VISI.NEWS | SUKABUMI – Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, menyatakan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cikundul saat ini mengalami overload akibat tingginya volume sampah yang terus masuk setiap hari.
Menurutnya, rata-rata sampah yang dibuang ke TPA Cikundul mencapai sekitar 185 ton per hari. Jumlah tersebut bahkan meningkat saat akhir pekan maupun musim libur karena bertambahnya aktivitas masyarakat dan kunjungan wisatawan ke Kota Sukabumi.
“185-an kurang lebih ton per harinya. Dan belum ditambah hari libur, dan ditambah dengan banyaknya wisatawan yang masuk, ini juga semakin membuat tumpukan sampah semakin menggunung di TPA Cikundul,” ujarnya.
Kondisi itu membuat tumpukan sampah di TPA Cikundul semakin menggunung dan membebani kapasitas tempat pembuangan. Selain sampah rumah tangga, produksi sampah dari ruang publik seperti kawasan Lapang Merdeka juga turut menyumbang volume cukup besar.
Bobby menyebut, sampah yang dihasilkan dari kawasan Lapang Merdeka mencapai sekitar 3 ton per hari pada hari kerja dan meningkat hingga 6 ton saat akhir pekan. Secara keseluruhan, volume sampah dari kawasan tersebut dapat mencapai sekitar 108 ton setiap bulannya.
“Jumlah sampah yang dihasilkan di Lapang Merdeka juga cukup besar. Hariannya itu 3 ton, Senin sampai Jumat kurang lebih. Kemudian Sabtu-Minggu masing-masing di 6 ton ya, sehingga bulanannya itu mencapai 108 ton,” kata Bobby.
Menutup TPS
Bobby, menyatakan Pemerintah Kota Sukabumi akan menutup Tempat Penampungan Sementara atau TPS di berbagai lokasi sebagai langkah penanganan persoalan sampah. Namun sebelum TPS ditutup, pemerintah terlebih dahulu akan memasifkan sosialisasi pemilahan sampah kepada masyarakat.
Pemkot Sukabumi mendorong masyarakat untuk mulai memilah sampah sejak dari rumah agar volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA Cikundul dapat berkurang.
“Kita sama-sama mengetahui bahwa TPA Cikundul saat ini statusnya sudah overload. Maka dari itu, kami akan melakukan sosialisasi secara masif di kelurahan, ke-RW-an ya, beserta RT. Ini untuk masyarakat kompak melakukan pemilahan sampah. Sehingga sampah selesai dari rumah tangga dan di wilayah masing-masing. Kami akan memulai untuk sosialisasi, kemudian menutup TPS setelah sosialisasi tersebut dilakukan,” kata Bobby.
Selain keterbatasan kapasitas TPA, langkah ini juga dipengaruhi keterbatasan anggaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dalam merekayasa pengelolaan TPA Cikundul, termasuk tingginya kebutuhan biaya operasional. Bobby menyatakan, sejumlah daerah di Indonesia juga telah menerapkan pola pemilahan sampah dari rumah sebagai solusi mengurangi penumpukan sampah.
Ia menjelaskan, skema pemilahan sampah nantinya mencakup pemisahan sampah organik, nonorganik, dan residu. Sehingga yang nanti diangkut DLH, hanya residu saja, karena sampah organik dan non organik dikelola oleh masyarakat.
Pemerintah berharap masyarakat dapat kompak dan bahu-membahu bersama pemerintah dalam menjalankan program tersebut. @andri