VISI.NEWS | SOLO – Wajah Taman Balekambang yang merupakan peninggalan penguasa istana Pura Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegoro VII, mulai medio September 2022 ini akan dirombak dengan penataan kembali tata ruang yang mencakup kawasan Taman Balekambang dan lingkungan sekitarnya.
Taman Balekambang yang nama aslinya “Partini Tuin” dan “Partinah Bosch”, yang dibangun KGPAA Mangkunegoro VII pada 26 Oktober 1921 sebagai tanda cinta kepada kedua putrinya, RAj. Partini dan RAj. Partinah, akan dipertahankan dengan konsep hutan kota yang yang digagas mendiang KGPAA Mangkunegoro VII, dilengkapi berbagai fasilitas rekreasi di ruang terbuka hijau.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kawasan Wisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Pemkot Solo, Sumeh, SE, MSi, disela berbenah pindah kantor dari Balekambang ke Graha Wisata Niaga, Senin (19/9/2022), menjelaskan kepada VISI.NEWS, Taman Balekambang akan ditutup total selama 16 bulan, pada September 2022 sampai Desember 2023.
Kawasan Taman Balekambang akan ditata ulang Kementerian PUPR dengan paket anggaran senilai Rp 193,5 miliar.
“Penataan kawasan Taman Balekambang, meliputi Taman Air Partini, Kolam Renang Manahan, Open Stage Ramayana, Gedung Kesenian “Kethoprak Balekambang”, Mina Padi, perkantoran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, bangunan baru JIC dan seluruh ruang terbuka hijau Taman Balekambang.
Pelaksana penataan kawasan Taman Balekambang adalah PT. Pembangunan Perumahan,” katanya.
Aktivitas Taman Balekambang sendiri, selama masa pandemi Covid-19 sempat ditutup sementara. Pada Agustus 2021 taman rekreasi di tengah Kota Solo itu baru dibuka kembali dengan pembatasan pengunjung.
Selama penutupan di masa pandemi tersebut, Pemkot Solo juga melakukan berbagai pembenahan, di antaranya open stage untuk pentas Sendratari Ramayana pada setiap malam bulan purnama, kawasan perparkiran, pedestrian di tengah taman dan sebagainya.
“Selama Taman Balekambang ditutup total selama lebih setahun nanti, pertunjukan kethoprak akan tetap digelar. Tempatnya, sementara dipindahkan ke gedung Graha Wisata Niaga. Sedangkan Sendratari Ramayana akan dipentaskan ke kecamatan-kecamatan secara bergilir. Selain pentas kesenian, seluruh aktivitas wisata di Taman Balekambang dihentikan,” jelasnya.
Kethoprak Balekambang sendiri memiliki sejarah panjang. Di Taman Balekambang, awalnya terdapat gedung kethoprak dan gedung Srimulat sebelum dipindah ke THR Surabaya.
Dari panggung kesenian tradisional kethoprak tersebut, lahir kuliner khas Solo yang bernama “Bakmi Kethoprak”.
Menyinggung jumlah pengunjung Taman Balekambang, sejak dibuka pascapandemi, Sumeh mengungkapkan, pada Agustus 2021 saat mulai aktif kunjungan per hari rata-rata antara 200 sampai 500 orang.
Belakangan jumlah kunjungan meningkat pesat dan saat hari libur bisa mencapai ribuan orang.
“Pertunjukan Sendratari Ramayana di panggung terbuka juga diminati banyak wisatawan mancanegara. Kita harapkan, setelah penataan dengan fasilitas yang lebih baik, jumlah pengunjung makin meningkat,” ungkapnya.
Taman Balekambang sendiri, saat ini merupakan satu-satunya tempat rekreasi di ruang terbuka hijau di Kota Solo, setelah Taman Sriwedari ditutup karena menjadi obyek sengketa. Sedangkan kebun binatang di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) di tepi Bengawan Solo, juga ditata ulang dengan konsep Taman Safari. @tok