendidik manusia yang utuh. Sekolah yang memuliakan guru dan murid, yang meletakkan karakter dan akhlak di atas sekadar kompetensi teknis.

Baca Juga :  Rupiah Melemah Dipicu Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz

Sekolah adab bukan berarti sekolah tanpa matematika atau sains. Justru ia menjadikan ilmu sebagai jalan untuk mengasah kebijaksanaan. Di sekolah adab, anak tidak hanya diajari membaca dan berhitung, tetapi juga bagaimana memperlakukan sesama dengan hormat. Mereka diajarkan bahwa berbeda bukan musuh, bahwa mendengarkan lebih penting daripada membantah, bahwa meminta maaf bukan kelemahan, dan memaafkan adalah keunggulan. Sekolah adab adalah tempat lahirnya pemimpin yang tahu diri, bukan tahu kuasa.

Di Jepang, adab adalah bagian paling awal dari pendidikan. Di sekolah-sekolah dasar, anak-anak diajarkan cara menyapa, cara membungkuk, cara membersihkan kelasnya sendiri, dan cara bertanggung jawab terhadap lingkungan. Di negeri ini, pembentukan karakter bukan kegiatan sambilan, tapi jantung dari sistem pendidikan.

Di Australia, pendidikan karakter diterapkan dalam seluruh mata pelajaran. Anak-anak diajak berdiskusi, berempati, dan memahami konsekuensi moral dari setiap tindakan. Untuk urusan kecil seperti antre atau menyapa guru, mereka butuh waktu bertahun-tahun mendidiknya. Karena bagi mereka, lebih baik anak terlambat belajar sains, daripada ia tumbuh menjadi cerdas tapi arogan dan tak menghargai orang lain.

Lalu kita, Indonesia, negeri yang katanya menjunjung tinggi adat ketimuran, kenapa justru gagal dalam perkara ini?

Ada yang salah dalam orientasi pendidikan kita hari ini. Kurikulum memang mencantumkan Profil Pelajar Pancasila; beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia sebagai dimensi utama. Tapi pada praktiknya, dimensi ini menjadi formalitas. Pendidikan karakter digelar dalam pelatihan kilat, bukan pembiasaan. Kegiatan ekstrakurikuler disempitkan hanya sebagai pengisi waktu luang, bukan sebagai media pembentukan kepribadian.

Pendidikan adab tidak bisa dilakukan dengan satu-dua sesi ceramah. Ia butuh keteladanan, konsistensi, dan ketegasan. Ia lahir dari kultur sekolah, bukan sekadar modul. Maka, ketika guru membentak murid, ketika kepala sekolah bersikap otoriter, atau ketika pejabat pendidikan melakukan penyimpangan dana BOS, pesan moral apa yang sedang kita tanamkan kepada anak-anak kita?

Baca Juga :  Kasus Ponpes Pati Terungkap, Dugaan Korban Capai 50 Orang

Sekolah adab bukan dimulai dari gedung megah atau anggaran besar. Ia dimulai dari para pendidik yang menjadikan dirinya sebagai contoh. Dari kepala sekolah yang tidak merasa lebih tinggi dari guru. Dari guru yang menghormati murid sebagai manusia utuh. Dari sistem yang tidak mengukur segalanya dengan nilai dan angka.

Pemerintah harus mulai serius memasukkan pendidikan adab sebagai program nasional. Bukan hanya sebagai jargon, tapi dijalankan secara sistematis. Modul adab bisa dimasukkan dalam mata pelajaran yang terintegrasi: dari Bahasa Indonesia, Sejarah, hingga Matematika. Tapi yang lebih penting, semua pemimpin pendidikan harus menjadi wajah dari adab itu sendiri.

Kita tidak bisa mengharapkan anak-anak tumbuh beradab jika guru mereka tidak menunjukkan adab. Kita tak bisa berharap masyarakat menghormati hukum jika para pemimpinnya menghina keadilan. Adab tidak bisa diajarkan hanya dengan kata-kata. Ia harus menjadi gaya hidup seluruh ekosistem pendidikan.

Sungguh mengerikan jika bangsa ini terus melahirkan generasi yang cerdas, tapi tidak beradab. Yang pintar berdiplomasi, tapi senang merendahkan. Yang fasih berbahasa Inggris, tapi gemar menipu. Yang menguasai teknologi, tapi tidak mampu menghormati sesama.

Kita tidak sedang kekurangan orang pandai. Tapi kita sedang kelimpahan orang pandai yang tidak tahu diri. Maka solusi dari semua ini hanya satu: kembalikan adab sebagai panglima.
Mari kita dirikan sekolah adab, secara nyata, mulai dari ruang kelas terkecil hingga kementerian tertinggi. Karena tanpa adab, ilmu hanyalah alat. Dan tanpa adab, kekuasaan hanya akan melahirkan arogansi. Sekolah adab bukan utopia. Ia adalah kebutuhan. Dan kita harus bergerak sebelum semuanya terlambat.***

  • Penulis, Doktor Ilmu Pendidikan, Praktisi Pendidikan dan Hipnoterapis

Baca Berita Menarik Lainnya :