TAUSIAH: Manajemen Waktu Menurut Islam (3)

Editor :
Ilustrasi orang berjalan di padang pasir./dok./net.

Silahkan bagikan

Oleh Wardani

VISI.NEWS – Mungkin kita bisa mengatakan bahwa kesulitan adalah bagian ritme atau irama kehidupan. Tidak pernah ada hidup tanpa masalah sama sekali, entah kecil atau besar.

Dalam ungkapan Alquran: “karena sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan” (fa inna ma’a al-‘usr yusran, inna ma’a al-‘usr yusran).

Ada tips Alquran untuk mengurangi kesedihan kita dalam menghadapi cobaan itu, yaitu dengan kerja. Oleh karena itu, dalam ayat selanjutnya disebutkan “jika kamu selesai (dari suatu aktivitas), maka tegaklah/ bersiaplah (untuk melakukan hal lain)” (fa idzâ faraghta fanshab).

Lalu, sandarkan semuanya kepada Tuhan karena dalam ayat terakhir disebutkan “dan kepada Tuhanmu lah, berharaplah” (wa ilâ rabbika farghab).

Dalam ayat ini, kerja adalah suatu keniscayaan, bukan semata untuk kepentingan material, yaitu menghasilkan uang, melainkan secara psikologis, dengan kesibukan kita dalam kerja, sebagian persoalan yang kita hadapi bisa teratasi.

Di ayat terakhir, ketika Allah SWT menyuruh kita untuk berharap hanya kepada-Nya, itu artinya bahwa tidak hanya kerja sebagai upaya “humanisasi” (pemanusiaan), dalam pengertian kerja sebagai upaya rasional untuk menghidupi kehidupan, melainkan kerja bukan sebagai tujuan.

Diperlukan upaya menyandarkan segala upaya, yaitu setelah kita lebur dalam kerja, kepada Tuhan sebagai upaya yang disebut orang sebagai “transendensi”.

Kita kembali ke persoalan sabar. Jadi, sabar atas segala cobaan bisa diatasi dengan kerja. Itu juga sekaligus artinya bahwa sabar tidak identik dengan berdiam diri (fatalis).

Ingat bahwa ayat “wa in tshbirû wa tattaqû, fa inna dzâlika min ‘azm al-umûr” yang turun setelah perang Uhud mengisyaratkan kepada kita bahwa kekalahan kaum muslim dalam perang itu adalah karena mereka tidak bersabar dalam pengertian bahwa seharusnya pasukan berpanah bertahan di atas bukit di posnya, bukan turun untuk merebut rampasan perang yang menyebabkan kaum musyrik berbalik dan menyerang kembali sehingga keadaan menjadi terbalik, kaum muslim yang sudah mendekati kemenangan menjadi kalah.

Sabar dalam konteks itu adalah konsisten dengan petunjuk Nabi dan bertahan adalah sebuah strategi perang, bukan berdiam diri.

Dengan demikian, waktu adalah sangat penting dan berharga. Oleh karena itu, Islam memerintahkan umatnya agar menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

Dalam ayat yang dikutip di atas, “fa idzâ faraghta fanshab” terkandung makna bahwa setelah selesai dari suatu aktivitas, hendaklah “tegak” (fanshab). “Tegak” memiliki pengertian bersiap untuk melakukan aktivitas lain.

Istirahat juga bisa dilihat sebagai persiapan untuk melanjut aktivitas yang telah dilakukan, atau melakukan aktivitas lain. Istirahat sebenarnya adalah persiapan menuju aktivitas lain. Bahkan, waktu senggang atau waktu rehat bisa dimanfaatkan untuk aktivitas ringan.

Kita telah mengetahui bahwa beberapa penemuan penting di dunia ini oleh para ilmuwan justru dihasilkan di waktu senggang, seperti hukum gravitasi Newton.

Seperti Pedang

Konon, salat bagi Nabi adalah sebuah bentuk istirahat. Kata tarâwîh pada salat tarâwîh yang biasa kita laksanakan pada malam bulan Ramadan juga berkonotasi istirahat karena dilakukan dengan penuh khusyuk dan khidmat sehingga mendatang efek relaksasi terhadap jiwa kita.

Waktu merupakan hal yang sangat berharga. Orang Arab mengenal pepatah berikut: Al-waqtu kassaif, fa in lam taqtha’hu qatha’aka
(Waktu adalah seperti pedang, maka jika kamu tidak menebaskannya, ia yang akan menebasmu).

Pepatah ini lebih merupakan perumpamaan tentang betapa pentingnya waktu karena waktu selalu berjalan tanpa kompromi. Waktu yang telah berlalu, tak pernah akan kembali.

Jika kita tidak menggunakan waktu, dalam pengertian berbagai kesempatan, seperti peluang untuk sukses dan berprestasi, bisa jadi kesempatan itu tak akan kunjung lagi.

Waktu seperti “deterministik” dalam pengertian menentukan nasib manusia tanpa kompromi. Tinggal manusia yang memanfaatkan waktu, atau jika tidak, waktu yang akan melindas manusia. Yang dimaksud dengan “terlindas waktu atau zaman” adalah kita dikendalikan oleh waktu.

Dalam istilah Mahmud Thâhâ, seorang pemikir Sudan, waktu memiliki hukum yang disebut dengan “hukum waktu” (hukm al-waqt) atau determinisme zaman. Misalnya, ketika pemerintah menerapkan pendidikan 9 tahun dan kebijakan itu merata, serta hajat hidup manusia akan taraf pendidikan semakin meningkat, orang yang tidak mengikutinya akan tertinggal. (bersambung)/@fen/sumber: www.uin-antasari.ac.id

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kemenag Harap Pembukaan Umrah Kurangi Jemaah Tertunda

Sen Jan 4 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Kementerian Agama (Kemenag) telah memberikan surat edaran agar Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) memprioritaskan memberangkatkan jemaah umrah yang tertunda. Hal ini penting agar jemaah yang tertunda keberangkatannya jumlahnya terus berkurang. “Sudah sebelumnya (Kemenag membuat surat edaran kepada PPIU agar pada pembukaan umrah ini diprioritaskan jemaah umrah yang […]