Search
Close this search box.

Maraton Manusia-Robot Pertama di Dunia, Uji Ketahanan Teknologi dan Inovasi

Robot humanoid bernama “Tiangong” melakukan debutnya dalam Beijing E-Town Half-Marathon pada November 2024. /visi.news/ist

Bagikan :

VISI.NEWS | BEIJING, TIONGKOK – Sebuah pemandangan yang bahkan belum tergambarkan dalam fiksi ilmiah kini akan menjadi kenyataan: manusia dan robot humanoid berlari berdampingan dalam sebuah lomba setengah maraton. Pada tanggal 13 April mendatang, di kawasan Beijing E-Town, sebuah inovasi luar biasa akan terjadi dalam gelaran Beijing E-Town Half-Marathon 2025 dan Humanoid Robot Half-Marathon, di mana untuk pertama kalinya robot humanoid terdaftar bersama pelari manusia, memulai lomba secara bersamaan, dan menempuh lintasan sejauh 21,0975 kilometer dalam sinergi unik antara olahraga dan teknologi.

Kini, ia dan rekan-rekan robotnya siap melangkah ke panggung yang lebih besar.

Li Quan, Anggota Komite Kerja Partai sekaligus Wakil Direktur Komite Administratif Beijing E-Town, mengungkapkan bahwa acara ini telah menarik lebih dari 30.000 pelari manusia. Di sisi lain, antusiasme luar biasa juga datang dari perusahaan robotika humanoid global, lembaga penelitian, klub robotika, universitas, dan inovator lainnya.

IMG 20250410 154523 800 x 600 piksel
Robot “Tiangong”, yang dikembangkan oleh Pusat Inovasi Robotika Kecerdasan Terwujud Nasional-Daerah, memamerkan kemampuan larinya di Taman Industri Robotika Beijing (E-Town) pada 24 Februari lalu. /visi.news/ist

Untuk menjamin keselamatan, panitia telah menyiapkan pembatas fisik antara jalur manusia dan robot, dengan peraturan dan standar waktu penyelesaian yang berbeda. Meski begitu, kolaborasi manusia-robot ini menandai langkah berani dalam mewujudkan teknologi ke dalam kehidupan nyata.

Saat mengunjungi fasilitas pelatihan, jurnalis menyaksikan tim-tim robotika berlomba dengan waktu untuk meningkatkan komponen dan kecerdasan robot, menghadapi tantangan teknis guna memperbaiki mobilitas. Beberapa robot bahkan telah mampu mencapai kecepatan maksimum 12 km/jam. Untuk mengurangi tekanan fisik akibat berlari di jalan raya, beberapa model dilengkapi mekanisme peredam kejut, dan bahkan mengenakan sepatu lari khusus.

Baca Juga :  Humaira: Penanganan Banjir Sukamanah Mulai Tunjukkan Titik Terang Berkat Kolaborasi

Liang Liang, Wakil Direktur Komite Administratif Beijing E-Town, menjelaskan bahwa sebagai ajang perdana di dunia, tanpa referensi pengalaman atau data sebelumnya, baik logistik maupun peserta menghadapi tantangan besar. Untuk mendukung para robot, panitia menyediakan kendaraan pendukung dan pos bantuan khusus robot. Mereka juga bekerja sama erat dengan setiap tim untuk menyempurnakan teknologi, menyelesaikan kendala fungsi, dan mencapai target pengembangan melalui kolaborasi pra-lomba.

Dalam Olimpiade Paris 2024, kecerdasan buatan telah merevolusi pemantauan data secara real-time, penangkapan gerak 3D, dan keputusan wasit—meningkatkan efisiensi pelatihan atlet dan keadilan kompetisi. Kini, kolaborasi manusia-robot dalam setengah maraton ini menjadi batas baru di mana industri robotika humanoid bersentuhan langsung dengan manusia, olahraga, dan tantangan ketahanan.

Menurut para ahli industri, setengah maraton adalah titik tengah ideal antara “tantangan dan aksesibilitas”: mudah diikuti, tetapi tetap menuntut stamina fisik dan ketahanan mental. Dengan menyelesaikan lintasan yang sama, para robot humanoid ingin membuktikan kemajuan industri serta menyempurnakan teknologi yang berorientasi pada manusia.

“Ini bukan sekadar lomba olahraga—ini adalah ujian ketahanan bagi terobosan teknologi dan pertumbuhan industri,” tegas Xiong Youjun, CEO dari Beijing Humanoid Robot Innovation Center.

Seorang eksekutif perusahaan robotika peserta menyebut bahwa robot yang mampu berlari maraton dapat mempercepat kedewasaan teknologi, memicu lahirnya standar industri, dan mempercepat inovasi. Di satu sisi, ini mendorong pengembangan motor torsi tinggi, sambungan fleksibel, dan bahan tahan aus. Di sisi lain, tuntutan koordinasi tubuh saat berlari memaksa integrasi erat antara sistem perangkat keras dan perangkat lunak, sekaligus memperdalam kolaborasi antara produsen dan perusahaan algoritma AI.

Kemajuan ini membuka jalan bagi aplikasi transformatif, seperti penggunaan robot humanoid dalam penanggulangan bencana, inspeksi jarak jauh, operasi berbahaya, manufaktur pintar, hingga perawatan lansia di rumah. Di masa depan, robot semacam ini bahkan dapat menjadi mitra pelatihan AI untuk atlet elit, berkontribusi kembali pada perkembangan olahraga.

Baca Juga :  VISI | Zubair bin Awwam: Pengusaha Real Estate dan Investor Cerdas

Namun, para pakar mengingatkan bahwa robot humanoid—yang terdiri dari ribuan komponen—masih menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas dan kemampuan berlari dalam jangka panjang.

“Kondisi jalan di dunia nyata sangat berbeda dibandingkan dengan laboratorium,” jelas Xiong Youjun. Untuk menyelesaikan lomba, robot membutuhkan sambungan padat berintegrasi tinggi dan tubuh yang mampu bertahan dalam jarak jauh dengan sistem pendinginan yang efisien. Koordinasi presisi semua sambungan sangat penting untuk berlari, menentukan posisi, dan menghindari rintangan secara dinamis—semua ini menguji algoritma inti dan kemampuan adaptasi mereka. Selain itu, medan berbukit, belokan, dan permukaan tidak rata dalam maraton menuntut stabilitas, keandalan, dan daya tahan baterai tingkat tinggi.

Robot “Tiangong”, yang dikembangkan oleh Pusat Inovasi Robotika Kecerdasan Terwujud Nasional-Daerah, memamerkan kemampuan larinya di Taman Industri Robotika Beijing (E-Town) pada 24 Februari lalu.

Dengan berbagai tantangan teknis yang masih membutuhkan terobosan besar dan dampak lingkungan luar yang kompleks terhadap performa robot, saat ini robot memang mampu berlari bersama manusia, namun belum bisa benar-benar bersaing. Oleh karena itu, acara ini lebih berfungsi sebagai forum dialog industri dan uji daya tahan robot ketimbang lomba konvensional.

Bagi peserta manusia dan para penonton, berbagi lintasan dengan robot memberikan sensasi luar biasa dan perluasan wawasan intelektual. Interaksi konstruktif ini memperjelas batas-batas kolaborasi manusia-robot, memperkuat prinsip “teknologi untuk kemanusiaan,” dan mempercepat transisi dari koeksistensi menuju kemakmuran bersama.

“Esensi dari acara ini adalah, robot humanoid yang berlari maraton melambangkan imajinasi dan impian manusia yang bergerak—itulah sorotan utamanya,” ujar Li Quan. “Terlepas dari peringkat atau kecepatan, jejak yang ditinggalkan robot-robot ini di garis akhir memiliki makna lebih besar dari sekadar medali. Jalur 21 kilometer ini akan berakhir, tapi pencarian kita untuk sinergi manusia dan robot tidak akan pernah berhenti.”

Baca Juga :  Penemuan Kerangka Manusia di Bawah Jembatan Dayeuhkolot, Diduga Terkait Laporan Orang Hilang

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :