VISI.NEWS | BANDUNG — Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PDPKNU) Angkatan X Yang diselenggarakan di Kabupaten Bandung sukses digelar pada 15-17 Mei 2026. Selama tiga hari tiga malam, Pondok Pesantren Al-Misbah, Sapan, Tegalluar, Bojongsoang menjadi saksi bisu penggemblengan spiritual dan ideologis lebih dari 200 kader Nahdliyin.
Di balik riuh dan giroh perjuangan para peserta, sebuah karya sastra lahir memberikan “ruh” mendalam bagi kegiatan ini. Puisi bertajuk “Kangen Moderasi di Tanah Bandung” hadir sebagai ulasan batin yang ditulis langsung salah satu dosen filsafat sekaligus tokoh sastrawan senior Nahdliyin, Ridwan Ch. Madris.
Wakil Ketua Lesbumi PWNU Jawa Barat 2013 sampai 2022 yang kini berkhidmat anggota Lesbumi PBNU Sapujagat, rekam jejak Ridwan Ch. Madris dalam merawat khazanah sastra pesantren tidak perlu diragukan lagi. Ia adalah sosok di balik suksesnya dokumentasi sejarah berupa buku antologi puisi karya penyair Nahdliyin se-Nusantara, yang diluncurkan dan tersimpan rapi di Perpustakaan PBNU sejak momentum Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2015. Selain dimeriahkan dengan festival lagu mars Yalalwathan, festival seni rupa, qasidah rebana dan Hadrah, seta lomba baca dan cipta puisi se nasional.

Melalui gaya bahasa yang lugas namun sarat muatan spiritual khas Lesbumi, berikut adalah ulasan estetis bait demi bait dari puisi tersebut dalam membingkai garis perjuangan PDPKNU Angkatan X:
1. Manifestasi Sejarah dan Benteng Ulama (Bait Pertama):
Di bawah langit Bandung yang bersemi,
Sepuluh angkatan telah memahat bakti.
Kader-kader bangkit merajut harmoni,
Menjaga benteng ulama, mengawal negeri.
Pada bait pembuka, Ridwan Ch. Madris secara jeli memotret kontinuitas kaderisasi di Kabupaten Bandung. Frasa “memahat bakti” menggambarkan bahwa pencapaian hingga Angkatan X bukanlah kerja instan, melainkan proses panjang yang menuntut ketekunan. Dua baris terakhir menegaskan tugas pokok (khidmah) kader penggerak: menjaga otoritas keilmuan para ulama sekaligus mengawal kedaulatan NKRI.
2. Doktrin Ideologi dan Nasionalisme Santri (Bait Kedua):
Bukan sekadar kumpul dan berdiskus dan ngopi disela sela dogodok ketat penuh materi/wawasan oleh para instruktur, ini ikrar setia pada manhaj suci.
Aswaja tertanam di dalam sanubari, Hubbul wathan mendarah daging abadi.
Bait kedua ini mengulas substansi materi yang diterima 200 lebih peserta selama di karantina di Pesantren Al-Misbah, Sang penyair merekam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa PDPKNU melampaui sekadar forum organisasi biasa. Di dalamnya ada “ikrar setia” pada manhaj Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah. Doktrin keagamaan ini dikunci rapat dengan komitmen nasionalisme (hubbul wathan minal iman) yang mendarah daging.
3. Output Spiritual Menuju Rahmatan lil ‘Alamin (Bait Ketiga):
Sajadah membentang, fajar pun tiba,
Membawa obor damai untuk sesama.
PDPKNU ke-10 tuntas terlaksana,Mencetak pandu bagi semesta.
Bait penutup merekam atmosfer riyadhoh, salat berjamaah, dan zikir malam yang dilalui peserta selama tiga hari tiga malam. “Sajadah membentang” dan “fajar” adalah simbol pencerahan spiritual setelah melewati ujian batin. Output dari Angkatan X ini ditekankan bukan untuk gagah-gagahan, melainkan menjadi “obor damai” dan “pandu bagi semesta”—sebuah pengejawantahan dari konsep Islam Rahmatan lil ‘Alamin serta nilai moderasi (tawassut).
Sastra Sebagai Penggerak Kaderisasi Melalui guratan pena Ridwan Ch. Madris, peristiwa kaderisasi di Bojongsoang tidak sekadar menjadi tumpukan laporan angka dan dokumentasi foto formal. Puisi ini berhasil mengabadikan semangat, peluh, dan air mata haru pembaiatan peserta ke dalam ruang sastra yang abadi. Kehadiran karya tokoh penyair Lesbumi ini membuktikan bahwa di tubuh Nahdlatul Ulama, perjuangan ideologis, gerakan organisasi, dan kerja kebudayaan akan selalu berjalan beriringan.
Keterangan Puisi Utuh Yang Direkam imajinasi Ridwan Ch.Madris saat penutupan PDPKNU. Sebagai bentuk ekspresi.
Di Altar Keikhlasan: Darah dan Air Mata
Di atas sajadah yang dibasahi air mata sunyinya pancangkan tiang-tiang badai,
O para Muasis!
Saat bumi pertiwi mengerang dalam cengkeraman penjajah,
Kalian tak diam menyerahkan airmata darah bahkan nyawa pada nasib!
Rentetan peluru yang menembus malam
Lihatlah punggung-punggug legam yang dicambuk nestapa! Betapa pedihnya melihat santri-santri gugur di medan laga
Darah mereka mengalir, menyatu dengan tanah yang terluka.
rintihan itu
jeritan ibu-ibu yang kehilangan putranya,
Menjadi bahan bakar yang melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia!
NKRI tidak lahir dari sekadar diplomasi di meja bundar, Ia menetes dari darah suci para syuhada dan tirakat panjang para ulama!
Hubbul wathan minal iman!” pekikmu membelah langit! Kiai Hasyim Asy’ari menggetarkan arsy dengan Resolusi Jihad!
Kiai Wahab Chasbullah melangkah tanpa gentar mendobrak sekat!
Kiai Bisri Syansuri tegak menjaga benteng syariat!
Api itu… belum padam!
Ia menyala dalam tangis kami yang merindukan bimbinganmu.
Kami menangis karena sadar betapa berat beban yang kau pikul,
Merangkak di sela-sela kemiskinan dan kelaparan umat,
Demi sepotong kemerdekaan dan tegaknya panji Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Maka lihatlah ke dalam diri kita untuk merenung, wahai para kader penggerak! Kalian bukan lagi sekadar nama di atas kertas kepengurusan.
Di pundak kalian—dari mulai pejuang MWC yang menyentuh akar rumput,Pengurus Cabang Kabupaten yang mengokohkan fondasi,Pengurus Wilayah yang mengikat simpul-simpul kekuatan,
hingga pengurus besar yang memegang kemudi nakhoda zaman
Kini tertitip air mata, darah, dan kesakralan marwah Nahdlatul Ulama!Sungguh sebuah pengkhianatan paling pilu, Jika air mata keikhlasan para Muasis kita ditukar dengan syahwat politik sesaat.
Betapa durhakanya jemari kita, jika jubah suci NU yang ditenun dengan doa dan lambang kramatnya yang disakralkan langit digadaikan hanya demi kilauan dunia dan kepentingan kelompok yang memecah belah
Dan sungguh durhakanya atas perlakuan bejad tak bermoral mengedepankan nafsu hnya untuk mengotori kesakralan NU
Ingatlah, badai provokasi akan datang bagai ombak yang menghantam karang.
Paham-paham asing akan terus merayu, mencoba mencabut akar sejarah kita.Dan panggung politik akan selalu menjebak, menyeret kita ke lumpur kekuasaan.Namun di akhir kaderisasi ini, di hadapan pusara gaib para kekasih Allah,
Kita bersumpah demi langit yang menyaksikan air mata para pendiri.
Rapatkan barisan! Satukan komando dari MWC hingga PBNU!Jangan mempan dihasut lidah-lidah yang bercabang!Jangan goyah dibeli lembaran-lembaran yang membutakan!Jangan mundur hanya karena caci maki para pembenci!Jadilah benteng baja yang menjaga kesakralan kalimat-Mu.
Tegakkan kepala, kuatkan jiwa, genggam erat tali jam’iyah ini.
Saksikanlah, wahai para Muasis,Tangis kami hari ini adalah janji setia untuk menjaga NKRI, Dan khidmat kami adalah benteng abadi yang tak akan pernah runtuh oleh badai zaman!
Ridwan Ch.Madris
Minggu 17 Mei 2026
Ditulis akhir PDPKNU di Tegalluar Bandung.
@bambang melga