VISI.NEWS | BANDUNG – Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026), menembus level Rp17.630 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini terjadi setelah rupiah menguat tipis ke Rp17.460/US$ pada penutupan perdagangan terakhir pekan lalu, Rabu (13/5/2026), sebelum libur panjang.
Indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,09% ke level 99,370 pada pukul 09.00 WIB, menandakan permintaan global terhadap dolar tetap tinggi. Faktor utama tekanan datang dari ketidakpastian perundingan AS-Iran yang belum menemukan solusi, sehingga investor cenderung mencari aset aman seperti dolar.
Penguatan dolar AS juga didorong ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed). Data ekonomi terbaru menunjukkan tekanan harga masih meningkat, mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,581%, level tertinggi dalam setahun. Kondisi ini membuat peluang kenaikan suku bunga kembali terbuka. Beberapa pejabat The Fed menekankan bahwa menjaga inflasi tetap terkendali menjadi prioritas utama, dan kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan jika tekanan harga berlanjut.
Menurut CME FedWatch, peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember kini mencapai 48,4%, melonjak dari 14,3% pekan sebelumnya. Ekspektasi ini turut menambah tekanan pada mata uang negara lain, termasuk rupiah, yang menjadi lebih rentan terhadap depresiasi.
Pergerakan rupiah hari ini juga mencerminkan sentimen global yang lebih luas. Penguatan dolar AS selama lima hari berturut-turut memengaruhi pasar emerging market secara keseluruhan. Investor cenderung menahan mata uang lokal, sementara arus modal mengalir ke aset dolar yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.
Dengan kondisi ini, pelaku pasar diperkirakan akan tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter AS. Rupiah berpotensi mengalami fluktuasi signifikan hingga faktor eksternal, termasuk konflik Iran dan kebijakan The Fed, memberikan arahan yang lebih jelas bagi pasar ke depan. @desi