Search
Close this search box.

VISI | Pepesan Kosong di HGN

Drajat

Bagikan :

Oleh Drajat

  • Doktor Ilmu Pendidikan
  • Wasekjen Komnasdik
  • Hipnoterapis
  • Mindshaper Idonesia
  • Guru SMP N 1 Cangkuang, Kab. Bandung
  • APKS PGRI Prov. Jabar

ADA luka yang tidak kelihatan, tetapi terasa sangat dalam pada profesi guru di negeri ini: luka karena janji. Luka itu tidak berdarah, namun ia menorehkan bekas yang tidak mudah hilang. Setiap kali Hari Guru Nasional (HGN) tiba, luka itu sedikit terbuka lagi—bukan karena ingin diingat, tetapi karena janji-janji lama muncul kembali dalam bentuk yang baru: lebih manis, lebih wangi, tetapi tetap tidak ditepati.

Penulis ingin bercerita, sebuah kisah yang mungkin dialami banyak guru di berbagai daerah. Entah sudah berapa kali penulis diundang sebagai “tamu kehormatan”. Setiap pergantian pemimpin daerah, selalu ada panggilan: “Kami bangga pada Anda yang telah mengharumkan nama daerah.”

Kalimat itu terdengar indah, seperti angin sejuk di tengah panasnya dunia pendidikan. Dalam satu acara besar yang sangat meriah, di mana lampu sorot menyala dan kamera media berdiri berjajar, seorang pemimpin daerah berkata lantang: “Saudara yang berprestasi akan kami berangkatkan ke luar negeri. Bisa untuk jalan-jalan, bisa untuk tugas belajar. Ini hadiah dari daerah!”

Tepuk tangan menggema. Nama penulis disebut di depan khalayak. Bahkan esok harinya berita itu memenuhi media lokal. Komentar demi komentar bermunculan: “Luar biasa! Pemimpinnya peduli pendidikan!”

Penulis dipanggil ke ruang protokol. Diminta tanda tangan. Harapan tumbuh. Hati sedikit menghangat. “Mungkinkah penghargaan seperti ini benar-benar hadir untuk guru?” tanya penulis pelan dalam hati.

Namun semua itu runtuh seketika. Yang diberikan hanyalah secarik sertifikat—kertas tipis berbingkai emas palsu. Tidak ada tiket. Tidak ada program. Tidak ada tindak lanjut. Tidak ada apapun selain kertas dan senyum yang sudah kehilangan makna. Janji itu menguap seperti asap. Yang tersisa hanyalah rasa malu pada diri sendiri karena sempat percaya.

Baca Juga :  Duka dan Empati Mengiringi Tragedi Kereta Bekasi

Cerita itu bukan hanya milik penulis. Banyak guru menyimpannya dalam hati: Ada yang dijanjikan umrah, tetapi hilang tak berbekas. Ada yang dijanjikan kenaikan pangkat, namun berakhir dalam tumpukan berkas yang tidak pernah dibuka. Ada yang dijanjikan insentif, tapi hanya muncul di berita, tidak pernah muncul di rekening. Ada yang dijanjikan beasiswa, namun lenyap bersama berakhirnya seremoni.

Itulah yang disebut pepesan kosong: dibungkus rapi, disajikan dalam perayaan, tetapi ketika dibuka—tidak ada apa-apa di dalamnya. Dan parahnya, pepesan kosong ini diberikan pada profesi yang seharusnya paling dijaga integritasnya: guru.

Guru mengajarkan kejujuran, maka mereka sangat tahu ketika sedang dibohongi. Guru mengajarkan komitmen, maka mereka tahu mana janji yang benar-benar akan ditepati. Guru mengajarkan tanggung jawab, maka mereka sangat peka pada pemimpin yang hanya pandai berbicara.

Setiap Hari Guru Nasional datang, sekolah dipenuhi spanduk, bunga, pita, dan foto-foto seremonial. Siswa memberi ucapan, kolega bercerita tentang perjuangan. Semua itu indah—tetapi sayangnya, sering hanya menjadi hiasan. Sementara di sisi lain: Guru honorer menunggu kepastian nasib, guru berprestasi menunggu janji yang tak kunjung tiba, guru senior masih mencari suara negara di tengah kebisingan politik, serta guru muda mulai ragu apakah profesi ini benar-benar layak diperjuangkan.

Di balik setiap senyum guru di upacara Hari Guru, ada pertanyaan yang tidak pernah benar-benar dijawab: “Kapan negara benar-benar hadir?”

Kita tidak menuntut banyak. Guru bukan meminta fasilitas mewah. Guru tidak menuntut keistimewaan. Guru hanya meminta satu hal sederhana: ketulusan.

Pemimpin sejati bukanlah yang fasih membuat janji di atas panggung. Pemimpin sejati adalah yang berani menepati janji, walau kecil. Pemimpin yang baik tidak menjadikan pendidikan sebagai panggung pencitraan, melainkan sebagai pondasi peradaban.

Baca Juga :  Kapan Hujan Deras Berakhir di Indonesia? Ini Prediksi BMKG

Ketika guru diberi janji yang tidak ditepati, bukan hanya guru yang terluka—tetapi kepercayaan publik ikut runtuh. Dan ketika kepercayaan itu habis, pendidikan akan berjalan tanpa arah, tanpa semangat, tanpa masa depan.

Momentum Hari Guru seharusnya menjadi kesempatan bagi pemerintah—baik pusat maupun daerah—untuk membuktikan bahwa profesi ini dihargai dengan cara yang nyata: Kebijakan yang konsisten, bukan berubah setiap ganti menteri. Penghargaan yang jelas, bukan hanya diumumkan di media. Kesejahteraan yang memadai, bukan sekadar rencana. Perlindungan hukum yang kuat, bukan hanya wacana. Seleksi dan pengangkatan yang adil, bukan sarat kepentingan politik.

Jika semua itu dilakukan, guru tidak membutuhkan janji apa pun. Karena guru hanya butuh kepastian. Menjelang Hari Guru Nasional ini, izinkan suara sederhana dari ruang kelas disampaikan kepada para pemimpin: “Jangan berikan kami pepesan kosong lagi.”

Kami tidak ingin panggung. Kami tidak butuh tepukan yang dipenuhi kamera.

Kami hanya ingin penghormatan yang nyata—penghormatan yang tercermin dalam kebijakan, bukan sekadar kata.
Sebab setiap janji yang diingkari akan melahirkan kecewa. Dan kekecewaan guru adalah kekecewaan bangsa. Jika kita ingin masa depan yang cerah, jangan lukai lagi para penjaga masa depan itu. Jangan melahirkan pepesan kosong berikutnya. Jangan lagi menjadi pemimpin yang menyisakan luka di hati guru.

Pada akhirnya, bangsa ini hanya akan setinggi kualitas gurunya.

Dan kualitas guru hanya akan tumbuh jika negara berdiri di belakang mereka—bukan hanya ketika kamera sedang menyala, tetapi ketika ruang kelas sudah kembali sepi.***

Baca Berita Menarik Lainnya :