Search
Close this search box.

Pencegahan dan Upaya Mengenali Gejala DBD, Ini Kata Kepala Puskesmas Ibun H. Candra Sopiana

Bagikan :

VISI.NEWS | IBUN – Sejumlah tenaga kesehatan di.lingkungan Puskesmas Ibun Kabupaten Bandung terus-menerus melakukan sosialisasi sebagai upaya edukasi kepada masyarakat dalam pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan virus dengue melalui gigitan nyamuk aedes aegypti.

“Pencegahan DBD salah satunya yang efektif adalah 3M (menutup, mengubur, dan menguras tempat-tempat penampungan air), yaitu bagian dari pemberantasan sarang nyamuk. Itu yang terpenting. Kunci dari penanggulangan pengendalian penyakit DBD itu adalah pemberantasan sarang nyamuk,” kata Kepala Puskesmas Ibun H. Candra Sopiana dalam keterangannya di Puskesmas Ibun, Senin (10/6/2024).

Candra Sopiana mengatakan bahwa DBD merupakan penyakit yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti, yang mana nyamuk tersebut sering ditemukan di genangan air dan lingkungan yang kotor.

“DBD dapat menyerang siapa saja.
Masyarakat yang rentan terkena DBD, yakni anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah,” kata Candra.

Ia menyebutkan orang yang terkena penyakit DBD dapat menyebabkan perburukan dan menyebabkan kematian. Untuk itu, kata Candra, penting sekali masyarakat mengenali tanda dan gejala DBD. Jangan sampai pasien dan orang sekitarnya terlambat dalam mendiagnosa gejala yang dialami.

“Hal ini disebabkan karena diagnosa yang terlambat dimana pasien datang berobat sudah masuk ke dalam kondisi berat/syock sindrome. Sehingga menyebabkan penanganan pasien terlambat dan menimbulkan kematian,” imbuhnya.

Candra berharap kepada masyarakat harus paham tentang DBD, terkait gejala dan langkah awal untuk mengatasinya.

Untuk itu, ia mengatakan, Puskesmas Ibun terus menerus mensosialisasikan tentang tata cara pencegahan dan penangganan kepada masyarakat melalui kegiatan penyuluhan-penyuluhan di posyandu, maupun media sosial dan media masa.

“Beberapa waktu yang lalu Puskesmas bersama jajaran pemerintah Kecamatan Ibun sebagai upaya meningkatkan promosi pencegahan DBD menggelar lomba membuat video penanganan sarang nyamuk (PSN) untuk lingkungan sekolah di wilayah Ibun dan pemerintah desa,” jelasnya.

Baca Juga :  Soroti Konflik Lahan, Dadang Naser Dorong Percepatan Pertanian Sosial

Candra menyebutkan adapun gejala-gejala yang dapat diperhatikan adalah ketika demam tinggi selama dua hingga tujuh hari yang disertai bercak-bercak di kulit, mimisan, gusi berdarah, sakit kepala dan belakang bola mata, mual, diare dan lain-lain.

“Setelah hari ketiga sampai ketujuh, itu penting sekali dideteksi tanda gejala kegawatdaruratan DBD. Apabila ada tanda mual dan muntah, ada nyeri kepala berat, ada tanda-tanda pendarahan di bawah kulit, itu harus segera dibawa dan diperiksa ke dokter atau ke fasilitas pelayanan kesehatan. Nantinya apakah dirawat di rumah atau dirujuk, itu kunci untuk mencegah
syock sindrome DBD yang mengarah pada kematian,” tuturnya.

Ia mengungkapkan penanganan pertama yang dapat dilakukan ketika mendapati gejala tersebut. Penanganan awal jika mendapati gejala tersebut adalah minum yang banyak bisa berupa air putih ataupun jus, cukup istirahat, makan makanan yang bergizi.

“Jika gejala berlanjut segera memeriksakan diri ke dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan,” katanya.

Lebih lanjut Candra mengatakan untuk membangun kesadaran masyarakat dalam pencegahan DBD itu, ada program gerakan satu rumah satu pemeriksaan jentik.

“Jadi diharapkan seminggu satu kali setiap rumah itu memeriksa, apakah di rumah kita ada jentik atau tidak. Baik di bak mandi, lingkungan sekitar, harus diperiksa apakah ada jentik-jentik nyamuk,” tuturnya.

Ia menegaskan jika jentik nyamuk segera dihilangkan dan diberantas, kemudian tidak ada nyamuk dewasa. “Maka penularan DBD pasti menurun. Kesadaran masyarakat itu, kembali pada kebersihan lingkungan,” ujarnya.**

Kepala Puskesmas Ibun H. Candra Sopiana.
@kos

Baca Berita Menarik Lainnya :