SKETSA | Masriadeep

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

BERUNTUNG komunitas seni rupa Indonesia mempunyai 3 pemrakarsa pameran besar-besaran, yaitu Artjog yang ada di Yogyakarta dan 2 lagi di Jakarta: Art Jakarta dan Art Moment. Artjog berlangsung setiap tahun pada bulan Juli, Art Jakarta pada bulan Agustus, sedangkan Art Moment pada bulan November. Di sanalah kita dapat melihat keramaian pameran dan perdagangan karya seni rupa Indonesia dan Asia. Bagi pecinta seni rupa, event itu merupakan peristiwa penting karena kita dapat mengupdate trend dan perkembangan seni rupa Regional. Namun sejak pandemi, kegiatan itu meredup. Barulah Agustus 2022 lalu terjadi lagi suatu event besar Art Jakarta yang berlangsung di JCC Senayan. Kebetulan saya anggota Board of Patrons dari Art Jakarta, sehingga wajib hadir di acara tersebut.

Ada 62 galeri yang ikut berpameran, yaitu 39 galeri dari Indonesia, dan 23 galeri dari luar negeri (Asia Tenggara, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang). Membutuhkan waktu seharian kalau ingin memperhatikan satu per satu karya yang dipajang oleh seluruh galeri tersebut. Belum lagi setelah 3 tahun tidak bertemu, yang terjadi adalah temu kangen antar pengunjung dan pengelola galeri serta senimannya itu sendiri. Forum itu menjadi ajang selfie untuk kemudian diupload pada Instagram dan Facebook masing-masing. Sehingga pulangnya dari acara itu menjadi malam hari karena tegur sapa yang tiada habis.

Ada kejadian menarik yang memicu saya untuk melukis momen tersebut. Yaitu ketika saya melewati Gajah Gallery yang membuka booth di Art Jakarta, dengan beberapa seniman yang sudah menjadi binaan, seperti Yunizar dan Erizal. Dahulu Gajah Gallery terkenal karena mempunyai seniman favorit yang bernama I Nyoman Masriadi. Di tahun 2006, lukisan Masriadi berukuran panjang 2 m hanya berkisar Rp 25-40 juta saja tiap lembarnya. Tetapi mulai tahun 2007 Masriadi sudah mempunyai manajemen dengan Jasdeep Sandhu sebagai art dealer. Karya-karya Masriadi kemudian dikirim ke Singapura, tepatnya ke Gajah Gallery yang waktu itu berlokasi di MICA building, sebuah gedung yang berisi banyak galeri seni bercokol disitu. Jasdeep sebagai pemilik Gajah Gallery kemudian akan memasarkan karya-karya Masriadi dengan cara mengundang para kolektor bertandang ke galerinya.

Baca Juga :  Diduga Sopirnya Mabuk, Angkot Seruduk Sejumlah Pengendara di Ciparay-Baleendah

Memang setiap tahun ketika itu ada Art Stage Singapore yang dikelola oleh Lorenzo Rudolf. Di sana galeri-galeri dunia berkumpul untuk memperlihatkan karya seni yang sedang hit. Sehingga Art Stage Singapore menjadi tempat berkumpul para kolektor yang sebagian besar dari Indonesia. Di sanalah Jasdeep ‘mencegat’ para kolektor untuk berkunjung ke MICA. Saya juga berkunjung ke Gajah, dan Jasdeep dengan ramah akan berpromosi tentang masa depan Masriadi yang akan dikembangkannya. Ia berjanji karya Masriadi akan menjadi koleksi museum-museum dunia dan Masriadi akan dibuatkan sebuah buku serta pameran tunggal. Di sana saya melihat ada sebuah karya Masriadi yang gayanya sudah berbeda dibanding yang dulu. Lukisan Masriadi yang berjudul “Jago Neon”, bertengger disitu dan menjadi item display promosi Gajah gallery. Ia menjelaskan bahwa karya itu sudah dibeli oleh kolektor lain. Tetapi kalau berminat dengan karya Masriadi dapat memesan dengannya. Sehingga saya tertarik untuk membeli dan memesan. Jasdeep ketika itu menjanjikan dalam sebulan karya baru akan siap dan ia menentukan harganya sebesar Rp 125 juta,-

Namun sebulan kemudian ia menelpon bahwa lukisan pesanan saya sekarang harganya sudah naik menjadi Rp 250 juta,- berhubung di lelang hammer price Masriadi sudah mencapai Rp 400 juta,- Saya mengiyakan saja harga yang baru itu, tapi dengan catatan jangan naik lagi. Saya meminta ada perjanjian di atas kertas soal pesanan saya itu. Tapi ia menolak. Dengan ditambahkan kata-kata, “Sure boss, I promise. Masriadi painting will be delivered to You”. Sebulan kemudian saya menagih dong, soal lukisan pesanan saya itu. Tetapi dijawab begini, “Sorry boss, I can’t decide how much Masriadi price right now, because …. You know, Masriadi in the auction hit Rp 1 billion,- It’s crazy.” Saya berkesimpulan bahwa orang ini akan menyalurkan Masriadi langsung ke Balai Lelang, tidak lagi ke kolektor. Tetapi, buat saya no problem, ini kan masalah bisnis, bukan lagi masalah seni. Dan memang lukisan Masriadi harganya naik terus di Balai Lelang. Jasdeep memainkan Masriadi tidak lagi di Balai Lelang lokal tetapi sudah ke Shoteby’s dan Christie’s. Pada lelang Christie’s di Hongkong tertanggal 30 November 2008 — yang saya hadir ketika itu – lukisan Masriadi yang berjudul “Marathon” berukuran 4 meter terjual HK$ 2,060,000 atau sekitar Rp 4 Milyar. Luar biasa. Berhubung saya orangnya praktis, kalau tidak dapat lukisan Masriadi dari sumbernya, maka saya akan ikut arus, yaitu menjual koleksi Masriadi yang saya punya. Ada 8 karya Masriadi yang kemudian saya jual ke Balai Lelang. Hasilnya lumayan.

Baca Juga :  25 Wartawan Ikuti Persiapan UKW di Taman Love Sadu

Demikianlah, Jasdeep berselancar dengan penjualan Masriadi sampai sepuluh tahun lamanya. Dan saya mendengar, dalam setiap penjualan, Jasdeep mendapat komisi 50%. Sebuah bisnis yang menggiurkan bagi seorang art dealer. Namun kerjasama itu kemudian berakhir tanpa banyak orang ketahui apa sebabnya. Yang orang luar ketahui adalah perjanjian itu berujung dalam situasi yang kurang baik. Dan mereka tidak lagi bertegur sapa setelah itu. Lukisan Masriadi pun kemudian tidak banyak muncul di pasaran. Penjualannya pun di Balai Lelang menjadi tidak bagus, banyak unsold. Market kemudian berganti dengan superstar baru, seperti Ay Tjoe Christine yang harganya sudah melampaui rekor Masriadi. Masriadi sendiri pun adalah jenis orang yang pendiam dan tidak banyak bergaul dengan dunia luar, sehingga ia seperti menghilang begitu saja.

Nah, dalam acara Art Jakarta yang baru lalu, Masriadi tiba-tiba muncul. Sungguh suatu kejutan. Para kolektor dan pecinta seni kemudian mengajak berfoto bersama, karena kangen dengan tokoh yang satu ini, ia baru keluar lagi turun ke dunia persilatan. Kepada saya, Masriadi mengatakan bahwa sekarang karya-karyanya hanya berukuran kecil saja, dengan ukuran 1 m2 ke bawah. Saya menduga ia akan come back dengan harga baru yang lebih murah tetapi ukurannya lebih kecil agar market dapat menyambutnya. Saya juga melihat bahwa market sebenarnya masih antusias dengan karya-karya Masriadi, tinggal bagaimana ia akan menunjuk seseorang yang dapat mempopulerkan dirinya kembali. Bagaimana dengan Jasdeep? Saya berpapasan dengannya ketika ia menunggui stand. Galeri Gajah menyewa space yang cukup besar di perhelatan tersebut. Sosok tinggi besar dengan wajah Indianya yang gelap terlihat over pede dengan setelan jas seperti biasanya. Namun tidak banyak orang yang mampir ke Gajah. Berbeda dengan sambutan orang terhadap Masriadi yang sering diajak berselfieria oleh pengunjung.

Baca Juga :  Berawal di Shenzhen, "Huawei Cloud Carnival" Segera Menjangkau Kota-Kota Lain di Seluruh Dunia

Melihat itu saya tiba-tiba muncul ide untuk membuat sebuah lukisan yang bergaya Masriadi. Di mana adegan di dalam lukisan tersebut mengambil salah satu tema yang banyak dibuat Masriadi yaitu soal tinju. Saya membayangkan Masriadi dan Jasdeep sedang bersiap-siap bertanding di ring dengan persenjataan yang lengkap. Masriadi, selain membawa pedang, ia membawa sekumpulan kuas lukis yang terselempang pada pinggangnya. Sementara Jasdeep nampak membawa persenjataan yang berlebihan untuk persiapan laga. Ring tinju yang saya buat dipenuhi oleh penonton dari komunitas seni. Dalam lukisan ini akan terlihat wajah-wajah karikatural yang mudah dikenali, kalau kita memang aktif di dunia senirupa yang cukup sempit keanggotaannya itu.

Gambar 1 – Syakieb Sungkar, “Masriadeep”, 2022.

Ketika ide itu muncul, saya ingin buru-buru pulang meninggalkan Art Jakarta. Sesampai di studio, saya langsung menyeket apa yang ada dalam pikiran saya itu. Saya memberi judul “Masriadeep” yang merupakan kata gabungan dari Nyoman Masriadi dan Jasdeep Sandhu. Hasilnya memang cukup kocak. Masriadi terlihat mengerling ke arah Jasdeep dengan gestur percaya diri yang tangannya bertumpu pada sebuah pedang. Sementara Jasdeep terlihat senyum tertahan dengan ular cobra bertengger di sebelah kepalanya, melambangkan kemampuannya bersilat lidah. Tubuh ular yang berwarna hijau itu melilit pinggangnya. Pada bagian kanan, saya membuat senderan ring dengan kolase Balai Lelang Christie’s dan Shoteby’s yang saya sarankan untuk dicheck. Karena mereka pernah menyematkan belt “Price Champion” ke Masriadi yang terpasang di pinggangnya. Selanjutnya, silahkan menikmati lukisan ini.***

  • Penulis, pengamat seni dan pernah menjadi juri dalam Bandung Contemporary Art Award (BaCAA), mantan executive di beberapa perusahaan telekomunikasi, pernah bersekolah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020), menulis buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018), dan buku “Seni Sebagai Pembebasan” (2022), pernah berpameran tunggal lukisan di Galeri Titik Dua, Ubud (2021), saat ini menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi (jurnaldekonstruksi.id)

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Resmikan Kantor MUI Jateng, Wapres Minta Ulama Terus Tegakkan "Khittah Ishlahiyah"

Ming Sep 25 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | SEMARANG – Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin meresmikan gedung kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah (Jateng) di Aula Masjid Raya Baiturrahman, Jl. Pandanaran No. 126, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (23/09/2022). Seiring dengan berdirinya gedung baru yang diberi nama Gedung KH Dr Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh […]