VISI NEWS | KABUPATEN BANDUNG – Tumpukan sampah yang selama ini dianggap masalah, justru dilihat berbeda oleh Direktur Utama PT Cipta Visi Sinar Kencana (CVSK), Sonson Garsoni. Alumni IPB itu memimpin perusahaan teknologi pengolahan biomasa tersebut sejak 1994 dan kini membawa gagasan yang tidak biasa, mengubah sampah menjadi produk pertanian hingga parfum alami bernilai tinggi.
PT CVSK selama ini dikenal sebagai penyedia teknologi alat dan mesin pengolahan biomasa, mulai dari sampah rumah tangga, limbah ternak, limbah pertanian, hingga instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa berbasis metode Biophos kkogas. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan mulai masuk lebih dalam ke jasa pengelolaan sampah karena persoalan Tempat Pembuangan Akhir yang semakin sulit ditangani.
Menurut Sonson Garsoni, regulasi yang membatasi sampah masuk ke TPA membuat teknologi pengolahan menjadi kebutuhan mendesak. Dari situ, CVSK menawarkan pengelolaan sampah kepada pabrik, kawasan perumahan, hotel, hingga restoran melalui fasilitas TPST yang mereka bangun di Banjaran dengan tarif Rp350 ribu per ton.
Ia menjelaskan bahwa bisnis sampah memiliki karakter unik karena bahan bakunya justru dibayar oleh pihak penghasil sampah. Kondisi itu disebutnya sebagai anomali ekonomi karena perusahaan menerima bayaran untuk memperoleh bahan baku produksi.
Di tangan CVSK, sampah organik tidak sekadar menjadi kompos biasa. Perusahaan mengembangkan konsep kompos nano dan pupuk nano dengan partikel sangat kecil agar mudah diserap tanaman melalui daun maupun akar. Hasil pengolahan tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Koperasi Desa Langonsari untuk mendukung sektor pertanian anggota koperasi.
Selain kompos nano dan pupuk nano, hasil pengolahan juga menghasilkan bayocar yang digunakan memperbaiki kesuburan lahan. Dari lahan yang semakin subur itu, koperasi menanam nilam yang menjadi bahan utama parfum dan kosmetik. Minyak nilam bahkan disebut memiliki nilai ekonomi tinggi dengan harga lebih dari Rp1 juta per kilogram. Justru MInyak nilalm tersbetu sering di gunakan untuk parfum brand internasional seperti Christian Dior, Hermes dan Produk internasional lainnya.
Sementara itu, sampah anorganik diproses melalui pirolisis menjadi arang dan briket. Produk tersebut digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak daun nilam dalam proses produksi minyak nilam sehingga mampu menggantikan kayu bakar yang selama ini digunakan masyarakat.
Di fasilitas pengolahan itu, mesin pemilah memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah organik diproses menjadi kompos dan pupuk, sedangkan bagian lainnya menghasilkan bahan bakar hingga bioenergi. Bahkan sisa makanan dan buah seperti nanas dapat diolah menjadi etanol menggunakan mesin destilator.
Rangkaian proses tersebut akhirnya melahirkan produk parfum alami bernama Elsari. Parfum itu dibuat dari minyak nilam hasil budidaya koperasi yang ditanam menggunakan pupuk hasil pengolahan sampah sendiri.
Sonson Garsoni menyebut parfum Elsari memiliki cerita berbeda dibanding produk pewangi sintetis yang banyak beredar di pasaran. Selain berasal dari bahan alami, parfum itu lahir dari proses pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan terhubung langsung dengan pemberdayaan petani desa.
Koperasi Desa Merah Putih Langonsari di Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, disebut menjadi satu satunya koperasi di Indonesia yang mengembangkan rantai produksi parfum alami berbasis pengolahan sampah terpadu seperti tersebut.
@Ihda