Search
Close this search box.

Bukan Diet atau Olahraga, Tidur Jadi Kunci Utama Umur Panjang

Ilustrasi./visi.news/freepik.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Insomnia adalah gangguan yang ditandai dengan kesulitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, atau bangun terlalu pagi. Studi-studi sebelumnya telah mengaitkan kurang tidur dengan berbagai kondisi kesehatan yang dapat berdampak negatif pada harapan hidup seseorang.

Sebuah studi baru menemukan bahwa kurang tidur memiliki dampak yang lebih besar terhadap penurunan harapan hidup dibandingkan faktor gaya hidup lainnya, seperti pola makan, aktivitas fisik, dan isolasi sosial. Jika Anda kesulitan mendapatkan tidur malam yang berkualitas, Anda tidak sendirian. Para peneliti memperkirakan sekitar 16% populasi dunia hidup dengan insomnia. Sementara itu, survei terbaru dari National Sleep Foundation menunjukkan bahwa enam dari setiap sepuluh orang dewasa di Amerika Serikat melaporkan tidak mendapatkan tidur yang cukup.

Penelitian sebelumnya telah mengaitkan kurang tidur dengan berbagai kondisi kesehatan yang dapat menurunkan kualitas hidup dan harapan hidup, termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, obesitas, depresi, kecemasan, gangguan pencernaan, hingga demensia.

“Tidur memainkan peran penting dalam hampir setiap proses biologis di dalam tubuh kita, namun masih menjadi perilaku yang sering kita anggap remeh,” ujar Andrew McHill, PhD, profesor asosiasi sekaligus direktur Laboratorium Tidur, Kronobiologi, dan Kesehatan di School of Nursing, Oregon Health & Science University (OHSU), kepada Medical News Today.

“Tidur adalah sesuatu yang mudah ditunda hingga akhir pekan atau diprioritaskan lebih rendah karena pekerjaan atau acara sosial, padahal durasi tidur yang lebih pendek benar-benar berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan kita,” tambah McHill.

McHill merupakan penulis senior dari studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal *Sleep Advances*. Studi tersebut menemukan bahwa kurang tidur berdampak lebih besar terhadap penurunan harapan hidup dibandingkan faktor gaya hidup lain, seperti pola makan, aktivitas fisik, dan isolasi sosial.

Kurang Tidur Mempengaruhi Hasil Kesehatan

Dalam penelitian ini, para peneliti menganalisis data dari Survei *Behavioral Risk Factor Surveillance System* milik Centers for Disease Control and Prevention (CDC) periode 2019–2025 untuk melihat hubungan antara kurang tidur dan harapan hidup.

Baca Juga :  Humaira, Wakil Rakyat Muda Perempuan, Buka Ruang Aspirasi Warga Rancaekek

“Saat menghadiri pertemuan advokasi riset dengan pejabat pemerintah, seseorang mengatakan bahwa jika ingin penelitian benar-benar berdampak, Anda harus melihat bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat lokal dan negara bagian,” kenang McHill. “Itu membuat saya berpikir, ‘bagaimana pola tidur masyarakat Oregon?’ dan dari situlah petualangan riset kami dimulai.”

“Kami pertama-tama meneliti hubungan antara kurang tidur dan berbagai hasil kesehatan di Oregon, dan menemukan hubungan yang sangat kuat, terutama dengan harapan hidup, yang cukup mengejutkan,” lanjutnya.

“Kemudian kami berpikir, mari kita lihat negara bagian lain. Dan berulang kali, saat kami menganalisis hubungan antara tingkat kurang tidur dan harapan hidup di tingkat kabupaten, terlepas dari negara bagiannya, hubungan kuat itu muncul di seluruh Amerika Serikat,” kata McHill.

Kurang Tidur Menjadi Salah Satu Pendorong Terkuat Penurunan Harapan Hidup

Pada akhir studi, McHill dan timnya menemukan bahwa dibandingkan perilaku umum yang berkaitan dengan harapan hidup—seperti pola makan, aktivitas fisik, dan koneksi sosial—kurang tidur merupakan pendorong penurunan harapan hidup yang lebih kuat dibandingkan faktor lain, kecuali merokok.

“Temuan ini benar-benar menyoroti pentingnya tidur di antara semua perilaku lain yang sering kita anggap esensial bagi kesehatan—seperti makanan yang kita konsumsi, udara yang kita hirup, atau seberapa banyak kita berolahraga,” ujar McHill.

Selain itu, para peneliti menemukan bahwa kurang tidur secara signifikan berkaitan negatif dengan harapan hidup di sebagian besar negara bagian AS selama periode 2019–2025.

“Temuan ini menyampaikan pesan kuat bahwa di mana pun Anda tinggal—baik di pedesaan atau perkotaan, utara atau selatan, timur atau barat—tidur memainkan peran vital dalam kesehatan dan kesejahteraan kita,” tegas McHill.

“Terlebih lagi, karena kami memiliki data dari beberapa tahun, temuan ini juga menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi ekstrem, seperti pandemi COVID-19, tidur tetap memainkan peran kunci dalam kesehatan kita,” tambahnya.

Baca Juga :  Harga Emas Galeri24 dan UBS Hari Ini, Jumat 16 Januari 2026

“Kami berharap dapat menggali lebih dalam alasan spesifik mengapa tidur dikaitkan dengan harapan hidup yang lebih pendek,” lanjut McHill. “Saat ini kami melakukannya melalui studi laboratorium yang sangat terkontrol dan didanai oleh National Institutes of Health, serta berharap bisa menjangkau komunitas lokal di berbagai wilayah Amerika untuk mengidentifikasi mekanisme spesifik bagaimana tidur memengaruhi kesehatan.”

“Tidur Bukan Kemewahan, Melainkan Kebutuhan Biologis”

*Medical News Today* juga berbincang dengan Pakkay Ngai, MD, direktur medis Sleep-Wake Center di Palisades Medical Center, New Jersey, mengenai studi ini.

“Sebagai dokter yang rutin menangani pasien dengan gangguan tidur, reaksi pertama saya terhadap studi ini adalah rasa pembenaran yang mendalam, sekaligus terkejut dengan besarnya dampak temuan ini,” kata Ngai, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

“Dalam komunitas medis, kami sudah lama memahami bahwa tidur adalah pilar kesehatan yang krusial, memengaruhi suasana hati, fungsi kognitif, sistem imun, hingga kesehatan kardiovaskular,” ujarnya.

“Namun melihat bahwa kurang tidur melampaui dampak pola makan dan olahraga sebagai prediktor harapan hidup adalah konfirmasi yang sangat kuat dan mengejutkan dari pesan yang sering kami sampaikan kepada pasien,” lanjut Ngai.

“Ini menegaskan bahwa tidur bukanlah kemewahan atau sesuatu yang bisa dikorbankan; tidur adalah kebutuhan biologis yang setara, bahkan dalam beberapa aspek lebih berdampak, dibandingkan perilaku kesehatan utama lainnya,” tegasnya.

*MNT* juga berbicara dengan Jimmy Johannes, MD, seorang ahli paru dan perawatan kritis di MemorialCare Long Beach Medical Center, California, yang juga tidak terlibat dalam studi tersebut.

“Studi ini mendukung bukti yang sudah ada bahwa kurang tidur berkaitan dengan usia hidup yang lebih pendek,” ujar Johannes. “Ini bukan temuan yang mengejutkan, karena hubungan ini telah dijelaskan sebelumnya, namun tetap menjadi peringatan serius. Saya penasaran apakah ada durasi atau frekuensi minimum dari kurang tidur yang mulai memengaruhi usia harapan hidup.”

Baca Juga :  Akses Bagbagan-Kiaradua Sukabumi Kembali Dilalui Kendaraan

Bagaimana Cara Mendapatkan Tidur yang Cukup Setiap Malam?

Bagi mereka yang kesulitan mendapatkan tidur cukup, Ngai dan Johannes membagikan beberapa saran. Johannes menekankan bahwa memprioritaskan tidur adalah langkah pertama yang penting.

“Sering kali kita mengorbankan tidur demi tanggung jawab hidup, pekerjaan, atau bahkan hiburan. Studi ini mengingatkan kita bahwa tidur yang cukup sangat penting bagi kesehatan, dan memprioritaskan tidur berarti memprioritaskan kesehatan,” katanya.

Ia juga menyarankan untuk menciptakan lingkungan tidur yang mendukung, seperti suasana yang tenang, sejuk, dan gelap, guna meningkatkan kualitas dan durasi tidur.

Ngai menambahkan bahwa konsistensi sangat penting, dengan menyarankan untuk tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari, termasuk akhir pekan, guna mengatur jam biologis tubuh.

Selain itu, ia merekomendasikan rutinitas relaksasi sebelum tidur, seperti membaca buku, mandi air hangat, atau meditasi. Ia juga mengingatkan untuk memperhatikan asupan sebelum tidur—menghindari kafein, makanan berat, dan alkohol karena dapat mengganggu pola tidur.

Terakhir, Ngai menyarankan untuk membatasi paparan cahaya biru dari perangkat elektronik seperti ponsel dan komputer setidaknya 30 hingga 60 menit sebelum tidur. “Cahaya ini dapat mengganggu produksi melatonin, hormon yang membuat Anda mengantuk,” jelasnya.

“Gangguan kesehatan mental dan stres berlebih dapat menjadi hambatan besar untuk tidur yang cukup, sehingga mencari bantuan untuk kesehatan mental dan manajemen stres dapat membantu memperbaiki kualitas tidur,” tegas Johannes. “Selain itu, tidur yang buruk dan tidak cukup bisa menjadi tanda gangguan tidur, sehingga penting untuk berkonsultasi dengan dokter guna mengetahui penyebabnya.”

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :