


REFLEKSI | Ludah, Waktu, dan Runtuhnya Menara Gading
Oleh Didi Subandi SECANGKIR kopi baru saja mendarat di meja. Hitam. Diam. Uapnya meliuk pelan ke udara, seperti sebuah doa yang ragu-ragu, atau mungkin sisa amarah yang perlahan mendingin. Saya menyesapnya sedikit: pahit, pekat, dan jujur. Tak ada gula yang menyamarkan rasa. Di dasar cangkir itu, nanti, akan tertinggal ampas—sesuatu










