VISI.NEWS | BANDUNG – Saham PT Bumi Resources Tbk atau BUMI berbalik arah melemah tajam pada penutupan sesi pertama perdagangan Selasa (19/5/2026). Koreksi saham emiten batu bara milik Grup Bakrie itu terjadi di tengah tekanan besar yang melanda pasar saham Indonesia.
Mengutip data perdagangan, saham BUMI ditutup turun 9,22 persen ke level Rp187 per saham. Padahal pada awal perdagangan, saham ini sempat bergerak di zona hijau dan dibuka naik menjadi Rp208 per saham sebelum akhirnya berbalik melemah.
Pergerakan saham BUMI mencerminkan tingginya tekanan jual di pasar. Saham tersebut sempat menyentuh level tertinggi Rp212 dan terendah Rp181 per saham dengan nilai transaksi mencapai Rp1,1 triliun. BUMI juga menjadi salah satu saham paling aktif diperdagangkan sepanjang sesi pertama.
Pelemahan BUMI terjadi bersamaan dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang turun lebih dari 3 persen ke level 6.396,2. Hampir seluruh sektor saham berada di zona merah, terutama sektor bahan baku dan energi yang mengalami tekanan paling besar.
Kondisi tersebut dipicu kombinasi sentimen negatif global dan domestik. Salah satu faktor utama adalah kekhawatiran investor terhadap saham saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration yang menjadi sorotan lembaga indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali menyentuh kisaran Rp17.700 per dolar AS juga memperburuk sentimen pasar. Investor terlihat cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di pasar domestik.
Tekanan terhadap saham batu bara seperti BUMI juga tidak lepas dari aksi profit taking dan kekhawatiran terhadap volatilitas sektor komoditas di tengah situasi ekonomi global yang belum stabil.
Meski demikian, tingginya frekuensi dan nilai transaksi pada saham BUMI menunjukkan minat investor terhadap saham ini masih besar. Aktivitas perdagangan yang tinggi sering kali mencerminkan adanya pertarungan kuat antara aksi jual dan aksi beli di pasar.
Selain BUMI, sejumlah saham energi dan komoditas lain seperti ADRO juga mengalami pelemahan signifikan. Situasi ini memperlihatkan pasar saat ini sangat sensitif terhadap isu likuiditas, arus dana asing, serta persepsi risiko investor global terhadap pasar Indonesia.
Pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan dari regulator dan otoritas keuangan untuk menjaga stabilitas pasar modal di tengah tekanan yang masih berlangsung. @desi