Oleh Syakieb Sungkar
DAHULU saya menyangka letak Guantanamo itu ada di Florida, ternyata penjara itu berada di Cuba, negeri tetangga Amerika yang sesungguhnya saling bermusuhan. Mengapa Guantanamo berlokasi di Cuba adalah dalam rangka Pemerintah Amerika mencari alasan untuk dapat menyiksa tahanan, agar mau mengaku dan membongkar rahasia jaringan terorisme yang diketahuinya. Dengan meletakkan penjara di luar Amerika, maka negara dapat saja melakukan pemaksaan dan penyiksaan yang tidak mengindahkan azas praduga tak bersalah, serta melanggar HAM. Masalahnya, tidak semua orang yang dibawa ke Guantanamo itu adalah orang yang bersalah. Ternyata banyak juga kasus salah tangkap atau menuduh berlebihan kepada seseorang yang dianggap teroris padahal bukan. Hal itu dialami oleh Mohamedou Ould Slahi yang pada November 2001, dua bulan setelah serangan 11 September diciduk dari negerinya di Mauritania untuk diterbangkan ke Guantanamo. Sejak itu keluarga di Mauritania tidak pernah lagi melihat Mohamedou sejak tiga tahun ia ditangkap dan baru mengetahui di surat kabar bahwa ia ditahan oleh Amerika di Teluk Guantanamo di Cuba dan dituduh sebagai salah satu penyelenggara terorisme 9/11.
Mauritania adalah suatu negeri di Afrika Barat yang pernah dijajah Perancis, sehingga penduduk yang mayoritas beragama Islam itu memakai dua bahasa dalam hidup sehari-hari, yaitu bahasa Arab dan Prancis. Hubungan kedua negara itu dekat, banyak orang Mauritania tinggal di Prancis untuk sekolah dan mencari nafkah. Setelah 3 tahun menghilang, keluarga Mohamedou tidak tinggal diam, mereka kemudian menghubungi pengacara di negerinya untuk mencari tahu keberadaan anaknya. Pengacara di Mauritania kemudian meminta bantuan Emmanuel, seorang pengacara di Perancis agar memudahkan akses internasional dalam pencarian Mohamedou. Kemudian Emmanuel yang bekerja di Paris pada Februari 2005 menghubungi Nancy Hollander, seorang pengacara yang bekerja di Albuquerque, New Mexico.
Emmanuel meminta Nancy untuk memeriksa kasus Mohamedou karena dia memiliki izin keamanan dari kasus sebelumnya dan dapat mengajukan pertanyaan yang tidak bisa Emmanuel tanyakan ke Pemerintah Amerika. Nancy setuju untuk memeriksa kasus Mohamedou secara pro bono. Sementara itu, Kolonel Bill Seidel menunjuk Jaksa Penuntut Kelautan Stuart Couch untuk menuntut Mohamedou. Seidel mengatakan bahwa Mohamedou bertempur dengan Al-Qaeda di tahun 90-an dan kemudian merekrut mereka di Jerman. Ia mengatakan bahwa Mohamedou lah yang merekrut teroris yang menerbangkan pesawat teman Stu ke menara Twin Tower di New York dan menabrakannya sampai tower itu runtuh. Nancy dan Teri (rekan pengacaranya) terbang ke Guantanamo untuk bertemu Mohamedou. Mohamedou setuju untuk mempekerjakan mereka sebagai pengacaranya. Sementara itu, Stuart memberitahu timnya untuk memeriksa semua laporan intel yang mereka miliki untuk menguatkan cerita melawan Mohamedou.
Nancy menemukan sesuatu yang mengejutkan melalui surat Mohamedou yang diterimanya sementara Stu melihat MFR (Memorandum for the Record), menunjukkan dengan tepat apa yang terjadi. Surat dan laporan tersebut berbicara tentang peningkatan perlakuan penyiksaan termasuk serangan seksual terhadap Mohamedou oleh penjaga Guantanamo seperti yang diperintahkan oleh Jenderal Mandel. Jenderal Mandel juga mengancam akan menangkap dan memperkosa ibunya. Jadi, untuk menyelamatkan ibunya, Mohamedou memberikan pengakuan palsu tentang menjadi teroris.
Pada bulan Desember 2009, di persidangan Mohamedou bersaksi melalui komunikasi video ke pengadilan tentang penyiksaan yang dialaminya. Pada bulan Maret 2010, Mohamedou mendapat surat yang memberitahukan bahwa kasusnya berhasil dimenangkan, dan hakim telah memerintahkan Guantanamo agar Mohamedou dibebaskan karena penahanannya tidak sah dan pengakuannya terjadi karena siksaan, bukan pengakuan yang benar. Namun Pemerintahan Obama naik banding, sehingga terjadi penundaan pembebasan Mohamedou selama 7 tahun lagi sebelum dia benar-benar dibebaskan. Dalam penjara, Ibunya meninggal pada tahun 2013 sehingga Mohamedou tidak pernah melihatnya lagi. Ia akhirnya dibebaskan pada tahun 2016, setelah menghabiskan 14 tahun di penjara tanpa pernah didakwa, karena Pemerintah Amerika tahu bahwa ia tidak bersalah dan bukanlah seorang teroris.
Pada 2005, Mohamedou menulis memoar saat ditahan. Naskah setebal 466 halaman itu ditulis dalam bahasa Inggris, bahasa yang dipelajarinya selama ditahan di Guantanamo. Setelah litigasi dan negosiasi, pemerintah Amerika mendeklasifikasi memoar itu enam tahun kemudian, dengan banyak editan dan revisi serta sensor tentunya. Kutipan memoar itu diterbitkan oleh majalah Slate sebagai serial tiga bagian mulai 30 April 2013. Pada 1 Mei 2013, majalah Slate juga menerbitkan wawancara terkait dengan Kolonel Morris Davis, kepala jaksa militer di Guantanamo yang menjabat antara September 2005 hingga Oktober 2007.

Memoar Mohamedou itu kemudian diterbitkan menjadi buku yang berjudul Guantanamo Diary pada Januari 2015. Ini adalah karya pertama seorang tahanan yang masih dipenjara di Guantanamo. Buku ini memberikan rincian interogasi dan penyiksaan keras terhadap Mohamedou termasuk dicekok paksa minum air laut, dilecehkan secara seksual, menjadi sasaran eksekusi pura-pura dan berulang kali dipukuli, ditendang dan dihancurkan pada bagian wajahnya, semua dibumbui dengan ancaman bahwa ibunya akan dibawa ke Guantanamo dan diperkosa beramai-ramai. Guantanamo Diary kemudian menjadi buku terlaris internasional. Namun petugas penjara mencegah Mohamedou menerima salinan buku yang telah diterbitkan itu.
Buku Guantanamo Diary itu kemudian diadaptasi menjadi sebuah film yang berjudul The Mauritanian disutradarai oleh Kevin Macdonald, dan dibintangi oleh Jodie Foster sebagai Nancy Hollander, Tahar Rahim sebagai Mohamedou Ould Slahi, Shailene Woodley sebagai Teri Duncan dan Benedict Cumberbatch sebagai Letnan Kolonel Stuart Couch. Film itu dirilis pada 12 Februari 2021, dan saat ini sudah dapat ditonton pada bioskop-bioskop di Indonesia. Filmnya bagus dan mendapat 2 nominasi Golden Globe, sangat layak tonton. Pada bagian akhir film ada cuplikan adegan dari Mohamedou yang asli ketika tiba kembali di Mauritania. Suatu adegan yang membuat kita menitikkan air mata.
Pada akhirnya Mohamedou hidup bahagia dan menetap di Mauritania. Ia menikah pada 2018 dengan seorang pengacara Amerika. Mereka memiliki seorang bayi laki-laki, Ahmed, tetapi belum dapat hidup bersama sebagai sebuah keluarga dan berharap sebuah negara akan memberi mereka perlindungan dan kewarganegaraan. Saat ini Nancy dan Teri masih bekerja sebagai pengacara yang bekerja melawan ketidakadilan, terlihat pada film – kita disuguhkan rekaman adegan Mohamedou asli memberi mereka kalung dengan nama mereka dalam bahasa Arab. Mengharukan.***