Search
Close this search box.

Ace Hasan: Pemerintah Masih Sulit Tetapkan Biaya Haji Karena Belum Ada Ketentuan Kuota dari Arab Saudi

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Dr. Tb. H. Ace Hasan Syadzily, M.Si../visi.news/purnama alam

Bagikan :

VISI.NEWS — Komisi VIII DPR RI saat ini sedang membahas soal pembiayaan ibadah haji berdasarkan variabel-variabel yang mempengaruhinya akibat pandemi Covid-19 yang tidak jelas sampai kapan akan berakhir. Demikian dikemukakan oleh Wakil Ketua Komisi VIII, Ace Hasan Syadzily pada kegiatan Desiminasi Pengawasan Keuangan Haji. “Pengawasan Pengelolaan Keuangan Haji di Era Pandemi Covid-19” yang berlangsung di Hotel Grand Sunshine, Soreang, Kamis (29/4/2021).

Keempat variabel tersebut, kata Ace Hasan, yakni jumlah kuota yang dibatasi serta penerapan protokol kesehatan. “Protokol kesehatan itu masih mahal, masker tiap 4 jam harus diganti, harus ada hand sanitizer, pesawatnya harus bebas Covid. Sebelum bulan Puasa, kami sudah melakukan kunjungan ke Arab Saudi untuk melakukan negosiasi soal pemondokan, soal macam-macam, tapi sekarang belum bisa dilaksanakan karena Arab Saudi masih belum membuka pintu untuk jemaah asal Indonesia,” ujarnya.

Kedua, katanya, dengan adanya pembatasan hanya diupayakan setengah dari jumlah calon jemaah haji Indonesia yang bisa berangkat. Ini pun, kata Ace Hasan, rasa-rasanya agak sulit diwujudkan. “Kalau setengahnya berarti kan dari kuota 210 ribu jemaah kita, hanya sekitar 110 atau 105 ribu. Ini juga belum pasti karena sampai saat ini belum ada kepastian dari Pemerintah Arab Saudi. Kemudian soal usia lansia. Oleh karena itu saya sampaikan kepada Menteri Agama agar tidak boleh tidak harus melibatkan Menteri Kesehatan,” ungkapnya.

Meski demikian, kata Ace Hasan, skenario pertama tetap dibuat secara penuh. Namun disiapkan juga sekenario lainnya kalau hanya dapat 25% dari kuota sebelumnya 210 ribu jemaah. Artinya hanya 50.830 orang calon jemaah yang berangkat. Ini akan berpengaruh juga pada perubahan anggaran karena dalam protokol kesehatan Arab Saudi terkini, harus adanya vaksinasi Covid-19 dan karantina selama tiga hari.

Baca Juga :  Muscab, Uu Ruzhanul Ulum Ajak Kader Bangkitkan Kejayaan PPP

“Tapi menurut ketentuan internasional, karantina bukan tiga hari tapi dua minggu. Jadi repot juga. Belum lagi jaga jarak di pemondokan, kalau diajak biasanya di satu pemondokan itu satu kamar paling banyak 4-5 orang, maka dalam situasi pandemi, yang 4 orang harus dibikin jadi dua orang. Itu berarti biaya lagi. Oleh karena itu, kemarin ya sempat mengusulkan dari indek biaya per orang jemaah haji Rp. 87 juta, yang harus dibayar oleh jemaah hanya 50 persennya, meski naik menjadi Rp. 44 juta,” ujarnya.

Nilai biaya tersebut, kata Ace, akan lebih meningkat lagi kalau yang jadi berangkat hanya diizinkan 20 persennya dari kuota. Maka kemungkinan akan terjadi kenaikan kurang lebih sekitar Rp. 9 juta hingga Rp 16 juta. “Ini menurut hitungan badan pelaksana ibadah haji Kementerian Agama. Kami di Komisi VIII terus melakukan pembicaraan dengan Kementerian Agama supaya kalau jadi berangkat tidak terlalu besar tambahan biaya yang dikenakan kepada para calon jemaah ibadah haji,” ungkap Anggota DPR RI dari Dapil Jabar 2 ini.

Meski demikian, Ace Hasan menegaskan, soal haji tahun ini memang masih belum ada kepastian karena pandemi covid 19 ini ternyata belum ada tanda-tanda yang menurun tadi belum ada satu pun negara yang bisa mengendalikan persebaran covid 19 hingga saat ini.

Mungkin, katanya, ada beberapa negara yang sudah mulai misalnya melepaskan protokol kesehatan seperti di New Zealand atau di Amerika konon kabarnya sudah mulai melepaskan masker tetapi setelah mereka semua melaporkan hasil vaksinasi. “Tapi di kita masih belum. Kita tahu bahwa dampak Covid 19 ini bukan hanya terjadi di Indonesia bahkan saat kita terakhir terakhir adalah di India juga,” jelasnya.

Baca Juga :  Project Freedom AS Pertegas Ketegangan di Selat Hormuz

Di India, kata Ace Hasan, jumlah kasusnya pernah mencapai 250.000 per hari, penyebab utamanya dalam kepercayaan masyarakat India salah satu cara untuk membersihkan dirinya dari dosa-dosa itu adalah di Sungai Gangga. Orang mandi bareng di Sungai Gangga dan itu jumlahnya sama dengan jumlah orang naik haji ke Arab Saudi 3 juta orang. Mereka tumpah ruah di Sungai Gangga besoknya langsung banyak yang kena dan terjadi peningkatan penderita dan korban meninggal akibat Covid-19 yang sangat tajam. Mereka dikremasi secara massal dengan cara di luar kebiasaan. @mpa

Baca Berita Menarik Lainnya :