Search
Close this search box.

Weni Dwi Apriani : Hari Ibu Lebih Istimewa Bukan Mother’s Day

Anggota DPRD Jawa Barat (Jabar) Weni Dwi Apriani. /visi.news/eko aripyanto

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Dalam peringatan hari ibu di Indonesia dinilai sangat berbeda dengan peringatan serupa di negara lain, dimana seorang ibu sangat diistimewakan.

Guna memaknai hari ibu, Anggota DPRD Jawa Barat (Jabar) Weni Dwi Apriani menjelaskan, peringatan hari ibu di Indonesia mempunyai perbedaan makna dari mother’s day atau bukan hanya sekedar merayakan hari ibu dalam satu hari saja, akan tetapi lebih dari itu.

“Hari ibu bukan mother’s day atau bukan mengistimewakan kaum perempuan, akan tetapi harus diartikan dengan pemahaman tentang perjuangan kaum perempuan saat turut serta memperjuangkan kemerdekaan,” jelasnya.

Selain itu, kepada VISI.NEWS, Rabu (22/12/21), anggota Fraksi PDIP ini mengungkapkan, penetapan dan peringayan hari ibu tersebut, tidak terlepas dari Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta pada 22 Desember – 25 Desember 1928.

“Kongres itu dihadiri lebih dari 1.000 utusan perempuan dari Jawa dan Sumatera. Pemerintah Hindia Belanda kemudian memboikot kongres tersebut, dan meminta agar peserta kongres bubar, hingga dipaksa pesertanya dipaksa pulang naik kereta api,” ungkap Weni.

Sebagai bentuk perlawan, lanjut Weni, para perempuan ini memilih untuk tidur di bantalan rel, persis di depan lokomotif sehingga perjalanan kereta tersendat, alhasil, Pemerintah Hindia Belanda pun menyerah dan memperbolehkan para perempuan itu untuk menggelar kongres.

“Dalam Kongres Perempuan I menyuarakan perempuan agar dapat bersekolah, membantu perempuan yang tidak mampu, pemberantasan buta huruf, reformasi perkawinan yang lebih adil bagi perempuan, penghapusan perkawinan anak,” ujarnya.

Tidak hanya itu, masih dalam kongres, kaum perempuan menolak perdagangan perempuan, dan ingin membebaskan perempuan dari praktik poligami, dan salah satu keputusan Kongres Perempuan Indonesia itu adalah, dibentuknya organsiasi Perserikatan Perkumpulan Perempoean Indonesia (PPPI).

Baca Juga :  Andreas Berharap Investasi di Sukabumi Meningkat agar Serap Banyak Tenaga Kerja

“Setelah 93 tahun pasca Kongres Perempuan dinilai masih relevan dengan kondisi saat ini, Kongres Perempun tersebut digelar hingga ke-3 kali, dan menghasilkan beberapa keputusan yang berkaitan dengan hak-hak kaum perempuan,” paparnya.

Terakhir, ia mengaku tidak paham kaitan dengan perayaan hari ibu di Indonesia disamakan dengan mother’s day, bahkan anak sendiri pun kerap mengirim bunga sebagai tanda kasih disetiap tanggal 22 Desember.

“Saya tidak mengucapkan terima kasih karena mereka belum paham bahwa peran perempuan bukan hanya menjalankan kodratnya, melahirkan dan mendidik anak, tetapi juga memiliki peran besar dalam pembangunan bangsa ini,” pungkasnya.@eko

Baca Berita Menarik Lainnya :