VISI.NEWS — Dampak kerusakan alam tentunya akan menyebabkan terjadinya bencana. Itu sudah merupakan konsekuensi yang harus diterima masyarakat dan Pemerintah.
Dari sekian bencana yang muncul, dikatakan Konsultan Tata Ruang, alumnus Akademi Tehnik Pekerjaan Umum (ATPU), A Karyono BAE, ada beberapa kategori yang perlu disikapi, dimana saat ini ketiga jenis bencana tersebut tengah melanda negeri termasuk Jawa Barat dan Kabupaten Bandung.
“Ketiga jenis bencana itu, diantaranya, Bencana Alam, Bencana non Alam, dan Bencana Sosial,” katanya via seluler, Jum’at (2/10/2020).
Secara spesifik dijelaskan Karyono, Bencana Alam diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, seperti, gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir bandang, dan tanah longsor. Sementara Bencana non Alam bisa diakibatkan gagalnya teknologi, gagal modernisasi, epedemi, dan wabah penyakit. Terahir adalah Bencana Sosial, penyebabnya adalah manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok, antar komunitas, dan teror.
Dari ketiga bencana yang dituturkannya tadi, Karyono menitikberatkan pada bencana alam dan bencana non alam. Sebab instrumen penyangga keseimbangan alam dan lingkungan, menurutnya, saat ini terpengaruhi laju pembangunan yang tidak mengindahkan Hukum Tata Ruang.
“Pelanggaran hukum tata ruang jelas berdampak pada kerusakan tatanan dan keseimbangan alam. Hal itulah penyebab terjadinya bencana,” ujarnya.
Perubahan wilayah atau zona pun, diungkapkannya, seperti ada kepentingan sepihak, sehingga terjadi pemaksaan untuk merealisasikannya dengan tanpa perhitungan sama sekali, zona produktif dijadikan kuning, demikian sebaliknya.
Dulu Pasirjambu, Ciwidey, dan Rancabali, dikemukakannya, terkenal dengan wilayah penghasil buah Strawberry, sekarang tinggal kenangan. Bojongsoang dikenal sebagai penghasil ikan, berubah wujud menjadi perumahan mewah. Dan itu akan terus berlanjut bila tidak segera dicegah.
“Selain itu masyarakat tengah berada dalam lingkaran ancaman pandemi covid-19, kerawanan sosial dan ekonomi, bisa jadi keadaan itu dimanfaatkan, mengingat masyarakat sekarang ini sangat membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan hidupnya,” paparnya.
Solusi dari permasalahan tersebut, ditegaskan Karyono, ada yang mau peduli dan berupaya untuk segera melakukan perbaikan kerusakan alam. Jadi tidak perlu ditunda atau direncanakan lebih baik segera diimplementasikan agar bisa menghindari bencana. @qia.