VISI.NEWS | SUKABUMI – 100 siswa sekolah rakyat jenjang SMP di Sentra Phalamartha, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS.
Kepala Sentra Phalamartha Dian Bulan Sari menuturkan selama MPLS ini, para siswa dengan siswa lainnya dapat saling mengenal serta akan mengikuti beragam kegiatan, diantaranya pelatihan kedisiplinan.
“Kalau MPLS ini lebih pada orientasi mereka dapat mengenal satu sama lain, mengenal guru, mengenal wali asuh, mengenal sarana prasarana disini, lingkungan sekolah dan juga plusnya itu mereka akan mengikuti pelatihan kedisiplinan. Disini kita bekerjasama dengan Danramil, Dandim untuk mengawal pelatihan kedisiplinan. MPLS ini akan berlangsung selama 2 minggu, tadi disampaikan oleh pak menteri 2 minggu,” ujar Dian.
Lebih lanjut Dian menuturkan untuk hari pertama MPLS, para siswa mengikuti pengecekan kesehatan, mereka di timbang berat badan serta diukur tinggi badan selanjutnya lari mengitari kompleks Sentra Phalamartha, yang masih menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan.
Menurut Dian, dengan dilakukannya pemeriksaan maka akan diketahui kondisi kesehatan dari siswa. Apabila dari hasil pemeriksaan ini ditemukan siswa yang memiliki penyakit bawaan maka akan dilakukan penyembuhan sambil berjalannya kegiatan Sekolah Rakyat.
“Misalnya ada siswa yang punya penyakit bawaan, kita sembuhkan dan tetap ikut pembelajaran,” kata Dian.
Siswa dari Keluarga Miskin
Lebih lanjut Dian menuturkan bahwa siswa sekolah rakyat ini dari keluarga miskin dan miskin ekstrim pada desil 1 dan desil 2 DTSEN. Para siswa ini berasal dari 38 kecamatan di Kabupaten Sukabumi.
Menurut dia, sebelum ditetapkan 100 siswa sekolah rakyat dilakukan dulu pembukaan pendaftaran yang diumumkan melalui media sosial. Bahkan Bupati Sukabumi, telah bersurat ke camat untuk menginformasikan kepada warganya tentang pendaftaran sekolah rakyat. Hasilnya ada 156 orang yang mendaftar yang selanjutnya dilaksanakan berbagai tahapan seleksi.
Selain itu, proses rekrutmen calon siswa Sekolah Rakyat dengan berbasis data DTSEN juga melibatkan pendamping PKH, BPS. BPS melakukan visit kepada calon siswa untuk memastikan apakah sesuai kriteria. Sehingga keputusan calon siswa ini bukan oleh satu pihak, karena ada tim yang terdiri dari Dinsos, BPS, Disdik dan pendamping PKH.
“Yang mendaftar 156 kemudian yang lulus awal itu 145 yang menyatakan siap masuk sekolah rakyat. Namun seiring berjalanya waktu masih ada keraguan, orang tuanya belum mengizinkan, tiba-tibanya anaknya berubah jadi tidak mau. Sehingga yang fiks itu 100 orang yang di SK kan oleh bupati,” kata Dian.
Dian menuturkan, kegiatan belajar di sekolah rakyat akan efektif setelah MPLS berakhir. Menurut dia, di sekolah rakyat ini terdapat 13 guru terdiri dari 12 orang guru mata pelajar dan 1 guru PAI.
Adapun para siswa dibagi dalam 4 rombongan belajar atau rombel. Satu rombel berisi 25 orang.
”Sekolah ini kan sekolah unggulan, selain ada pendidikan formal tapi ada pembentukan karakter. Kalau di sekolah lain kan ada guru saja yang mendidik, tapi disini ada wali asuh yang membersamai mereka diluar pendidikan formal. Pendidikan karakter ini yang dibimbing langsung oleh wali asuh,” kata Dian.
Sekolah rakyat Sentra Phalamartha memiliki berbagai fasilitas. Selain kelas, terdapat asrama putra dan putri yang sudah dilengkapi tempat tidur, meja belajar kemudian lemari. Lalu lab komputer, mushola, perpustakaan, gedung olahraga dan fasilitas lainnya.
Dibuka Bupati Sukabumi
Sekolah Rakyat di Sentra Phalamartha dibuka oleh Bupati Sukabumi Asep Japar, Senin (14/7/2025). Hadir dalam kegiatan itu beberapa kepala OPD Kabupaten Sukabumi, Camat serta sejumlah kepala desa,
Di hari pertama Sekolah Rakyat itu, para orang tua atau keluarga dari siswa sekolah rakyat juga nampak hadir.
Yang menjadi perhatian dalam hari pertama pelaksanaan sekolah rakyat ini yaitu ketika para orang tuanya hendak pulang, para siswa menangis karena selama menjalani sekolah rakyat, mereka akan tinggal di asrama. @andri