Yang Mendapat Cahaya Ilahi di Balik Jeruji Besi (2/Habis)

Editor :
Napi AS berbondong-bondong jadi mualaf demi ketenangan dan perlindungan diri./tirto.id/ist.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Karisma, pemikiran, dan keberanian pria kelahiran Nebraska tanggal 19 Mei 1925 itu bersinar terang, hingga membuatnya mampu menjabat sebagai ketua Nation of Islam usai bebas dari penjara. Pada 1964 ia memutuskan keluar karena berseberangan pendapat dengan elite organisasi lain.

Di masa setelahnya ia didekati oleh beberapa tokoh muslim Sunni yang akhirnya mampu mendorong Malcolm untuk memeluk Islam arus utama. Malcolm pun melaksanakan ibadah haji pada bulan April 1964. Ironisnya, setahun kemudian ia tewas dibunuh oleh tiga orang anggota Nation of Islam.

Demi Perlindungan, Tapi Bisa Jadi Ekstremis?

Di luar alasan keyakinan, menjadi muslim di penjara juga punya keuntungan lain. Penjara di AS punya kultur geng dan kekerasan antar-anggotanya. Sedemikian kuatnya, sampai orang-orang harus punya perlindungan agar bisa bertahan. Napi yang mau masuk Islam bisa mendapatnya dari kelompok berisi napi muslim lain. Solidaritas terbangun karena kesamaan akidah.

Di Inggris para napi berbondong-bondong masuk Islam juga demi kepentingan pragmatis. Selain dukungan dan perlindungan dari napi muslim lain, mereka juga mengharapkan durasi keluar ruang tahanan lebih lama atau menu makanan yang lebih enak selama bulan Ramadan, demikian lapor Telegraph.

Telegraph memuat ulang riset bertajuk Muslim Prisoner’s Experiences yang mengungkapkan bahwa 30 persen dari 164 napi muslim yang diwawancara ternyata masuk Islam di penjara. Otoritas penjara mengaku punya kekahawatiran para napi lambat laun berubah menjadi ekstremis jika bergaul dengan tahanan ekstremis lain.

Dalam laporan Guardian, fenomena napi masuk Islam juga melanda Australia. Namun para akademisi, imam, dan pekerja penjara di Australia menyatakan bahwa kekhawatiran tersebut agak berlebihan. Meski demikian, tidak berarti tidak ada potensi barang satu persen pun. Menurut peneliti Australian National University, Clarke Jones, semua tergantung kondisi di dalam penjara.

Baca Juga :  Jateng Kini Punya Bus AntiCorona

Jones telah mempelajari dua penjara di Australia dan kurang lebih sembilan lainnya di negara-negara Asia Tenggara. Salah satu kesimpulan risetnya adalah proses radikalisasi akan makin berhasil jika kondisi di dalam penjara semakin keras.

Faktor utama seorang teradikalisasi bukan agama, sebab temuannya berkata bahwa semakin saleh seorang narapidana justru semakin kecil kemungkinan ia menjadi radikal. Agama bukan faktor satu-satunya, melainkan juga menyangkut kultur di dalam penjara, hambatan-hambatan sosial dalam kontak dan komunikasi antar-penghuni, hingga kebutuhan dasar untuk bertahan hidup.

Mualaf Guantanamo

Uniknya, kisah masuk Islam tak hanya terjadi pada narapidana. Ada seorang penjaga Guantanamo Bay, salah satu penjara dengan sistem pengamanan paling ketat di dunia, yang masuk Islam.

Namanya Terry Holdbrooks. Sebelumnya ia bergabung di militer AS. Sebelum berganti keyakinan, ia termasuk peminum kelas berat. Kebenciannya kepada Muslim terpupuk terutama usai ia mengunjungi situs aksi teror 9/11 di New York.

Namun sikapnya pelan-pelan berubah berkat sikap ramah para napi muslim di Guantanamo Bay. Terry sendiri bukan pria yang membiasakan senyum saat bertemu orang lain. Terry kagum, sekaligus bertanya-tanya, sebab napi-napi itu bisa tetap ramah meski dikurung di salah satu penjara paling kejam di AS—bahkan dunia.

“Apa yang kamu (napi) punya yang aku tak punya?” katanya kepada Al Jazeera.

Terry lalu mencari tahu, dan menemukan dunia Islam melalui dialog dengan seorang tahanan, Tahanan inilah yang mampu membuat Terry jatuh cinta dengan Islam. Tahanan ini memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam. Alih-alih beradu argumen, si tahanan kerap mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Terry berpikir mendalam tentang keyakinannya.

Bersama tahanan itu pula Terry mengucap dua kalimat syahadat, syarat pertama dan utama menjadi seorang muslim.

Baca Juga :  Di Usianya yang ke-63, Majalah Sunda Mangle Tetap Eksis Kunjungi Mitra Pembacanya

“Kukira sangat amat mungkin untuk mengadopsi Islam, menjalankan kehidupan yang Islami sebagai seorang muslim, dan di saat yang bersamaan juga menjadi seorang warga negara Amerika. Masuk Islam bak membuka pintu baru. Masuk Islam di Guantanamo, sepertinya sesuatu yang istimewa,” pungkasnya. @fen/sumber: tirto.id

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Sugan téh (4)

Rab Agu 12 , 2020
Silahkan bagikanRekacipta Fendy Sy Citrawarga   “NYA kajeun sareng Kang Apud ogé pan pajabat tatéh, Bi.” “Naon téa Jin?” “Pan kamari saur Bibi ningan. Ceuk Ujin téh ka Bibi, naha Bi Rahi sakola kénéh kitu atawa ngawulang panginten nya?” “Lain kesel teu sakola atawa teu ngajar Ujin. Kesel rarandaan saur […]