VISI.NEWS | BANDUNG – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian pasar pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Rupiah tercatat berada di posisi Rp17.489 per dolar AS pada perdagangan pasar spot hingga pukul 09.04 WIB, melemah 75 poin atau 0,43 persen dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah dinilai dapat membawa dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi nasional, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor dan transaksi menggunakan mata uang dolar AS. Pelemahan kurs berpotensi meningkatkan biaya produksi karena harga barang impor menjadi lebih mahal.
Kondisi tersebut dapat dirasakan industri manufaktur, energi, hingga sektor pangan yang masih memiliki ketergantungan terhadap pasokan luar negeri. Jika pelemahan berlangsung dalam waktu panjang, pelaku usaha kemungkinan harus melakukan penyesuaian harga untuk menjaga margin usaha.
Selain dunia usaha, tekanan juga dapat menjalar ke masyarakat melalui kenaikan harga barang dan menurunnya daya beli. Ketika biaya impor naik, harga produk konsumsi maupun kebutuhan industri berpotensi ikut terdorong. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Menariknya, pelemahan rupiah terjadi ketika tingkat optimisme konsumen Indonesia justru menunjukkan kenaikan. Survei Konsumen Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen April 2026 berada di level 123,0, naik tipis dibandingkan Maret 2026 sebesar 122,9.
Kenaikan tersebut didorong membaiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini tercatat meningkat menjadi 116,5 dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 115,4. Peningkatan itu mencerminkan penilaian masyarakat terhadap lapangan kerja, penghasilan, dan daya beli yang dianggap lebih baik.
Meski demikian, sentimen global masih menjadi faktor dominan dalam menekan rupiah. Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian Washington sebagai sesuatu yang “sama sekali tidak dapat diterima”. Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Teluk dan mendorong penguatan dolar AS.
Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai rupiah masih bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.410 hingga Rp17.460 per dolar AS. @desi