VISI NEWS | KAB. BANDUNG – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta China dan Taiwan sama-sama menenangkan diri di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua pihak. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara bersama Fo61News yang disiarkan Jumat(15/5/2026)
“Saya tidak ingin ada satu pihak saja yang merdeka, lantas kami harus bepergian jauh untuk berperang. Saya mau Taiwan menenangkan diri, begitu pula China,” kata Trump.
Dalam wawancara tersebut, Trump juga belum memberikan kepastian terkait rencana pengiriman senjata bernilai miliaran dolar AS kepada Taiwan. Ia menyebut keputusan itu masih akan dipertimbangkan lebih lanjut.
“Kita lihat apa yang akan terjadi nanti,” tambahnya.
Trump turut menanggapi pertanyaan mengenai apakah Taiwan seharusnya merasa lebih aman atau justru kurang aman setelah dirinya bertemu Presiden China Xi Jinping. Menurut Trump, Taiwan sebaiknya mengambil posisi netral di tengah situasi yang berkembang.
“Kami berdiskusi semalaman soal isu itu,” kata Trump.
Ia mengungkapkan bahwa isu Taiwan menjadi salah satu topik utama dalam pembahasannya bersama Xi Jinping. Trump menyebut Xi menganggap persoalan Taiwan sebagai isu paling penting bagi China.
“Saya pikir mereka tidak akan melakukan apa pun saat saya ada. Tetapi, saat saya sudah tidak ada, mungkin mereka akan melakukannya,” kata Trump.
Selain membahas geopolitik, Trump juga menyinggung industri semikonduktor Taiwan. Ia menyatakan keinginannya agar lebih banyak perusahaan chip asal Taiwan memindahkan operasionalnya ke Amerika Serikat.
“Kami sudah menerima banyak sekali perusahaan chip dari Taiwan datang kemari,” kata Trump.
Trump menambahkan pemerintah AS menargetkan sekitar 40 hingga 50 persen industri chip dunia berada di Amerika Serikat pada akhir masa jabatannya. Ia juga menyalahkan pemerintahan AS sebelumnya atas berkembangnya industri chip Taiwan.
“Semuanya adalah tentang perusahaan chip kami. Mereka mencuri industri chip kami,” kata Trump.
Pernyataan Trump disampaikan di tengah ketegangan yang terus meningkat antara China dan Taiwan. Sebelumnya, Xi Jinping menegaskan bahwa perdamaian di Selat Taiwan tidak dapat berjalan berdampingan dengan kemerdekaan Taiwan.
“Menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan adalah kesamaan terbesar antara kami,” kata Xi.
Amerika Serikat sendiri diketahui masih menjadi pemasok senjata terbesar bagi Taiwan. Pada 2025, Washington menyetujui penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS atau sekitar Rp193 triliun kepada Taipei, yang kemudian memicu protes dari Beijing.
China memandang Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri, sedangkan Taiwan menganggap dirinya telah merdeka sejak 1949.