VISI.NEWS | JEMBER – Komitmen dunia pendidikan dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana kembali ditunjukkan oleh Universitas Muhammadiyah Jember. Melalui Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), mahasiswa semester akhir diterjunkan langsung ke tengah masyarakat dalam kegiatan praktik lapangan mitigasi bencana yang dipusatkan di wilayah Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember.
Kegiatan yang berlangsung mulai (11/5/2026) hingga (6/6/2026) tersebut mencakup tiga desa, yakni Paseban, Cakru, dan Kraton. Selama kurang lebih empat minggu, mahasiswa akan menjalankan berbagai program edukasi, pendampingan, hingga simulasi penanggulangan bencana bersama masyarakat desa.
Program praktik lapangan ini menjadi bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengabdian masyarakat yang selama ini dikembangkan oleh FIKES UNMUH Jember. Tidak hanya memperkuat kapasitas akademik mahasiswa, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana.
Dosen pembimbing kegiatan, Cipto Susilo, menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk ikut mencetak sumber daya manusia yang mampu berperan aktif dalam upaya mitigasi dan respon kebencanaan.
“Praktik lapangan ini menjadi sarana pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk memahami kondisi sosial masyarakat, mengenali potensi risiko bencana di wilayah tertentu, sekaligus melatih kemampuan komunikasi dan pendampingan di lapangan,” ujarnya, Senin (11/5/2026).

Menurutnya, mahasiswa tidak hanya datang membawa teori, tetapi juga belajar bagaimana membangun kedekatan dengan masyarakat agar proses edukasi kebencanaan dapat diterima dengan baik.
“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa mitigasi bencana bukan sekadar teori di ruang kelas. Mereka harus mampu hadir di tengah masyarakat, mendengarkan kebutuhan warga, lalu bersama-sama membangun kesiapsiagaan,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan melakukan berbagai kegiatan seperti penyuluhan kesehatan dan kebencanaan, pelatihan tanggap darurat, simulasi evakuasi, hingga pemetaan wilayah rawan bencana. Selain itu, mahasiswa juga akan melakukan verifikasi kondisi lapangan untuk melihat apakah peta risiko bencana yang ada masih relevan dengan situasi terkini.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemerintahan desa, mulai dari perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), relawan kebencanaan, tokoh masyarakat, hingga unsur penanggulangan bencana lainnya.
Cipto menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci penting dalam membangun sistem mitigasi yang kuat di tingkat desa. Sebab, keberhasilan penanganan bencana sangat ditentukan oleh kesiapan masyarakat sebagai pihak pertama yang menghadapi situasi darurat.
“Mahasiswa hanya sebagai fasilitator dan pendamping. Yang menjadi pelaku utama dalam mitigasi dan evakuasi tetap masyarakat itu sendiri. Karena itu, pendekatan yang kami lakukan lebih menekankan pada pemberdayaan masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, kegiatan praktik lapangan juga menjadi bentuk nyata pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat. Melalui program tersebut, ilmu yang diperoleh mahasiswa di bangku kuliah dapat diterapkan secara langsung untuk membantu masyarakat menghadapi persoalan riil di lapangan.
“Harapannya, mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki empati sosial, kemampuan kepemimpinan, dan kesiapan menghadapi kondisi darurat di masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Camat Kencong Ronny Arvianto menyampaikan apresiasinya atas kehadiran mahasiswa FIKES UNMUH Jember di wilayahnya. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat besar bagi masyarakat dalam meningkatkan pemahaman terkait mitigasi bencana.
Ia menyebut wilayah Kecamatan Kencong memiliki sejumlah potensi kerawanan yang membutuhkan kesiapsiagaan masyarakat secara berkelanjutan. Karena itu, edukasi dan pelatihan yang dilakukan mahasiswa dinilai sangat membantu pemerintah kecamatan maupun desa dalam membangun budaya sadar bencana.
“Kami menyambut baik kegiatan ini karena masyarakat mendapatkan edukasi langsung mengenai langkah-langkah menghadapi situasi darurat. Kehadiran mahasiswa juga memberikan semangat baru bagi warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan keselamatan bersama,” ujarnya.
Ronny menambahkan bahwa dalam simulasi kebencanaan yang dilakukan nanti, masyarakat akan dilibatkan secara aktif sebagai pelaku utama evakuasi dan penanganan awal. Dengan demikian, warga diharapkan mampu bertindak cepat dan tepat saat terjadi bencana.
“Yang terpenting adalah membangun pemahaman bahwa kesiapsiagaan harus dimulai dari masyarakat sendiri. Ketika warga memahami prosedur evakuasi dan penanganan awal, dampak bencana bisa diminimalkan,” katanya.
Melalui kegiatan praktik lapangan ini, FIKES UNMUH Jember berharap mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan praktis dalam pendampingan masyarakat dan penanganan kebencanaan.
Program tersebut sekaligus menjadi bentuk sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun budaya mitigasi bencana yang lebih kuat di Kabupaten Jember. @ghofur