Search
Close this search box.

SKETSA | Indra Lesmana

Bagikan :

Oleh Syakieb Sungkar 

HIDUP itu kadang seperti film, ada peristiwa, adegan, kilas balik, memori, pertemuan-pertemuan, yang membentuk sebuah kisah. Kisah itu dapat diputar ulang dalam versi dan urutan yang berbeda karena adanya sudut pandang baru, pengetahuan, dan kedewasaan. Namun yang tidak berubah dari ‘film’ yang kita ciptakan itu adalah ilustrasi musiknya. Mengiringi adegan masa lalu yang berkelebat di memori kita munculah musik yang terkait dengan peristiwa itu. Di antara musik yang mengiringi hidup saya adalah lagu-lagu yang dibuat Indra Lesmana. Indra Lesmana adalah anak ajaib yang di umur 10 tahun sudah pandai bermain piano dan diajak tampil bersama ayahnya, Jack Lesmana, di Bandung pada bulan Maret 1976. Dua bulan kemudian, bertempat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Indra bermain keyboard dalam sebuah konser jazz yang melibatkan musisi senior di samping Jack Lesmana seperti Benny Likumahuwa, dan penyanyi Broery Marantika. Dua tahun kemudian ia disekolahkan ayahnya di New South Wales Conservatory School of Music, Sydney. Demi menemani Indra yang masih berusia 12 tahun ketika itu, Jack Lesmana bersama keluarga boyongan ke Australia.

Gambar 1 – Indra Lesmana (sumber: celebrities.id).

Jack Lesmana sendiri adalah pemain gitar jazz terkemuka Indonesia yang pada kenangan masa kecil saya muncul di televisi sebulan sekali dalam acara “Nada dan Improvisasi” antara tahun 1969-1979. Tubuhnya gempal dengan rambut ikal yang hampir kribo dan selalu tersenyum. Raut wajahnya diturunkan ke Indra, sehingga ketika tampil di Indra Lesmana Concert kemaren, 27 Agustus 2022, saya jadi teringat akan ayahnya. Ayahnya tampil biasanya dengan formasi Oele Pattiselanno, Benny Likumahuwa, Buby Chen dan Karim Suweileh yang memainkan drum. Hasil dari penampilan konsisten Jack Lesmana itu memang luar biasa, musik jazz kemudian booming di Indonesia. Musik Indonesia yang dulunya bergaya Koes Plus kemudian berakhir dengan munculnya Gang Pegangsaan yang menampilkan gaya musik yang digariskan Guruh Soekarno Putra, Eros Djarot, Chrisye, Keenan Nasution dan Fariz RM pada tahun 1977. Dan mereka tergerus juga dengan demam jazz sehingga musik Gang Pegangsaan ala progressive rock kemudian berganti dengan lagu-lagu jazzy melalui bungkus “pop kreatif”. Di tahun 80an, tanpa jazz pertunjukan menjadi kurang afdol. Kecenderungan itu juga muncul di kampus-kampus. Saya teringat di suatu hari tahun 1980 ada panggung jazz didirikan di depan Fakultas Kedokteran UI untuk mendukung Broery Marantika dan Harvey Malaiholo tampil menyanyikan “Just the Way You Are” yang sedang hit ketika itu.

Baca Juga :  Sheila On 7 Rayakan 30 Tahun Lewat Lagu Sederhana

Demikian pula pemancar radio KLCBS di Bandung setiap waktu mengumandangkan musik jazz tanpa jeda iklan, sehingga membuat para mahasiswa stay on tune di saluran itu sambil membuat tugas kuliah. Chick Corea dan Harbie Hancock yang beraliran fusion jazz selalu muncul dalam urutan lagu KLCBS. Album Indra Lesmana “Children of Fantasy” tahun 1981 merupakan sekumpulan musik indah dengan pengaruh yang kuat dari kedua pemusik fusion jazz itu. Album tersebut dibuat ketika mereka – Jack dan Indra Lesmana – sedang rehat dari Australia dan berkunjung sejenak ke Indonesia. Tiga tahun kemudian, Indra membuat “No Standing”, album yang sama bagusnya, namun kali ini rilisnya di Amerika, yaitu di Zebra Records, perusahaan rekaman cabang dari MCA Records. Indra pindah ke Amerika Serikat tahun 1985.

Kembali ke Indonesia, Indra banyak berkolaborasi dengan musisi jazz tanah air. Misalnya dengan Gilang Ramadhan yang telah beberapa kali membuat kelompok musik dan album bersama, di antaranya mereka tergabung dalam PIG (bersama Pra Budi Dharma), Java Jazz (bersama Mates, Donny Suhendra dan Embong Rahardjo). Indra banyak terlibat dalam banyak sekali album musik. Ia mulai aktif membuat lagu sejak tahun 1976, selama 47 tahun berkarya tercatat telah menciptakan lebih dari 200 komposisi original, dan hampir 93 album, dengan 18 di antaranya merupakan album solo. Indra juga menggarap album soundtrack “Rumah Ketujuh”, yang diproduseri kakaknya, Mira Lesmana, di mana lagu-lagu dalam album tersebut pekat dengan irama main stream jazz. Selain itu, Indra pun memproduseri beberapa album artis kenamaan tanah air, seperti Titi DJ (album “Ekspresi”), Ermy Kulit (album “Saat yang Terindah”), dan Sophia Latjuba (album “Hanya Untukmu” dan “Tiada Kata”) yang kemudian dinikahinya (1992-1993).

Baca Juga :  Menteri PPPA Klarifikasi Usulan Gerbong Wanita KRL
Gambar 2 – Poster konser Indra Lesmana (sumber: tiket konser).

Dalam konser tunggal Indra Lesmana 27 Agustus 2022 lalu, Indra menyiapkan 54 lagu untuk ditampilkan namun hanya dinyanyikan kurang dari setengahnya saja dalam pagelaran yang berlangsung 3 jam itu. Sisanya akan dimainkan di kota-kota lain seperti Bandung dan Surabaya. Konser dilakukan di Jakarta International Theatre, suatu gedung pertunjukan megah di kawasan Kemayoran Jakarta. Jakarta International Theatre adalah tempat yang besar dan representatif dengan kualitas akustik yang prima serta tata lampu mewah. Sehingga gedung itu sangat mendukung konser besar yang melibatkan banyak arranger seperti Tohpati dan pemain musik di panggung. Indra mengajak banyak bintang tamu dalam konser ini. Ada Eva Celia, Monita Tahalea, Lyodra, Ardhito Pramono, Teza Sumendra, Tompi, Once, Kaka Slank, Dewa Budjana, Maliq and D’essential, Java Jazz, dan ILP (Indra Lesmana Project). Taba Sanchabakhtiar menjadi Art Director, Hanny Lesmana menjadi Show Director, dan Indra Lesmana sendiri bertindak sebagai Music Director dalam rangkaian konser ini. Indra Lesmana dan Senyawa Entertainment membentuk sebuah orkestra dengan orientasi music jazz dan pop, dimana Adra Karim berperan sebagai COO. Orkestra yang berjumlah 60 orang tersebut diberi nama Indonesia Legacy Orchestra. Aksan Sjuman bertindak sebagai konduktor dalam orkestra ini.

Gambar 3 – Panggung pertunjukan Indra Lesmana (sumber: dok. pribadi).

Gedung itu hampir penuh seluruhnya karena tiketnya sold out dan para penonton hafal dengan semua lagu-lagu yang ditampilkan. Barangkali mereka terkenang dengan masa-masa indah ketika lagu itu muncul di radio belasan tahun lalu, sebuah kenangan yang diiringi ilustrasi musik karya Indra Lesmana. Karenanya, jangan lewatkan konser ini yang akan berlangsung di Bandung pada 23 September 2022.***

Baca Juga :  Cerezo Osaka Bidik Kebangkitan, Nagasaki Incar Kemenangan Beruntun

Baca Berita Menarik Lainnya :