Search
Close this search box.

VISI | Sekolah Hijau

Drajat

Bagikan :

Oleh Drajat

BEBERAPA waktu lalu, penulis pernah menuliskan opini berjudul Literasi Lingkungan. Di sana ditegaskan betapa setiap warga sekolah memiliki kewajiban menjaga dan merawat lingkungan sekolah agar tetap indah, bersih, nyaman, sekaligus menyejukkan. Lingkungan sekolah yang hijau bukan sekadar hiasan, melainkan ruang hidup yang mendukung proses pendidikan secara menyeluruh.

Namun, kenyataan di lapangan sering kali berbeda. Tidak sedikit para pemimpin pendidikan — baik di tingkat pusat, daerah, maupun di sekolah sebagai kepala sekolah — yang justru abai terhadap makna lingkungan. Begitu mereka duduk di kursi pimpinan, seolah-olah segalanya harus berubah mengikuti selera pribadinya. Ada idiom lama yang sering kita dengar: setiap pergantian pemimpin, maka kebijakan pun berubah. Sayangnya, idiom ini juga merambah ke urusan lingkungan sekolah.

Yang menyedihkan, banyak keputusan diambil tanpa kompromi. Pemimpin sekolah merasa dirinya adalah satu-satunya penentu arah. Para wakil kepala sekolah, guru, staf sarana prasarana, bahkan komite sekolah pun tidak dilibatkan dalam musyawarah. Padahal jelas, sebuah lembaga pendidikan adalah komunitas yang dibangun di atas kolaborasi, bukan monopoli.

Contoh konkret yang sering terjadi adalah kebijakan “penebangan massal” pohon di sekolah. Dengan dalih pohon sudah tua, keropos, dan dikhawatirkan tumbang, kepala sekolah memberi perintah untuk menebangnya. Argumen itu sering kali berdiri sendiri tanpa analisis mendalam, tanpa pendapat ahli, dan tanpa mempertimbangkan dampak ekologis.

Pohon yang ditebang sebenarnya bukan sekadar batang kayu. Ia adalah penyedia oksigen yang sangat berharga bagi kehidupan. Ia juga rumah bagi berbagai makhluk lain, mulai dari burung, serangga, hingga mikroorganisme yang menjaga keseimbangan ekosistem. Terbayang bukan, suara kicau burung yang setiap pagi menenteramkan hati tiba-tiba lenyap karena pepohonannya hilang? Terbayang pula, ruang kelas yang dulu teduh dan sejuk kini berubah menjadi panas dan gersang. Belajar yang mestinya nyaman, berubah menjadi gelisah.

Baca Juga :  PGE Sabet Going Digital Awards 2025, Teknologi Panas Bumi RI Diakui Dunia

“Sekolah Hijau” sesungguhnya bukan sekadar jargon. Di banyak negara maju, sekolah hijau adalah konsep pendidikan yang berkelanjutan (sustainable education). Sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga laboratorium kehidupan. Melalui keberadaan pohon, taman, kebun, hingga area resapan air, siswa belajar langsung tentang siklus alam, pentingnya menjaga ekosistem, dan bagaimana manusia hidup berdampingan dengan lingkungan.

Ketika pohon-pohon ditebang, filosofi itu ikut terkikis. Sekolah tidak lagi menjadi ruang belajar kehidupan, melainkan hanya sebatas gedung beton yang steril dari alam. Padahal UNESCO sejak lama mendorong Education for Sustainable Development (ESD), yang salah satu indikatornya adalah bagaimana sekolah mampu menciptakan ruang hijau yang mendukung tumbuhnya kepedulian lingkungan pada siswa.

Ketika seseorang diberikan amanah sebagai pemimpin pendidikan, artinya yang bersangkutan mempunyai visi yang indah, bagaimana memberikan dampak yang positif tidak sebaliknya. Tidak jarang mereka begitu “gagah” pohon-pohon rindang yang telah berusia puluhan tahun ditebang dengan alasan “membahayakan” dan “menghalangi estetika bangunan baru.” Hanya dalam hitungan hari, suasana sekolah yang sebelumnya teduh berubah drastis menjadi panas menyengat.

Dampaknya langsung terasa. Suhu kelas meningkat sehingga siswa mudah lelah, guru pun mengeluh sulit berkonsentrasi saat mengajar. Burung-burung yang biasa hinggap di cabang pohon tak lagi terlihat. Beberapa orang tua bahkan menyampaikan protes karena anak-anak mereka sering mengeluhkan kepanasan. Namun, suara mereka nyaris tidak didengar karena pemimpin sekolah merasa sudah mengambil “keputusan terbaik.”

Ironisnya, pohon-pohon yang ditebang itu sebenarnya bisa diselamatkan dengan perawatan yang tepat. Jika memang ada cabang yang rawan patah, bisa dilakukan pemangkasan selektif. Jika ada yang keropos, bisa dilakukan penguatan batang. Tetapi, jalan pintas berupa “penebangan total” dianggap lebih cepat dan praktis — walau merusak esensi.

Baca Juga :  ST016 Tawarkan Kupon Lebih Tinggi dari ST015

Sekolah hijau yang seharusnya menjadi sumber inspirasi kini justru “menangis.” Ia menangis karena kehilangan ruhnya. Ia menangis karena pemimpinnya arogan. Ia menangis karena suara kolektif diabaikan. Padahal, keberadaan sekolah hijau sesungguhnya memberi banyak manfaat nyata: Meningkatkan kenyamanan belajar: siswa lebih betah belajar di ruang teduh. Mengurangi stres: lingkungan hijau terbukti menurunkan tingkat stres siswa dan guru. Menyediakan laboratorium alam: siswa belajar langsung tentang fotosintesis, ekosistem, dan keanekaragaman hayati. Membangun karakter cinta lingkungan: pengalaman merawat pohon dan kebun menumbuhkan tanggung jawab ekologis.

Ketika semua itu hilang, yang tersisa hanyalah sekolah kaku tanpa jiwa. Seharusnya, setiap kepala sekolah menyadari bahwa jabatan yang ia emban adalah amanah. Amanah bukan untuk menunjukkan ego, tetapi untuk merawat, menjaga, dan mengembangkan potensi yang sudah ada. Termasuk potensi lingkungan hijau yang diwariskan pemimpin sebelumnya.

Perubahan boleh saja dilakukan, tetapi dengan melibatkan banyak pihak. Musyawarah harus menjadi jalan utama. Analisis risiko harus dilakukan secara profesional. Dan yang lebih penting, kesadaran ekologis harus ditanamkan dalam setiap keputusan.
Seorang pemimpin besar bukanlah mereka yang menebang sebanyak-banyaknya pohon demi citra baru, melainkan mereka yang mampu menjaga pohon tetap hidup agar generasi selanjutnya bisa merasakan manfaatnya.

Sekolah hijau yang menangis adalah refleksi kita semua. Ia bukan hanya cerita tentang pohon yang ditebang, melainkan tentang mentalitas kepemimpinan pendidikan kita yang masih sering arogan. Pendidikan sejatinya adalah tentang membangun masa depan. Jika masa depan itu dipersempit hanya untuk kepentingan ego, maka yang kita wariskan hanyalah kehampaan.

Mari kita selamatkan sekolah hijau. Mari kita rawat pepohonan, taman, dan segala yang ada di dalamnya. Sebab, dari situlah anak-anak kita belajar arti kehidupan, arti kebersamaan, dan arti keberlanjutan.***

  • Doktor Ilmu Pendidikan, Mindshaper Indonesia, Hipnoterapis, dan Guru SMPN 1 Cangkuang Kab. Bandung.

Baca Berita Menarik Lainnya :