VISI.NEWS | JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026), setelah sebelumnya menguat pada hari Rabu. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.640 per US$, turun 0,23 persen. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak cukup volatil, sempat melemah hingga Rp17.685 sebelum menutup sedikit lebih baik.
Penguatan dolar AS, tercermin dari indeks DXY yang naik 0,22 persen ke level 99,308, menjadi salah satu faktor utama tekanan terhadap rupiah. Minat pelaku pasar terhadap greenback kembali meningkat seiring ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve. Risalah rapat terakhir Fed menunjukkan sebagian besar pembuat kebijakan mendukung kenaikan suku bunga apabila inflasi tetap di atas target 2 persen. Pasar kini memperkirakan peluang 70 persen untuk kenaikan 25 basis poin pada Desember, dengan kenaikan paling lambat diprediksi Maret 2027.
Di sisi domestik, Bank Indonesia telah mengambil langkah stabilisasi dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur Rabu (20/5/2026). Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai respons BI sangat tepat. Menurutnya, kenaikan ini bukan sekadar penyesuaian suku bunga, tetapi juga penegasan bahwa kebijakan moneter Indonesia tetap dijaga sebagai jangkar stabilitas.
“Keputusan BI sudah tepat. Ini bukan sekadar kenaikan suku bunga, ini adalah pernyataan bahwa policy anchor Indonesia masih dijaga. Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia tidak boleh terlambat. Kalau terlambat, biaya stabilisasi akan jauh lebih mahal,” ujar Fakhrul dalam keterangannya dikutip, Kamis (21/5/2026).
Ia menambahkan, tekanan saat ini bukan sekadar volatilitas biasa, melainkan fase yang memerlukan respons moneter pre-emptive.
Fakhrul memproyeksikan bahwa langkah BI dapat menjadi titik balik bagi rupiah. Dengan dukungan koordinasi kebijakan yang baik, rupiah berpotensi menguat secara bertahap ke Rp17.300 per US$ sebagai titik awal, sebelum bergerak menuju level keseimbangan baru di sekitar Rp16.800 per US$. Strategi ini diharapkan memberi pasar jangkar baru, menahan overshooting rupiah, dan menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan. @desi