VISI.NEWS | KAB. BANDUNG – Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata di Kabupaten Bandung, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Industri Kreatif Universitas Telkom mengadakan program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Pengenalan Phonetic Symbols dan Bahasa Inggris Kontekstual dalam Dunia Pariwisata.” Kegiatan ini digelar pada Rabu, 25 Juni 2025, bertempat di Gedung PKDP, Komplek GSB, Jl. Al Fathu, Soreang, Kabupaten Bandung.
Program ini merupakan kolaborasi Universitas Telkom dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bandung, yang menyasar komunitas SNAPSHOT, yaitu komunitas fotografer binaan Disbudpar. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berbahasa asing, khususnya Bahasa Inggris, yang sangat penting dalam pelayanan wisata.
Pelatihan diberikan dalam dua sesi utama dan diikuti oleh 30 peserta dari komunitas tersebut. Sesi pertama berjudul “Pengenalan dan Pelatihan Phonetic Symbols Bahasa Inggris untuk Pemandu Wisata di Komunitas Snapshot”, disampaikan oleh Yelly Andriani Barlian, S.S., M.Pd., bersama tim yang terdiri dari Dr. Ira Wirasari dan Bambang Melga Suprayogi, S.Sn., M.Sn.
“Pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan International Phonetic Alphabet (IPA) dan cara penggunaannya. Kami ingin peserta dapat memahami dan menggunakannya sebagai rujukan ketika menemukan kata-kata Bahasa Inggris yang sulit diucapkan,” ujar Yelly Andriani Barlian dalam presentasinya.
Metode pelatihan disusun secara interaktif, dengan memberikan fokus pada persoalan pelafalan yang kerap menjadi hambatan bagi masyarakat Sunda dalam belajar Bahasa Inggris. Hal ini disebabkan Bahasa Inggris bukanlah bahasa fonetik seperti Bahasa Indonesia. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman dan kemampuan artikulasi peserta.
Sesi kedua bertajuk “Pengenalan Bahasa Inggris untuk Tour Guide di Komunitas Snapshot”, dibawakan oleh Sri Nurbani, S.Pd., M.Hum., bersama dua anggota timnya, Sri Soedewi, M.Sn., dan Asep Kadarisman, M.Sn. Sesi ini berfokus pada penggunaan ekspresi khusus dalam dunia pariwisata melalui metode diskusi dan simulasi peran (role-play).
Dengan pelatihan ini, peserta tidak hanya belajar teori fonetik tetapi juga mempraktikkan langsung dalam konteks situasi nyata, seperti saat melayani turis asing. Hal ini diharapkan meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris.
Program ini pun mendapat sambutan positif dari peserta yang berharap ada tindak lanjut dari pelatihan serupa di masa mendatang. Kegiatan ini dianggap sebagai kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung sektor pariwisata lokal melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Secara lebih luas, kegiatan ini menjadi langkah penting dalam hilirisasi pendidikan tinggi ke masyarakat. Dengan kemampuan komunikasi yang lebih baik, para pemandu wisata di Kabupaten Bandung diharapkan mampu bersaing di tingkat global dalam mempromosikan kekayaan wisata lokal.
@bambang melga