Search
Close this search box.

Curug Roda: Keindahan yang Kurang Sentuhan

Jalan menuju Curug Roda. /visi.news/aepsa

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG — Tidak semua keindahan gemar memamerkan diri. Sebagian memilih bersembunyi, menunggu orang-orang yang cukup sabar untuk mencarinya. Di Bandung Selatan, ada satu air terjun yang termasuk dalam kategori itu. Namanya Curug Roda. Diam-diam, ia menyimpan pesona yang membuat siapa pun yang datang ingin kembali lagi.

Curug Roda berada di kawasan Gunung Kolotok, sebuah gunung yang mungkin namanya tak sepopuler destinasi lain, tetapi justru itulah daya tariknya. Gunung ini terletak di perbatasan Desa Cinanggela, Kecamatan Pacet; Desa Cikalong, Kecamatan Banjaran; serta Desa Pasir Buntu, Kecamatan Arjasari. Gunung Kolotok bukan gunung tinggi menjulang, jalurnya bersahabat, bahkan sering dipakai untuk track cross karena tanjakannya tidak terlalu ekstrem. Sekitar 50 hektare wilayahnya ditanami pohon pinus yang tertata rapi, sementara sebagian lainnya dimanfaatkan warga untuk kebun kopi. Udara sejuk dan suasana sunyi menjadi teman setia sepanjang perjalanan.

Secara administratif, Curug Roda masuk wilayah Desa Mekarjaya, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Curug ini juga dikenal dengan sebutan Curug Panganten—nama yang mengundang rasa penasaran, entah berasal dari cerita rakyat atau sekadar istilah turun-temurun. Yang pasti, Curug Roda masih tergolong wisata alam yang “perawan”, belum banyak disentuh penataan serius. Saat dikunjungi Kamis (18/12/2025), perbaikan akses jalan memang sudah mulai terasa. Pemerintah pusat dan desa perlahan turun tangan. “Pemerintah desa sudah membangun sekitar 100 meter jalan menuju gerbang masuk curug, meski belum sampai ke lokasi utama,” ujar Nandang, warga setempat.

Namun, perjuangan menuju Curug Roda masih menyimpan cerita sendiri. Dari gapura Jalan Pasir Pogor, lebar jalan belum cukup ramah untuk dua mobil berpapasan. Tak jarang, salah satu kendaraan harus mengalah, bahkan masuk ke pekarangan warga agar bisa saling lewat. Kondisi ini menjadi catatan penting jika Curug Roda ingin naik kelas sebagai destinasi wisata unggulan.

Baca Juga :  Ledakan AI di Ruang Operasi Picu Kekhawatiran: Laporan Cedera Meningkat, Pengawasan Dipertanyakan

Sesampainya di area camping ground dekat gapura masuk, pengunjung bisa beristirahat sejenak. Bangku-bangku sederhana dari batang kayu sudah tersedia, menyatu dengan alam. Jarak menuju curug sekitar 1,5 kilometer dari titik ini. Ada pula bekas “skywalk” bambu yang tampaknya hasil inisiatif desa. Sayang, kondisinya kini perlu perbaikan agar kembali aman dan nyaman, terutama bagi pengunjung yang gemar berswafoto.

Perjalanan sesungguhnya dimulai saat kaki melangkah di jalan setapak menuju curug. Rimbunan pepohonan pinus menjulang tinggi, menciptakan lorong alami yang teduh. Udara segar terasa di setiap tarikan napas. Hingga di titik pertigaan menuju Desa Cinanggela, jalurnya tetap berupa jalan setapak. “Jalannya kecil sampai Cinanggela, tidak bisa dilewati mobil,” jelas Nandang. Tapi justru di situlah keindahannya: perjalanan yang memaksa kita melambat.

Di sisi kanan jalan, barisan pohon pinus berdiri anggun. Di sisi kiri, kebun kopi milik warga Cinanggela tumbuh subur. Ada satu titik yang seolah menjadi “jendela estetik” alami—celah di antara pepohonan yang membuka pandangan ke seberang bukit. Dari sana, mata dimanjakan hamparan hijau pinus yang tertata rapi sejauh pandangan menjangkau. Sebelum tiba di curug, pengunjung harus menyeberangi parit kecil. Andai dibuatkan jembatan mungil yang artistik, perjalanan ini bukan hanya lebih aman, tapi juga menambah daya tarik visual.

Padahal, dengan sentuhan ringan saja, Curug Roda bisa melesat jadi destinasi unggulan. Jembatan kecil di titik-titik licin, anak tangga sederhana di jalur terjal, atau penataan jalur agar tak perlu memutar jauh—hal-hal kecil yang dampaknya besar bagi kenyamanan dan keselamatan pengunjung. Apalagi, suasana hutan pinus di sepanjang perjalanan sudah menghadirkan nuansa romantis yang sulit ditandingi.

Di kawasan Curug Roda sendiri terdapat tiga air terjun. Curug pertama menuntut kewaspadaan ekstra karena ada batu besar di tengah aliran air yang licin dan sulit dijadikan pijakan. Namun justru di situlah tantangan dan keasliannya. Area ini cocok untuk camping ground, hiking, jelajah sepeda gunung, atau sekadar bermain air dan membiarkan pikiran mengalir bersama gemericik air.

Baca Juga :  Kejati Jabar Teken Kerja Sama dengan Jasa Marga Group

Mengunjungi curug bukan semata soal berburu foto cantik. Banyak orang datang untuk mencari jeda, menenangkan pikiran, atau sekadar tadabbur alam—merenungi dan mensyukuri ciptaan Tuhan. Karena itu pesannya sederhana tapi penting: jaga alam. Jangan buang sampah sembarangan, bawa kembali sampahmu, dan hormati tempat yang sudah memberi keindahan tanpa pamrih.

Di balik perlahan dikenalnya Curug Roda, ada mimpi besar yang terus dijaga agar tetap menyala. Bagi Dindin Rusad Nurdin, S.Sos, Kepala Desa Mekarjaya, mimpi tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus dicatat, didiskusikan, dimusyawarahkan, lalu diwujudkan. Curug Roda adalah salah satu mimpi itu—mimpi tentang kesejahteraan warga lewat pariwisata berbasis alam.

Desa Mekarjaya sendiri lahir dari pemekaran Desa Tenjonagara pada 1984. Namanya bermakna “mekar” dan “jaya”—desa yang terus berkembang dan lestari. Filosofi itu kini dicoba diterjemahkan lewat pengembangan Taman Wisata Curug Roda. Sejak rapat koordinasi 4 Juni 2021, bersama perangkat desa, Babinsa, RW, RT, dan relawan, arah pengelolaan mulai disusun. Fokusnya bukan hanya wisata, tetapi juga pelibatan masyarakat dan generasi muda sebagai penjaga masa depan alam mereka sendiri.

Curug Roda mungkin belum sempurna. Jalannya masih sempit, penataannya belum tuntas. Tapi justru di sanalah keindahannya tumbuh—sebuah destinasi yang bukan hanya menawarkan panorama, melainkan juga cerita tentang mimpi, kerja bersama, dan harapan. Sebuah ajakan halus untuk datang, menikmati, lalu pulang dengan rasa tanggung jawab: menjaga agar keindahan ini tetap ada untuk esok hari.***

@aep sa

Baca Berita Menarik Lainnya :