VISI.NEWS | BANDUNG – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Angkatan Laut Israel mencegat armada misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang tengah berlayar menuju Gaza, Palestina. Dalam operasi tersebut, sejumlah aktivis dan jurnalis dari berbagai negara dilaporkan ditahan, termasuk sembilan warga negara Indonesia yang berada di dalam rombongan.
Pencegatan terjadi pada Senin waktu setempat di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur. Berdasarkan laporan media Israel The Jerusalem Post, operasi dilakukan oleh pasukan elite laut Shayetet 13 yang menaiki kapal kapal peserta armada kemanusiaan.
Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan suasana saat para aktivis dipindahkan ke kapal militer Israel sebelum diarahkan menuju Pelabuhan Ashdod. Dalam video tersebut, para peserta misi sempat memperkenalkan diri dan menegaskan bahwa mereka merupakan rombongan sipil yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza.
“Kami membawa pasokan kemanusiaan,” terdengar dalam video yang diunggah melalui akun Instagram Global Peace Convoy dan selebriti Chiki Fauzi.
“Profesional kesehatan, bantuan kesehatan, dan partisipasi publik dari 41 negara,” lanjut pernyataan dalam video itu.
Sebelum operasi dilakukan, Kementerian Luar Negeri Israel disebut telah meminta armada Global Sumud Flotilla membatalkan pelayaran dan berbalik arah. Namun konvoi tetap melanjutkan perjalanan menuju Gaza sehingga Israel melakukan intersepsi.
“Namun armada tetap melanjutkan pelayaran menuju Gaza sehingga militer mengambil tindakan intersepsi,” tulis laporan media tersebut.
Pemerintah Israel menilai armada itu bukan sekadar misi kemanusiaan, melainkan memiliki unsur provokasi politik. Otoritas Israel juga menuding sebagian organisasi yang terlibat memiliki keterkaitan dengan Hamas, meski tuduhan tersebut belum mendapat tanggapan resmi dari peserta misi.
Sejumlah kapal yang dipastikan dicegat antara lain Amanda, Barbados, Blue Toys, Cactus, Furleto, Holy Blue, Kyriakos, Tenaz, Zio Fatare, dan Josef. Selain itu, terdapat kapal lain yang diduga turut ditahan yakni Jandabar dan Sadabad.
Di antara peserta misi terdapat sembilan warga negara Indonesia yang terdiri dari jurnalis dan aktivis kemanusiaan. Mereka adalah Thoudy Badai, Hendro Prasetyo, Andre Prasetyo, Andi Angga, Ronggo Wirasanu, Herman Budianto, As’ad Aras, Rahendro Herubowo, dan Bambang Nuryono.
Penahanan para WNI tersebut langsung mendapat respons dari pemerintah Indonesia. Kementerian Luar Negeri RI mengecam tindakan militer Israel yang mencegat armada kemanusiaan internasional tersebut.
“Kementerian Luar Negeri mengecam keras tindakan militer Israel yang telah mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur,” ujar Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela.
Kemlu RI menyebut situasi di lapangan masih sangat dinamis sehingga berbagai kemungkinan perkembangan masih terus dipantau. Pemerintah Indonesia juga bergerak cepat dengan melakukan koordinasi lintas perwakilan diplomatik di kawasan Timur Tengah.
“Sejak awal Kemlu c.q Dit. PWNI telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman guna menyiapkan langkah antisipatif demi memastikan keselamatan dan percepatan proses pemulangan mereka,” kata Vahd.
Selain itu, Kemlu RI juga terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk memperoleh informasi terbaru mengenai kondisi para WNI yang ikut dalam misi tersebut.
“Kemlu RI juga terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi para WNI, sekaligus menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi pelindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan,” lanjutnya.
Pemerintah menegaskan perlindungan terhadap warga negara Indonesia tetap menjadi prioritas utama di tengah situasi konflik yang berkembang cepat di kawasan.
“Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat,” ujarnya.
Insiden ini terjadi ketika situasi geopolitik Timur Tengah sedang berada dalam fase sensitif. Konflik Gaza yang belum mereda, ketegangan Israel dan Lebanon, hingga negosiasi terkait konflik Amerika Serikat dan Iran membuat kawasan berada dalam kondisi yang dinilai rapuh oleh banyak pengamat internasional.
Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko terhadap misi kemanusiaan internasional yang mencoba masuk ke Gaza. Di sisi lain, penahanan jurnalis dan relawan sipil dalam operasi ini kembali memunculkan perhatian global terkait keselamatan pekerja media dan aktivis kemanusiaan di wilayah konflik.
Peristiwa pencegatan Global Sumud Flotilla 2.0 kini menjadi sorotan internasional karena dinilai tidak hanya menyangkut isu keamanan, tetapi juga akses bantuan kemanusiaan dan kebebasan pers di tengah perang yang masih berlangsung. @desi