Search
Close this search box.

Iran Tawarkan Kerja Sama Energi hingga Pesawat dalam Negosiasi Nuklir dengan AS

Orang-orang berkumpul di dekat rudal yang dipamerkan selama peringatan 47 tahun Revolusi Islam di Teheran, Iran 11 Februari 2026./source: Reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Iran menyatakan membuka peluang kerja sama ekonomi strategis dengan Amerika Serikat di sektor energi, pertambangan, hingga pembelian pesawat terbang sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan nuklir baru yang saling menguntungkan. Pernyataan ini disampaikan menjelang putaran kedua perundingan antara Teheran dan Washington yang dijadwalkan berlangsung pekan ini di Jenewa, Swiss.

Wakil Direktur Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Iran, Hamid Ghanbari, menegaskan bahwa keberlanjutan kesepakatan hanya dapat terjamin apabila kedua negara sama-sama memperoleh manfaat ekonomi nyata.

“Untuk keberlanjutan sebuah kesepakatan, sangat penting bahwa Amerika Serikat juga memperoleh keuntungan di sektor-sektor dengan imbal hasil ekonomi tinggi dan cepat,” ujarnya seperti dikutip kantor berita semi-resmi Fars, Minggu (15/2).

Menurut Ghanbari, sejumlah sektor yang dibahas dalam negosiasi mencakup kepentingan bersama di ladang minyak dan gas, investasi di bidang pertambangan, hingga potensi pembelian pesawat terbang. Ia menilai perjanjian nuklir 2015 tidak cukup memberikan kepentingan ekonomi bagi AS, sehingga membuka ruang untuk pendekatan baru yang lebih pragmatis.

Perundingan terbaru ini merupakan kelanjutan dari upaya kedua negara untuk meredakan ketegangan panjang terkait program nuklir Iran. Pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir 2015 pada 2018 dan kembali menjatuhkan sanksi ekonomi berat terhadap Teheran. Langkah tersebut memicu ketegangan yang terus berlanjut hingga kini.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington tetap mengedepankan jalur diplomasi, meskipun opsi lain tetap terbuka.

“Tak seorang pun pernah berhasil mencapai kesepakatan yang sukses dengan Iran, tetapi kami akan mencoba,” kata Rubio dalam konferensi pers di Bratislava.

Ia menambahkan bahwa Presiden Trump lebih memilih penyelesaian melalui negosiasi, meskipun belum ada jaminan hasilnya akan tercapai.

Baca Juga :  Empat Nama ‘Ngunci’ PKB Sidoarjo, Suara Nasih dan Usman Menguat, Usulan Nama Subandi Disortir

Sumber diplomatik menyebutkan bahwa utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan bertemu pejabat Iran di Jenewa. Pertemuan ini berlangsung dengan mediasi Oman dan hanya melibatkan Iran serta Amerika Serikat, berbeda dengan perundingan 2015 yang bersifat multilateral.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi telah bertolak ke Jenewa untuk mengikuti pembicaraan tidak langsung tersebut. Selain bertemu delegasi AS, ia juga dijadwalkan bertemu kepala badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa, International Atomic Energy Agency (IAEA).

Sinyal kompromi juga datang dari Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi. Dalam wawancara dengan BBC, ia menyatakan bahwa Iran bersedia menunjukkan fleksibilitas terkait program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi.

“Bola kini berada di tangan Amerika untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar ingin mencapai kesepakatan,” ujarnya.

Namun, Teheran tetap menolak tuntutan penghentian total pengayaan uranium di dalam negeri, yang selama ini menjadi titik krusial dalam negosiasi. Washington memandang pengayaan uranium di wilayah Iran berpotensi menjadi jalur menuju pengembangan senjata nuklir, tuduhan yang berulang kali dibantah Teheran.

Di tengah upaya diplomasi, tekanan militer dan ekonomi tetap membayangi. Amerika Serikat dilaporkan telah mengirim kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah sebagai bentuk antisipasi apabila perundingan gagal. Selain itu, Washington juga disebut tengah berupaya menekan ekspor minyak Iran ke China, yang menyerap lebih dari 80 persen ekspor minyak negara tersebut. Jika langkah ini terealisasi, pendapatan utama Iran dari sektor energi berpotensi tergerus signifikan.

Dengan kombinasi tekanan dan tawaran kerja sama ekonomi, perundingan pekan ini dipandang sebagai momentum penting yang dapat menentukan arah hubungan kedua negara setelah bertahun-tahun ketegangan dan sanksi. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :