Indikator Kesehatan Masyarakat Tentukan Penilaian Risiko Penularan Covid-19

Wiku Adisasmito/bnpb
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NEWS – Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menggunakan indikator kesehatan masyarakat untuk membantu pemerintah daerah dalam penilaian tingkat risiko penularan di wilayahnya.

Ketiga indikator kesehatan masyarakat tersebut yakni epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan. Indikator epidemiologi merujuk pada kecenderungan kasus positif, meninggal dunia, orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP). Surveilans kesehatan masyarakat menyangkut kemampuan sistem kesehatan masyarakat untuk melakukan pemantauan, seperti deteksi kasus atau testing, pemantauan mobilitas penduduk serta pelacakan kontak.

Indikator terakhir, pelayanan kesehatan berfokus pada ketersediaan tempat tidur dan fasilitas rumah sakit untuk penanganan covid-19 dan alat pelindung diri (APD).

Indikator tersebut sesuai dengan rekomendasi Badan PBB untuk Kesehatan Dunia atau WHO.

Tim Pakar Gugus Tugas Nasional, Prof. Wiku Adisasmito, menyampaikan, setiap negara perlu menerapkan indikator kesehatan masyarakat untuk menentukan suatu daerah siap untuk melakukan kegiatan atau aktivitas sosial ekonomi berikutnya.

“Jadi indikator kesehatan masyarakat ini berlaku untuk semua daerah (di Indonesia tapi gambarannya setiap daerah berbeda-beda,” katanya dalam dialog di Media Center, Graha BNPB, Jakarta, awal pekan ini.

ia mencontohkan, salah satunya terkait dengan indikator epidemiologi, jika suatu wilayah terjadi penurunan jumlah kasus selama 2 minggu sejak puncak terakhir, ini sangat baik. Jumlah kasus ini tidak hanya pada kasus positif covid-19 melainkan juga kasus ODP dan PDP atau kasus probable yang ada di wilayah itu.

Menurut dia, tren waktu yang digunakan dalam dua mingguan dan bukan harian.

“Bukan prestasi naik-turun naik-turun, kalau kita melihatnya per hari bisa naik-turun naik-turun. Tapi kalau kita lihatnya perminggu, nanti bisa kelihatan, ini akan turun atau datar atau naik,” ujarnya, dilansir bnpb.go.id.

“Melalui ketiga indikator, kita dapat melihat tingkat risiko penularan covid-19 suatu wilayah, ujanya pula.

“Jadi, kalau kita mengukur tadi dengan indikator kesehatan masyarakat maka kita akan dapat peta risiko,” kata Prof. Wiku.

Dengan penilaian berdasarkan indikator kesehatan masyarakat, lanjut dia, masyarakat dapat mengetahui tingkat risikonya.

Gugus Tugas Nasional memetakan tiga tingkatan risiko, yaitu tinggi dengan warna merah, sedang berwarna kuning, rendah berwarna hijau, sedangkan warna biru merupakan wilayah yang tidak terdampak.

Lebih lanjut, iamenyanjelaskan alat navigasi yang dapat diakses oleh masyarakat untuk mengetahui risiko suatu wilayah, yaitu aplikasi Bersatu Lawan Covid-19 atau BLC.

“Ini sebuah sistem di mana seluruh data di Indonesia menjadi satu,” katanya.

“Jika Kalau masyarakat berpartisipasi mengisinya, dan seterusnya, kita bisa menggambarkan peta risiko. Peta risiko yang ada di sekitar kita,” ar dia.@awn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kawisata Hadirkan Tur Virtual ke Palembang

Rab Mei 27 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS – PT Kereta Api Pariwisata (Kawisata) kali ini menghadirkan tur virtual ke Kota Palembang yang terkenal dengan julukan Bumi Sriwijaya dalam program “Virtual Tours Goes To Palembang”. Tur ini dilakukan secara virtual sehingga para peserta tetap aman berada di rumah sambil mengikuti tur secara online atau streaming […]