Search
Close this search box.

DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Al-Hikamussalafiyah Sumedang,

Mama Ajengan Muhammad Aliyuddin sedang menyampaikan wejangan bagi santri-santrinya di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah yang terletak di Jln. Sukamantri, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang. /visi.news/bambang melga suprayogi/dok

Bagikan :

  • Selama bulan Ramadan 1444 H ini, InsyaAllah akan hadir tulisan-tulisan dari Bambang Melga Suprayogi, M.Sn., yang mengunjungi beberapa pondok pesantren di Jawa Barat. Tulisan mengupas profil pesantren dan kiai sepuhnya, proses pendidikan dan amaliah yang biasa mereka jalankan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca yang budiman.

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

PERJALANAN penulis kali ini ke Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah di Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang, tepatnya sebelah barat pusat Kota Sumedang di Jalan Sukamantri, RT 003 RW 004, Desa Sukamantri.

Pesantren yang satu ini sangat menarik untuk didatangi, karena menuju ke sana kita akan dibawa ke alam pedesaan Pasundan yang sangat elok, asri, berkelok, naik dan turun, serta akan disuguhi sepanjang mata memandangan memesona keindahan alam pedesaan yang memanjakan mata kita. Otomatis, saat kita menuju ke pesantren tersebut, kita diajak untuk mensyukuri ciptaan Allah SWT.

Menikmati perjalanan menuju Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah, hati kita serasa dalam perjalanan batin, yang mau tidak mau, kita dibawa buat bertasbih, dan berdzikir.

bbg2
Rakor Literasi Digital yang diadakan oleh PW LTN NU Jabar di Aula Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah. /visi.news/bambang melga suprayogi./dok

Alhamdulillah, rasanya bersyukur bagi yang pernah singah, dan mengetahui keberadaan pesantren ini, karena nun jauh di pedalaman daerah Sumedang, kita bisa menemukan mutiara Islam yang sinarnya sampai menyilaukan banyak kalangan di negeri ini.

Beruntunglah kita menemukan setitik oase, mata air indah, yang airnya jernih, dan membuat kita bahagia, karena pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah tersebut, mampu memberi warna, dan arti tersendiri, yang keberadaannya di Jawa Barat sangat diperhitungan.

Itu terlihat jelas, sampai-sampai para petinggi negara kita, tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) pusat, apalagi orang-orang PWNU Jabar, sudah tak asing dengan para pendiri pesantren ini, dan seringkali mereka menyengajakan datang ke sini, bersilaturahmi, membahas banyak hal, dan membuat keputusan-keputusan penting di pesantren ini.

Baca Juga :  Inter Selangkah Lagi Kunci Gelar Usai Napoli Tertahan

Penulis sendiri saat ke sana, belum mengenali apa dan siapa mama kiai pendirinya, dan bisa di kata, tak sengaja penulis harus ada di sana, karena harus mengikuti Rakor LTNNU se-Jabar waktu itu.

Lewat tulisan ini, kita sama-sama akan mengenali sejarah dan keberadaan pesantrennya, agar setelah kita kenali, maka akan kita jaga setiap pesantren untuk bisa terus maju, dalam berkiprah memberi bekal ilmu bagi generasi penerus kita, yang harus kuat ilmu dan berkarakter. Hingga pada saatnya tiba, kala mereka menjadi tokoh-tokoh bangsa ini, dengan bekal ilmu agama, mereka amanah memegang jabatan, dan gigih memajukan negeri ini lebih dari sebelumnya. Aaamiin.

bbg
Penulis foto bersama KH. Sa’dulloh putra Mama sepuh Muhammad Aliyuddin. /visi.news/bambang melga suprayogi/dok

Kiai Desa

Mama Ajengan Muhammad Aliyuddin sebagai Pendiri (Muassis) Pondok Pesantren tersebut, adalah kiai desa yang luar biasa semangatnya, ia mulai berjuang merintis pesantren ini pada tahun 1968, di saat orang belum banyak melek ilmu di daerahnya, dan berawal dari mengajari ngaji untuk anak-anak kampung yang dididik dirumahnya sendiri. Upayanya yang istiqamah, semakin menunjukkan hasil yang berkembang, hingga apa yang Mama Kiai Muhammad Aliyuddin lakoni dengan sepenuh kesabaran yang luar biasa itu, akhirnya berbuah manis, dengan semakin banyaknya anak-anak yang datang untuk belajar ngaji padanya, hal ini lah yang menjadi pembuka bagi kesuksesan.

Militan Syiar Islam

Ternyata ia bukan ajengan desa biasa, jiwa militansinya dalam mensyiarkan agama tak lepas dari pengaruh tarekat yang ia tekuni dari semenjak lama. Dan jiwa-jiwa yang membentuknya menjadi memiliki keyakinan kuat seperti ini, merupakan tempaan dari hasil ia menjalankan Thariqah Syattariyah, sehingga secara prinsip ia kuat memegang teguh karakternya, prinsipnya, pandangannya, dan keberaniannya sangat kuat, tak mudah digoyahkan

Baca Juga :  Kemenkes Perketat Penyaringan Hantavirus setelah Kasus di Kapal Pesiar

Itu bisa dilihat dari rekam jejaknya yang kuat. Saat ia mendirikan sekolah menamakan sekolahnya SMP NU. Ia tetap mamakai nama SMP NU, padahal di tahun-tahun masa kuatnya pengaruh orde baru, nama NU sangat dijegal rezim orde baru, yang seakan haram untuk dipakai, karena identitasnya lebih dominan bergeser ke afiliasi lembaga NU nya, yakni Maarif, dan itu yang banyak terjadi di berbagai daerah, namun tidak dengan yang di Sumedang ini.

Saking kuatnya pengaruh dan proses pengalaman yang terus bertambah, akhirnya Mama Kiai Muhammad Aliyuddin ini pun diangkat menjadi tokoh Thariqah Syattariyah untuk diwilayah Kabupaten Sumedang sampai saat ini.

Karakter Kiai Aliyudin

Alhamdulillah, penulis sempat berjabat tangan, dan ikut menyambut kedatangan Mama Kiai Aliyudin, saat ia membuka kegiatan Seminar Literasi Digital yang diadakan oleh PW LTN NU Jabar di Aula Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah. Pembawaannya yang tenang, bersahaja, ramah, supel, dan penuh wibawa, sangat membekas pada ingatan penulis.

Yaa…Mama Kiai Aliyudin itu sangat kharismatik, dan dihormati oleh banyak kalangan. Sepak terjangnya selagi muda akhirnya membuahkan hasil usaha yang patut di contoh oleh siapapun. Kita belajar dari kiprah Mama Kiai Muhammad Aliyuddin, bahwa Allah akan selalu memberi jalan bagi hambaNya yang terus berproses.

Amaliyah Pesantren

Sebagai tokoh Thariqah Syattariyah, aspek dzikir merupakan amalan yang selalu dilaksanakan. Dzikir sebagai aspek untuk mendekatkan diri pada Tuhannya, dibarengi juga dengan membangun ketenangan hati dengan berkhalwat, menyepi, atau menenangkan jiwa bermeditasi, itu penting diamalkan. Ini pastinya menjadi kebiasaan, dan di lakukan setiap hari, sebagai bukti cinta pada Sang Khaliq secara individu, dimana dzikir secara individu ini, dilakukan pada waktu-waktu tertentu, yang dianggap mustajab oleh Mama Kiai Muhammad Aliyuddin.

Baca Juga :  Klok Tegaskan Mentalitas Menang Persib di Laga Krusial

Adapun waktu berdzikir untuk kegiatan dzikir thariqah, secara bersama-sama itu dilakukan pada satu bulan sekali, tepatnya pada setiap tanggal 11 bulan Hijriyah. Hal ini dikuatkan dengan kehadiran Jatman Kabupaten Sumedang, yang dipimpin oleh K.H. Asep Munawar. Dimana pembacaan manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jaelani, merupakan keutamaan dalam majelis tersebut, dan selanjutnya diberikan waktu khusus untuk pengajian, yang disampaikan oleh Mama Ajengan Muhammad Aliyuddin. Alhamdulillah.***

Baca Berita Menarik Lainnya :