Search
Close this search box.

Trump Pertimbangkan Opsi Militer Saat Iran Menolak

Gedung Mahkamah Agung Amerika Serikat di Washington, D.C., Jumat (20/2/2026), saat pengadilan memutuskan membatalkan sebagian besar kebijakan tarif Presiden Donald Trump karena dinilai melampaui kewenangan konstitusional presiden./source: AP.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut mulai mempertimbangkan langkah militer lanjutan terhadap Iran setelah negosiasi untuk mengakhiri perang menemui jalan buntu. Ketegangan meningkat karena Teheran belum menyetujui proposal yang diajukan Washington.

Media Amerika Serikat Axios, mengutip sumber, melaporkan Trump bertemu dengan tim keamanan pada Senin, 11 Mei, untuk membahas langkah berikutnya dalam perang melawan Iran. Pembahasan itu disebut mencakup kemungkinan melanjutkan aksi militer setelah perundingan dengan Iran tidak menghasilkan kemajuan.

Salah satu sumber menyebut Trump frustrasi karena blokade Iran di Selat Hormuz serta kondisi kepemimpinan Iran yang dinilai tidak satu suara. Perpecahan internal itu disebut menghambat kemampuan Teheran menawarkan konsesi signifikan dalam perundingan nuklir.

Trump sendiri menunjukkan nada keras ketika berbicara kepada awak media di Gedung Putih. Ia menyebut situasi gencatan senjata dengan Iran sangat rapuh.

“Saya akan mengatakan bahwa saat ini situasinya sangat lemah, seperti berada di ambang kematian,” kata Trump ke awak media di Gedung Putih, Senin (11/5/2026), dikutip AFP.

“Saya akan mengatakan gencatan senjata berada dalam kondisi kritis,” lanjutnya.

Dalam konteks geopolitik, kebuntuan ini memperlihatkan bahwa isu nuklir dan akses Selat Hormuz masih menjadi titik paling sensitif. Amerika Serikat mengusulkan proposal penghentian perang yang mencakup penghentian program nuklir Iran dan pembukaan akses Selat Hormuz. Namun, Teheran menolak pelucutan nuklir tersebut.

Trump menegaskan Washington tidak akan mundur. Amerika Serikat bahkan disebut mempertimbangkan Freedom Project, yakni operasi mengawal kapal melintasi Selat Hormuz sekaligus mencabut kendali Iran atas perairan strategis itu.

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran mengumumkan gencatan senjata dua pekan yang dimulai pada 8 April. Kesepakatan itu kemudian diperpanjang tanpa rincian batas waktu. Kedua negara bersama mediator Pakistan masih berupaya mencari jalan menuju gencatan senjata permanen.

Baca Juga :  Seorang Perempuan Diduga Bunuh Diri di Kontrakan Cikopo Ciparay

Namun, perbedaan sikap soal nuklir dan kontrol Selat Hormuz membuat negosiasi tetap sulit. Jika opsi militer kembali ditempuh, risiko eskalasi di kawasan Teluk berpotensi semakin besar. @desi

Baca Berita Menarik Lainnya :