VISI.NEWS |JAKARTA- Di balik program Makan Bergizi Gratis, ada aliran besar yang tak hanya mengisi piring, tetapi juga menggerakkan kehidupan di daerah. Dana ratusan triliun rupiah kini mengalir hingga ke tingkat lokal, menghadirkan perubahan yang mulai dirasakan masyarakat.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyebutkan bahwa anggaran sebesar Rp 248 triliun hingga Rp 249 triliun disalurkan langsung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di berbagai daerah. Dana ini masuk melalui sistem yang langsung menyentuh unit layanan di lapangan.
“Dana itu kita alirkan langsung ke daerah melalui virtual account di setiap SPPG. Sekitar Rp 248 triliun–Rp 249 triliun mengalir ke bawah dan dibelanjakan di daerah,” ujar Dadan dalam Forum U25 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum di Makassar, Rabu (29/4/2026).
Di setiap unit, anggaran yang dikelola mencapai sekitar Rp 1 miliar per bulan. Dana tersebut sebagian besar digunakan untuk membeli bahan pangan dari masyarakat sekitar. Produk hasil pertanian, peternakan, dan perikanan lokal menjadi tulang punggung pasokan.
“Setiap unit SPPG mengelola anggaran sekitar Rp 1 miliar per bulan,” ucap dia.
Bagi banyak pelaku usaha kecil dan petani, program ini membuka peluang baru. Permintaan terhadap hasil produksi meningkat, aktivitas usaha menjadi lebih hidup, dan roda ekonomi berputar lebih cepat.
“Artinya, program makan bergizi ini identik dengan kemandirian pangan lokal, karena hampir seluruh kebutuhan dipasok dari dalam daerah,” kata dia.
Di Jawa Barat, dampak tersebut mulai terlihat. Dengan sekitar 6.200 unit SPPG, perputaran dana mencapai sekitar Rp 6 triliun setiap bulan. Angka ini menjadi gambaran bagaimana program tersebut menyentuh banyak lapisan masyarakat.
“Di Jawa Barat sudah ada 6.200 SPPG. Artinya sekitar Rp 6 triliun per bulan uang beredar di daerah hanya dari program ini,” ungkap dia.
Seiring berjalannya waktu, perubahan mulai terasa. Aktivitas ekonomi meningkat, peluang kerja bertambah, dan kesejahteraan masyarakat perlahan terdorong. “Kami mendapat laporan dari beberapa daerah, gini ratio mulai menyempit, angka kemiskinan turun, dan pengangguran juga menurun karena uang beredar di masyarakat,” kata Dadan.
Di balik angka angka besar tersebut, tersimpan cerita tentang dapur dapur kecil di daerah yang kini menjadi pusat aktivitas baru. Dari sana, bukan hanya makanan bergizi yang disajikan, tetapi juga harapan bagi kehidupan yang lebih baik.
@Ihda