Search
Close this search box.

Dolar AS Melemah di Tengah Gejolak Pasar Global

Dolar./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Nilai tukar dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026) di tengah mulai meredanya aksi jual obligasi global serta meningkatnya kehati hatian investor terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan suku bunga dunia. Pelemahan ini terjadi setelah dolar sempat mencatat penguatan mingguan terbaiknya dalam lebih dari sembilan bulan.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama lainnya tercatat turun 0,3 persen ke level 99,19. Sebelumnya, dolar sempat menguat tajam karena pelaku pasar memperkirakan bank sentral global akan mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga akibat tekanan inflasi yang terus meningkat.

Salah satu pemicu utama perubahan sentimen pasar berasal dari gejolak di pasar obligasi global. Pekan lalu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, Inggris, hingga Jepang melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak yang dipengaruhi konflik Iran dan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz.

Kondisi itu membuat investor mulai memperhitungkan kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter Federal Reserve. Alih alih menurunkan suku bunga, pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga kembali terbuka.

“Kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh Perang Iran meluas melampaui kenaikan harga minyak dan komoditas lainnya. Hal ini terbukti pada Jumat lalu ketika suku bunga melonjak,” kata Kepala Ekonom Moody’s Analytics Mark Zandi dalam keterangannya dikutip, Selasa (19/5/2026).

Menurut Zandi, kenaikan imbal hasil obligasi AS mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang semakin sulit dikendalikan. Situasi tersebut menjadi tantangan besar bagi Federal Reserve, terutama menjelang pergantian kepemimpinan bank sentral Amerika Serikat.

“Dan dengan alasan yang kuat. Perang tersebut mendorong ekspektasi inflasi, dan tidak ada yang lebih menakutkan bagi Fed selain ekspektasi inflasi yang tidak terkendali,” katanya.

Baca Juga :  Gregoria Mariska Tunjung Resmi Mundur dari Pelatnas PBSI

Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara negara G7 di Prancis. Forum tersebut membahas dampak ekonomi global akibat konflik Timur Tengah serta volatilitas harga energi dan pasar keuangan internasional.

Sementara dolar melemah, euro menguat 0,3 persen menjadi USD1,1654 dan poundsterling naik 0,8 persen menjadi USD1,3434. Yen Jepang juga menjadi perhatian setelah muncul dugaan intervensi pemerintah Jepang untuk menahan pelemahan mata uang mereka beberapa waktu lalu.

Situasi ini menunjukkan bahwa pasar global masih bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan arah kebijakan suku bunga dunia. Investor kini menunggu langkah Federal Reserve berikutnya di tengah ancaman inflasi yang kembali meningkat. @desi

Baca Berita Menarik Lainnya :