VISI.NEWS | BANDUNG – Perusahaan transportasi online Maxim mengungkapkan kekhawatirannya terkait rencana penerapan komisi tetap 10 persen pada layanan transportasi daring. Menurut mereka, kebijakan tersebut menyimpan sejumlah risiko serius, mulai dari penurunan pendapatan pengemudi hingga potensi monopoli pasar.
Dalam keterangn tertulis kepada VISI.NEWS, Selasa (25/11/2025), Maxim menilai potongan komisi 10 persen akan memicu peningkatan harga layanan yang tidak diimbangi dengan daya beli masyarakat. Kondisi ini dinilai dapat menyebabkan turunnya jumlah pesanan secara signifikan, sehingga pendapatan pengemudi terancam merosot tajam dan akses masyarakat terhadap layanan transportasi terjangkau ikut terhambat.
Selain itu, perusahaan memperingatkan bahwa komisi tetap 10 persen bisa memaksa aplikator menghapus berbagai bentuk perlindungan serta manfaat yang selama ini diberikan kepada mitra pengemudi. Program bonus dan apresiasi yang menjadi motivasi pengemudi pun berpotensi hilang akibat keterbatasan ruang finansial perusahaan.
Maxim juga menilai skema ini akan melemahkan kemampuan perusahaan dalam pengembangan teknologi dan peningkatan kualitas layanan. Jika hal tersebut terjadi, industri transportasi online dikhawatirkan tidak berkembang, terutama di wilayah-wilayah pinggiran dan daerah berkembang yang masih bergantung pada layanan daring untuk mobilitas.
Dalam jangka panjang, komisi tetap 10 persen dinilai dapat menciptakan risiko monopoli pasar. Hanya perusahaan besar dengan modal kuat yang mampu bertahan dalam tekanan tersebut, sementara perusahaan lain dapat tersingkir dari persaingan sehat.
Maxim mengingatkan bahwa ketika industri dimonopoli, pengemudi kehilangan pilihan platform yang menawarkan ketentuan lebih baik. Kondisi ini membuat mereka terpaksa menerima aturan perusahaan dominan. Masyarakat pun turut dirugikan karena kehilangan variasi layanan dan harga yang kompetitif.
Development Maxim Indonesia, Dirhamsyah, menegaskan bahwa skema komisi 10 persen berpotensi mengguncang industri secara keseluruhan. Ia menyebut dampaknya meliputi peningkatan harga, penyusutan pendapatan pengemudi, hilangnya manfaat operasional, hingga risiko monopoli yang merugikan seluruh ekosistem.
Dirhamsyah juga menilai kebijakan komisi 15 persen yang saat ini berlaku masih relevan untuk menjaga keseimbangan industri. Menurutnya, skema tersebut memungkinkan pengemudi tetap mendapatkan penghasilan layak, sementara aplikator memiliki ruang untuk melakukan inovasi dan pengembangan layanan.
Dengan mempertimbangkan seluruh implikasi tersebut, Maxim Indonesia mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan lain merumuskan kebijakan yang menjaga keberlanjutan pendapatan pengemudi, memastikan persaingan tetap sehat, serta menjamin akses transportasi online yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
@uli