VISI.NEWS | JAKARTA – Pemerintah menanggapi penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Investors Service dari stabil menjadi negatif dengan nada optimistis. Alih-alih melihatnya sebagai sinyal bahaya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru menilai penilaian tersebut tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang disebutnya tengah menguat.
Dalam keterangannya di Kementerian Keuangan, Jumat (6/2), Purbaya menegaskan bahwa perubahan outlook tersebut bukan gambaran pelemahan struktural.
“Ya biar saja seperti itu. Itu justru menjelaskan ekonomi kita sudah berbalik arah, lebih cepat daripada sebelumnya. Ke depan akan membaik juga, lebih bagus lagi, pertumbuhan akan lebih cepat,” ujarnya.
Purbaya menjelaskan, lembaga pemeringkat pada dasarnya melihat dua hal utama: kemampuan dan kemauan suatu negara untuk membayar utangnya. Menurutnya, Indonesia masih berada pada posisi yang kuat dalam kedua aspek tersebut. Ia menilai kekhawatiran yang muncul lebih banyak dipengaruhi faktor jangka pendek dan sikap hati-hati pelaku pasar global.
Ia menambahkan bahwa indikator ekonomi terbaru, terutama kinerja pada kuartal IV, menunjukkan tren yang solid. Dengan rasio utang yang relatif terjaga dibanding banyak negara lain, ia menilai tidak ada alasan mendasar untuk meragukan ketahanan fiskal Indonesia.
“Yang mereka khawatirkan itu sebenarnya bukan soal defisit, tapi takut defisit melebar. Padahal mereka tahu saya bisa kendalikan dengan baik,” kata Purbaya.
Meski tidak terlalu mempermasalahkan perubahan outlook tersebut, pemerintah tetap menyiapkan langkah konkret untuk menjaga momentum pertumbuhan. Purbaya menyebut berbagai program strategis akan terus dipacu, termasuk peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) serta Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Pasti kita akan memastikan ekonomi berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Program MBG kita pastikan berjalan tepat sasaran, efektif, dan efisien,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah juga memperketat pengawasan belanja negara. Kementerian Keuangan disebut tengah mengevaluasi anggaran kementerian dan lembaga secara menyeluruh untuk memastikan penggunaan dana publik lebih efisien dan tepat sasaran. Langkah ini juga mencakup pengawasan belanja di tingkat pemerintah daerah.
Ke depan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan terus diarahkan sebagai alat pendorong pertumbuhan ekonomi, terutama melalui program-program yang berdampak langsung pada masyarakat seperti layanan kesehatan, ketahanan pangan, perumahan rakyat, dan penguatan layanan publik.
Dengan kombinasi antara akselerasi program prioritas dan pengendalian defisit, pemerintah meyakini fondasi ekonomi nasional tetap kuat di tengah dinamika global. Outlook boleh negatif, namun arah kebijakan, menurut Purbaya, tetap fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan dan stabilitas fiskal yang terjaga. @kanaya