VISI.NEWS | JAKARTA – Pihak Rumah Sakit Sumber Waras di Jakarta Barat menegaskan tidak menerima pasien muse model berinisial AJDV yang dikabarkan menjadi korban begal di kawasan Kebon Jeruk. Klarifikasi ini muncul menyusul beredarnya informasi yang viral di media sosial, yang menyebut korban mengalami luka bacok di kepala dan kondisi kritis.
Perwakilan manajemen RS Sumber Waras, Tri Nurmansyah, menjelaskan hasil penelusuran menunjukkan bahwa pasien yang disebutkan dalam pemberitaan tidak tercatat di rumah sakit tersebut, baik yang sedang berobat maupun yang pernah berobat sebelumnya.
“Berdasarkan penelusuran kami sampai saat ini, pasien yang disebutkan dalam pemberitaan tersebut tidak ada dalam data pasien yang sedang berobat ataupun yang telah berobat di Rumah Sakit Sumber Waras,” ujar Tri Nurmansyah dalam keterangannya dikutip, Rabu (20/5/2026).
Klarifikasi ini penting untuk menahan penyebaran informasi simpang siur dan mencegah kepanikan di masyarakat. Tri juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada kabar yang belum diverifikasi kebenarannya.
Sementara itu, kepolisian masih melakukan pendalaman informasi. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyatakan pihaknya telah turun ke lokasi dugaan kejadian dan mengecek Rumah Sakit Sumber Waras untuk memastikan fakta yang sebenarnya.
“Terkait informasi yang beredar mengenai dugaan pembegalan terhadap seorang model di kawasan Kebon Jeruk, jajaran Polsek Kebon Jeruk dan Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat telah melakukan pengecekan awal lokasi yang diduga tempat kejadian perkara dan mendatangi Rumah Sakit Sumber Waras untuk memastikan kebenarannya,” jelas Budi Hermanto
Analisis situasi menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran besar dalam mempercepat penyebaran informasi, namun juga meningkatkan risiko hoaks atau berita yang belum diverifikasi. Dalam kasus ini, rumor mengenai muse model yang menjadi korban begal menimbulkan perhatian luas warganet, sehingga klarifikasi dari rumah sakit dan kepolisian menjadi krusial.
Pihak kepolisian menegaskan proses penyelidikan tetap berjalan untuk memastikan apakah benar terjadi tindak kejahatan atau hanya kesalahpahaman informasi. Koordinasi antara institusi medis, kepolisian, dan publik menjadi kunci dalam menangani isu sensitif agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat dan dapat menilai situasi dengan tepat. @desi