VISI.NEWS | BANDUNG – Pengasuh Pondok Pesantren Cadangpinggan Indramayu, Jawa Barat DR KH Abdul Syakur Amin (Buya Syakur) menyatakan bahwa ibadah haji bukan syariat langsung dari Nabi Muhammad, tetapi melanjutkan tradisi yang sudah ada sebelumnya di jazirah Arab.
Dalam sebuah video yang beredar, Buya Syakur mengatakan bahwa haji itu seperti main-main, camping-campingan, muter-muter bangunan, mondar-mandir, dan lempar-lemparan. “Itu artinya ibadah haji bukan syariat langsung dari Nabi Muhamamd tetapi tradisi itu sudah ada sebelum Nabi Muhammad lahir. Kaerifan lokal di jazirah Arabiya,” ungkap Buya Syakur.
Buya Syakur menambahkan bahwa haji merupakan kegiatan napak tilas yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan. “Napak tilas tentang seseorang yang mencari Tuhan namanya Nabi Ibrahim. Dan Nabi Ibrahim panutan Nabi Muhammad,” pungkasnya.
Menurut Kompas.com, ibadah haji pertama kali diperintahkan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim setelah selesai membangun Ka’bah. Nabi Ibrahim menyerukan perintah ibadah haji dari bukit Jabal Qubays di selatan Ka’bah. Tata cara ibadah haji ini kemudian dilanjutkan oleh putranya, Nabi Ismail.
Namun, sepeninggal Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, tata cara dan tujuan ibadah haji banyak diubah bangsa Arab. Ka’bah dan Tanah Haram terdapat patung dan berhala. Tradisi menyimpang ini baru berubah setelah datangnya Nabi Muhammad, nabi terakhir yang diutus Allah SWT. Pada masa kenabiannya, Nabi Muhammad diutus untuk memperbarui syariat Nabi Ibrahim dan meluruskan kekeliruan yang telah berlangsung selama ribuan tahun.
Menurut syariah, haji adalah perjalanan spiritual yang dilakukan oleh umat Islam untuk menghadiri beberapa ritual di masjidil Haram di Makkah. Haji juga merujuk pada setiap ibadah yang dilakukan di masjidil Haram. Perjalanan ini dilakukan setiap tahun pada bulan Dzulhijjah, yang merupakan bulan terakhir dalam kalender Islam.
@mpa