Isu Dicovidkan di Tengah Pandemi

Editor :
Prosesi pemakaman jenazah terduga korban Covid-19 di Bandung. /visi.news/tania hazimah

Silahkan bagikan
  • Banyak keluarga di Kabupaten Bandung merasa keluarganya meninggal dicovidkan. Jadi fenomena sepanjang pandemi Covid-19.

VISI.NEWS | BALEENDAH – Eutik, warga Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, marah ketika jasad istrinya sudah dikemas dalam sebuah peti pada September 2021 lalu. Tubuh istrinya yang masih berpakaian lengkap dibalut ketat oleh plastik. Eutik yang tak terima jasad istrinya diperlakukan seperti itu, mengeluarkan tubuh tak bernyawa itu dari peti mati dan langsung membakar kayu wadah badan istrinya. Lingkungan sekitar rumah Eutik pun gempar.

Eutik marah karena saat istrinya dibawa ke rumah sakit beberapa hari sebelumnya, tidak ada indikasi atau hasil tes yang membuktikan istrinya terpapar Covid-19.

Walaupun Eutik mengakui, sang istri memang sudah mengidap penyakit yang mengharuskan istrinya mencuci darah seminggu dua kali.

Setelah dirawat, nyawa istrinya tidak dapat diselamatkan. Rumah sakit membawa pulang jenazah istrinya dengan protokol kesehatan Covid-19. Ia merasa istrinya “dicovidkan”, istilah yang banyak beredar di masyarakat selama pandemi, ketika seseorang disebut meninggal, yang kemungkinan penyebabnya karena terpapar Covid-19. Eutik yakin istrinya dicovidkan karena hasil rapid tes istrinya negatif Covid-19—walaupun hasil rapid tes bisa keliru bisa benar.

Nasib istri Eutik mirip dengan kejadian yang menimpa istri Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Ahmad Djohara, Neneng Hadiani. Neneng adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupten Bandung.

Neneng sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (READ) Jawa Barat Al-Ihsan selama tiga hari. Neneng sebelumnya mengeluh kena flu campur batuk serta sesak. Dengan keluhan seperti itu, membuat dia dirawat sebagai pasien Covid-19. “Di hari ke-3 dia dirawat, kondisinya sudah mendingan,” kata Ahmad Djohara kepada VISI.NEWS pada Sabtu (14/8/21). “Bahkan pada pukul dua siang dia minta dibelikan roti bakar.”

Baca Juga :  Paslon Nomor 2 Mengaku Kurang Puas dengan Debat Kedua Pilkada Kab. Bandung

Pria yang biasa disapa Ajo itu bergegas membeli roti bakar pesanan istrinya. Sesampainya di rumah sakit, ia terkejut ketika diberitahu bahwa istrinya sudah meninggal dunia. Hari itu Kamis, 22 Juli 2021, yang tidak akan pernah dilupakan oleh Ajo.

Dari anak laki-lakinya, Ajo tahu bahwa istrinya sempat megap-megap setelah diberi  sebutir pil oleh seorang perawat. Kondisi istrinya sangat repot setelah mengkonsumsi pil tersebut. Usai mendengar cerita dari anaknya, Ajo naik darah dan menanyakan ke perawat tersebut obat apa yang diberikan ke istrinya. Perawat itu tidak menjawab. Menurut Ajo, si perawat justru terlihat ketakutan.

Wakil Direktur RSUD Jawa Barat Al-Ihsan, Ferry Achmad Firdaus, menuturkan, sudah menjadi prosedur selama pandemi, pasien yang datang ke rumah sakit dengan gejala Covid-19 memang harus di test terlebih dahulu. Saat pasien tiba di rumah sakit, rumah sakit langsung memberikan surat pernyataan kepada pihak keluarga pasien, jika pasien akan dimasukkan ke ruangan isolasi sambil menunggu hasil tes covid-19.
Lain Akhmad Djohara, lain pula Nia, warga di salah satu kampung di Ciparay, Kabupaten Bandung. Nia lebih memilih pasrah setelah diberitahu bahwa ibundanya meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majalaya, Kabupaten Bandung. Awalnya ibunya Nia dilarikan ke rumah sakit karena mengeluh sakit lambung.
Nia mengakui, ibunya juga sudah kerap melakukan cuci darah karena penyakit batu ginjal. Kadar gula sang ibu juga diakui tiggi. Saat dirawat di rumah sakit, ibunya Nia ditempatkan di perawatan pasien Covid-19. Alasan rumah sakit, kata Nia, ibunya mengeluh sesak nafas, salah satu gejala kalau orang terpapar virus itu.

Beberapa hari dirawat di rumah sakit, ibunya Nia tak tertolong. Nia ditelepon oleh perwakilan RSUD Majalaya bahwa pemakaman sang ibu harus dengan protokol Covid-19, kendati dimakamkan di pemakaman umum. Nia merasa ibunya “dicovidkan”. Hingga Rabu (20/10/21) Nia belum menerima hasil tes Covid-19 atau surat keterangan apapun dari rumah sakit. “Pihak keluarga tidak memegang surat keterangan apapun,” ujar Nia kepada VISI.NEWS pada Rabu (20/10/21).

Baca Juga :  Pasar Kreatif Bandung 2021: Kesehatan Pulih, Ekonomi Bangkit

Ferry Achmad Firdaus, Wakil Direktur RSUD Jawa Barat Al-Ihsan, menjelaskan mengapa banyak tuduhan dari warga yang menyebut anggota keluarganya mati “dicovidkan”. Menurut Ferry, rumah sakit harus melakukan pemakaman dengan protokol Covid-19 karena pasien memiliki gejala seperti terpapar virus tersebut.

Memang, pada saat meninggal belum keluar hasil tesnya. Oleh karena itu, rumah sakit mengantisipasi bahwa pasien tersebut terpapar Covid-19. Hasil tes dengan metode polymerase chain reaction (PCR) yang dipercaya paling akurat pun, kata Ferry, tidak 100 persen benar. Pasti ada kelirunya. Oleh karena itu, saat proses pemakaman dilakukan menurut protokol kesehatan agar tidak ada petugas yang ketularan.

Penjelasan Ferry seirama dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/446/2020 Tentang Petunjuk Teknis Klaim Penggantian Biaya Pelayanan Pasien Penyakit Infeksi Emerging Tertentu Bagi Rumah Sakit Yang Menyelenggarakan Pelayanan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Pasien suspect, probable, atau terkonfirmasi Covid-19 yang meninggal, baik selama dalam perawatan Covid-19, maupun meninggal saat baru datang di rumah sakit, alias death on arrival (DOA), dan tidak sempat dilakukan pemeriksaan laboratorium RT-PCR, maka pemulasaran jenazah sesuai dengan tata laksana Covid-19.
Mengacu pada data di situs Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat, per 23 November 2021, pukul 14.00, 33,31 persen pasien Covid-19 yang meninggal di Jawa Barat masuk kategori probable.

Gambaran klinis pasien ketika meninggal, meyakinkan mereka terpapar Covid-19, walaupun belum ada hasil pemeriksaan labolatorium RT-PCR.

Sempat muncul desas-desus bahwa banyak rumah sakit “mengcovidkan” pasien agar klaim biaya perawatan pasien Covid-19, yang selama ini ditalangi oleh rumah sakit, cepat dicairkan oleh pemerintah. Namun menurut Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS), peluang main-main itu sudah ditutup oleh pemerintah dengan sejumlah aturan main.
Pemerintah, kata BPJS, membuat aturan agar klaim dari rumah-rumah sakit itu diverifikasi dengan ketat. Salah satu verifikatornya adalah BPJS. “BPJS Kesehatan secara khusus mengalokasikan petugas verifikator untuk melakukan verifikasi klaim Covid-19 dan menyiapkan sistem untuk pengelolaan klaim Covid-19,” kata Iqbal Anas Ma’ruf, Juru Bicara BPJS Kesehatan ketika dihubungi pada Senin (15/11/2021). “Kami mendorong rumah sakit untuk sebaik mungkin menyiapkan berkas-berkas verifikasi klaim secara lengkap agar prosesnya tidak terkendala.”@nia

Baca Juga :  PSSI Kaji Kompetisi BRI Liga 1 Ada Penonton

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Untuk Percepatan Pembangunan Kota Baru, Diusulkan Akses Tol Cigatas di Tegalluar

Kam Nov 25 , 2021
Silahkan bagikanmoreVISI.NEWS | SOREANG – Seiring akan dibangunnya Jalan Tol Cigatas (Cileunyi-Garut-Tasikmalaya), Pemkab Bandung mengusulkan pembangunan akses atau gerbang Tol Cigatas, di kawasan Kota Baru Tegalluar, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Bupati Bandung HM Dadang Supriatna menjelaskan, usulan dibangunnya gate tol tersebut sangat penting bagi Kabupaten Bandiung, khususnya wilayah […]