Search
Close this search box.

Robert Kardinal Optimistis KNMP Kembalikan Papua Lumbung Tuna Indonesia Timur

Anggota Komisi IV DPR RI, Robert J. Kardinal./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI, Robert J. Kardinal, optimistis program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) mampu mengembalikan kejayaan sektor perikanan tangkap di Tanah Papua sekaligus menjadikan Papua sebagai lumbung tuna terbesar di kawasan timur Indonesia.

Menurut Robert, Papua memiliki potensi sumber daya perikanan tangkap yang sangat melimpah, terutama di tiga kawasan strategis yang dinilai layak menjadi prioritas pembangunan KNMP. Ketiga wilayah tersebut yakni Distrik Kepulauan Ayau di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya; Kepulauan Auri di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat; serta perairan Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Supiori, Papua.

Ia menilai ketiga kawasan tersebut memiliki posisi strategis tidak hanya sebagai sentra produksi perikanan, tetapi juga sebagai wilayah pertahanan terluar negara berbasis masyarakat nelayan.

Robert menyampaikan apresiasi kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono atas pelaksanaan program KNMP yang telah berjalan di sejumlah wilayah perbatasan Indonesia, mulai dari Pulau Miangas di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara hingga Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.

Namun demikian, legislator asal Papua itu menilai pemerintah perlu memberikan perhatian lebih besar kepada wilayah dengan potensi sumber daya ikan terbesar di Papua.

“Tiga titik di Papua ini harus menjadi prioritas Kampung Nelayan Merah Putih karena potensi ikannya sangat besar dan bisa menjadi motor kebangkitan industri perikanan di kawasan timur Indonesia,” ujar Robert di Jakarta, Minggu (17/5/2026).

Papua Dinilai Kaya Tuna Sirip Kuning

Robert menjelaskan, wilayah Raja Ampat, Teluk Wondama, serta Biak Numfor dan Supiori dikenal sebagai habitat utama tuna sirip kuning atau yellowfin tuna yang selama ini belum dikelola secara optimal.

Selain kaya sumber daya ikan, kawasan tersebut juga merupakan gugusan pulau terluar di utara Papua yang secara geografis lebih dekat ke negara tetangga dibanding pusat pemerintahan di Papua.

Baca Juga :  Cara Login EMIS 4.0 Kemenag Terbaru

Ia mencontohkan Pulau Mapia di Kabupaten Supiori yang berjarak sekitar 68 mil laut dari Palau, sementara jarak menuju Biak mencapai sekitar 180 mil laut.

“Kampung Nelayan Merah Putih perlu dibangun di kawasan terluar itu agar kehadiran negara semakin kuat dan Merah Putih tetap berkibar di wilayah perbatasan,” tegasnya.

Robert mengatakan kawasan tersebut memiliki potensi hasil laut yang besar, mulai dari tuna, cakalang, kerapu, rumput laut hingga teripang. Mayoritas masyarakat setempat juga menggantungkan hidup dari sektor kelautan dan perikanan.

Karena itu, pembangunan KNMP dinilai tidak hanya meningkatkan produksi dan hilirisasi hasil laut, tetapi juga memperkuat pengawasan wilayah perairan terluar Indonesia.

Menghidupkan Kembali Kejayaan Industri Perikanan Papua

Politisi Fraksi Golkar itu juga menyoroti Kepulauan Mapia atau Pulau Beras di Kabupaten Supiori yang pernah menjadi salah satu penghasil tuna terbesar di Papua.

Ia mengingat kembali kejayaan industri perikanan Papua pada periode 1999–2003 ketika perusahaan pengalengan ikan PT Biak Mina Jaya milik Jayanti Group beroperasi di Biak Numfor.

Pada masa itu, perusahaan tersebut mampu menyerap ribuan tenaga kerja asli Papua dan menjadikan Biak sebagai salah satu pusat industri perikanan terbesar di Indonesia timur. Operasional perusahaan didukung sekitar 1.000 hingga 1.500 rumpon yang tersebar di perairan Papua.

Selain itu, Robert juga menyinggung kiprah perusahaan negara PT Usaha Mina di Sorong yang pada masanya mampu mengekspor tuna dan cakalang langsung ke Jepang.

“Dulu di Sorong ada Usaha Mina. Itu perusahaan negara yang ekspor tuna dan cakalang langsung ke Jepang. Dermaganya siap, lokasinya strategis dan potensinya besar,” ujarnya.

Menurut Robert, jejak pembangunan industri perikanan di Papua harus kembali dihidupkan melalui sinergi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian BUMN.

Baca Juga :  Pelantikan DPW-DPD PAN se-Jawa Timur, Viva Yoga: Seluruh Kader Harus Berorientasi Membesarkan PAN

Ia berharap kampung-kampung nelayan yang dibangun pemerintah dapat terintegrasi dengan fasilitas eks PT Usaha Mina sebagai pusat pengumpulan dan ekspor hasil tangkapan nelayan Papua.

Selain PT Usaha Mina, Robert juga menyoroti keberadaan PT West Irian Fisheries (WIF), perusahaan perikanan asal Jepang yang pernah menjadi penggerak ekonomi utama di Sorong sejak 1970-an melalui ekspor tuna dan udang.

Namun operasional perusahaan tersebut berhenti setelah kebijakan pembatasan kapal asing diberlakukan.

“Papua pernah punya industri perikanan besar lewat Jayanti, Usaha Mina, dan WIF. Itu bukti bahwa kalau dikelola serius, Papua bisa menjadi kekuatan besar industri perikanan nasional,” katanya.

KNMP Dinilai Bisa Tekan Illegal Fishing

Robert juga mengingatkan lemahnya pengawasan di kawasan perairan terluar Papua membuat wilayah tersebut rawan praktik illegal fishing.

Ia mengaku menemukan kapal-kapal tanpa izin yang terdampar di Distrik Kepulauan Ayau, Raja Ampat sebagai indikasi maraknya aktivitas penangkapan ikan ilegal.

Karena itu, ia mendorong Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) menempatkan basis kapal pengawasan permanen di pulau-pulau terluar Papua yang terintegrasi dengan program KNMP.

Menurutnya, keberadaan Kampung Nelayan Merah Putih dapat memperkuat kolaborasi masyarakat nelayan dengan aparat pengawas dalam menjaga sumber daya laut Indonesia.

Papua Dinilai Layak Jadi Sentra Tuna Nasional

Robert meyakini apabila pemerintah serius membangun KNMP di Raja Ampat, Teluk Wondama, dan Biak Numfor-Supiori, Papua berpotensi kembali menjadi pusat industri tuna nasional.

Optimisme tersebut sejalan dengan target Kementerian Kelautan dan Perikanan yang berencana membangun lebih dari 1.000 Kampung Nelayan Merah Putih pada 2026 sebagai bagian dari penguatan hilirisasi perikanan nasional dan peningkatan kesejahteraan nelayan.

Namun hingga kini, dari 65 lokasi KNMP yang telah dibangun di berbagai wilayah Indonesia, belum ada satu pun yang berada di Papua.

Baca Juga :  Southampton Didakwa EFL Jelang Semifinal Playoff Lawan Middlesbrough

“Papua punya laut yang kaya, punya sejarah industri perikanan, dan punya posisi strategis di Pasifik. Kalau tiga titik ini dibangun Kampung Nelayan Merah Putih, saya yakin Papua bisa kembali menjadi lumbung tuna terbesar di kawasan timur Indonesia,” pungkas Robert. @givary

Baca Berita Menarik Lainnya :