VISI.NEWS|BANDUNG -Keheningan menyelimuti Old Trafford saat peluit akhir berbunyi. Kekalahan Manchester United dari Brighton di Piala FA bukan sekadar hasil buruk, melainkan penanda resmi karamnya musim yang kini tercatat sebagai salah satu yang paling suram dalam sejarah klub.
Musim ini, Manchester United hanya akan memainkan total 40 pertandingan di semua kompetisi. Jumlah tersebut menjadi yang paling sedikit sejak musim 1914–1915, ketika kompetisi sepak bola Inggris terhenti akibat Perang Dunia I. Catatan ini menegaskan betapa cepatnya musim Setan Merah berakhir, bahkan sebelum memasuki fase krusial.
Tersingkir dari Carabao Cup oleh Grimsby di putaran kedua dan gugur dari Piala FA pada laga pertama membuat United tereliminasi dari dua ajang domestik tanpa perlawanan berarti. Kondisi serupa terakhir kali dialami klub pada musim 1981–1982.
Ironi semakin terasa ketika Danny Welbeck, mantan penyerang United, kembali hadir sebagai figur antagonis. Ia menjadi pengingat pahit bagi publik Old Trafford, mengulang memori musim 2013–2014, saat United juga menjalani musim singkat dan Welbeck mencetak gol penentu kemenangan untuk Arsenal.
Di tengah krisis ini, Darren Fletcher yang menjabat sebagai pelatih interim berusaha menjaga sisa ambisi klub. Ia mengakui bahwa standar Manchester United saat ini jauh dari ideal, namun menegaskan tim belum sepenuhnya kehilangan arah.
“Hal itu masih bisa dicapai musim ini. Ini bukan hal yang ingin didengar penggemar tentang Manchester United. Mereka seharusnya memenangkan piala dan menantang gelar Premier League,” ujar Fletcher usai pertandingan.
Ia menegaskan bahwa realitas pahit harus dihadapi, bukan dihindari.
“Di situlah posisi kami saat ini. Kami harus menghadapinya. Ini bukan level Manchester United dan bukan apa yang diharapkan,” katanya.
Fletcher menaruh tanggung jawab besar di pundak para pemain untuk menyelamatkan harga diri klub melalui jalur Liga Champions.
“Para pemain harus bangkit. Saya menantang mereka untuk melakukannya. Jangan sia-siakan musim ini, itu tantangan saya,” ucapnya.
Namun optimisme tersebut berhadapan langsung dengan data statistik. Manchester United kini hanya memiliki jadwal Premier League hingga akhir musim, bersama Bournemouth dan Everton. Bahkan tim-tim papan bawah masih memiliki peluang matematis meraih trofi, sementara United sudah sepenuhnya tersingkir.
Analisis Opta Supercomputer memperlihatkan gambaran suram. Peluang United finis di empat besar hanya 4,9 persen, dengan prediksi akhir di posisi kedelapan, terpaut sekitar 10 poin dari zona Liga Champions. Empat tim lain, termasuk Brentford, secara statistik memiliki peluang lebih besar untuk mengakhiri musim di empat besar.
Situasi ini membuat dua laga ke depan terasa krusial sekaligus menakutkan. United akan menjamu Manchester City dan bertandang ke markas Arsenal. Fletcher sendiri mengakui kondisi timnya rapuh. Kegagalan meraih poin berpotensi membuat jarak dengan empat besar melebar hingga sembilan poin.
Jika prediksi ini menjadi kenyataan, era kepemilikan Sir Jim Ratcliffe dan INEOS akan menghadapi kenyataan pahit: dua musim berturut-turut tanpa trofi dan tanpa kompetisi Eropa. Bagi klub sebesar Manchester United, ini bukan sekadar kegagalan, melainkan tragedi identitas.@fajar












