Yeq Lawing: Wanita Tangguh dari Long Isun
Karya Ati Bachtiar**
Buku Yeq Lawing: Wanita Tangguh dari Long Isun bukan sekadar biografi tokoh lokal atau album foto etnografi. Karya ini adalah hasil dari sebuah proses kreatif yang panjang, intim, dan penuh kesadaran budaya, yang dijalani Ati Bachtiar sebagai penutur sekaligus fotografer. Melalui perjalanan ke pedalaman Kalimantan, Ati tidak hanya merekam gambar para perempuan bertelinga panjang, tetapi juga menafsirkan kehidupan mereka dengan empati dan kepekaan seorang pendengar.
Sebagai penutur, Ati Bachtiar menempatkan dirinya bukan sebagai pengamat yang berjarak, melainkan sebagai tamu yang belajar. Proses kreatif buku ini terasa dibangun dari relasi personal—dari waktu yang dihabiskan untuk mendengar cerita, memahami ritme hidup, serta membaca bahasa tubuh dan ekspresi keseharian masyarakat Long Isun. Narasi yang hadir tidak meledak-ledak, melainkan mengalir tenang, sejalan dengan kehidupan komunitas yang ia dokumentasikan. Pilihan bahasa yang sederhana namun reflektif menunjukkan kehati-hatian Ati dalam menuturkan kisah orang lain tanpa mereduksinya menjadi eksotisme semata.

Sebagai fotografer, Ati Bachtiar menghadirkan visual yang bekerja sebagai perpanjangan dari cerita. Foto-foto dalam buku ini tidak berdiri sebagai objek estetika belaka, tetapi menjadi bukti kehadiran dan kesabaran. Wajah-wajah perempuan bertelinga panjang, detail telinga dengan anting tradisional, serta latar alam Long Isun ditangkap dengan komposisi yang jujur dan tidak menggurui. Kamera Ati seolah digunakan untuk mendekat, bukan menguasai—menawarkan ruang bagi subjek untuk tampil sebagai diri mereka sendiri.
Di antara semua sosok yang dihadirkan, Yeq Lawing muncul sebagai pusat gravitasi buku ini. Ia digambarkan bukan hanya sebagai perempuan bertelinga panjang yang menjaga tradisi, tetapi juga sebagai pribadi tangguh yang mampu menjembatani kehidupan tradisional dan modern. Yeq Lawing hidup di antara dua dunia: mempertahankan identitas budaya leluhur, sembari bernegosiasi dengan perubahan zaman yang perlahan masuk ke wilayahnya. Dalam penuturan Ati, Yeq Lawing bukan figur romantik yang dibekukan dalam masa lalu, melainkan manusia yang aktif memilih, menimbang, dan beradaptasi.
Menariknya, kekuatan buku ini justru terletak pada cara Ati Bachtiar menahan diri. Ia tidak memaksakan kesimpulan besar, tidak menghakimi modernitas maupun mengidealkan tradisi secara berlebihan. Sebaliknya, ia membiarkan Yeq Lawing dan perempuan-perempuan Long Isun berbicara melalui cerita dan gambar. Dari situlah pembaca diajak memahami bahwa ketangguhan perempuan adat bukan hanya soal simbol budaya, tetapi tentang daya hidup, ketahanan, dan kebijaksanaan dalam menghadapi perubahan.
Yeq Lawing: Wanita Tangguh dari Long Isun adalah karya dokumentasi yang lahir dari proses kreatif yang jujur dan bertanggung jawab. Buku ini memperlihatkan bagaimana perpaduan antara tutur kata dan fotografi dapat menjadi medium yang kuat untuk merawat ingatan budaya. Melalui langkah kaki ke Kalimantan, lensa kamera, dan kesediaan untuk mendengar, Ati Bachtiar menghadirkan sebuah kisah yang bukan hanya tentang Yeq Lawing, tetapi juga tentang cara bercerita yang menghormati manusia dan kebudayaannya.@TKS