Oleh Idat Mustari
DIBALIK kesempurnaan manusia, ternyata manusia adalah mahluk yang lemah. ( QS.An Nisa : 2). Pepatah Arab “Al Insaan mahalul khatha’ wan nisyan”.
Manusia adalah tempat salah dan lupa. Selalu ada kekurangan dan kelebihan dalam dirinya. Pasti pernah salah dan khilaf, tak ada yang suci dari noda dan dosa.
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat dari kesalahannya”. (HR. At Tirmidzi)
Kesadaran diri sebagai manusia yang tak sempurna seharusnya menggugah jiwa untuk menghapus segala kesombongan diri. Keangkuhan, merasa lebih kaya, lebih kuasa, lebih berilmu tak boleh tersimpan dalam dada.
Ingatlah bagaimana ketika Musa diperintakan oleh Allah “Hai Musa, jika nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia”.
Berbulan-bulan Musa AS mencarinya tak kunjung menemuinya, selalu saja ia temukan kelebihan dari orang lain dibandingkan dirinya. Hingga ketika Musa as kembali bertemu dengan Allah SWT, Allah pun bertanya, “Hai Musa, mana yang Aku perintahkan kepadamu untuk kau bawa?.
Nabi Musa as menjawab,“Tuhanku, aku tidak menemukan seorangpun yang membuat aku merasa lebih baik dari dirinya”.
Allah SWT berfirman, “Demi KeagunganKu dan KebesaranKu, sekiranya kamu datang kepadaku dengan membawa seseorang yang kamu pikir kamu lebih baik daripadanya, Maka Aku Tuhanmu akan menghapus namamu dari daftar kenabian”.
Menyadari bahwa tak ada manusia yang sempurna, seharusnya memperluas rasa pemaaf, toleran dalam jiwa pada orang lain, plus sikap lebih hati-hati kepada orang lain, sebab yang dihadapan kita adalah manusia bukan malaikat.
(Penulis, aktifis dan pemerhati sosial agama)